Artikel

KH. Achmad Siddiq Pencetus Kembali ke Khitah Nahdlatul Ulama (1926)

25
×

KH. Achmad Siddiq Pencetus Kembali ke Khitah Nahdlatul Ulama (1926)

Sebarkan artikel ini
KH. ACHMAD SIDDIQ
 (Lahir di Jember, 24 Januari 1926 – wafat  23 Januari 1991)

KH. Achmad Siddiq Pencetus Kembali ke Khitah Nahdlatul Ulama (1926)
KH. Achmad Siddiq
KH. Ahmad Siddiq (Lahir di Jember, 24 Januari 1926 – wafat pada 23 Januari 1991 pada umur 64 tahun). Beliau adalah putra bungsu Kyai Shiddiq dari lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf.
Kyai Achmad belajar mengajinya mula-mula kepada Abahnya sendiri, Kyai Shiddiq. Kyai Shiddiq sebagaimana uraian-uraian sebelumnya, dalam mendidik terkenal sangat ketat (strength) terutama dalam hal sholat. Beliau wajibkan semua putra-putranya sholat berjama’ah 5 waktu. Selain mengaji pada abahnya, Kyai Achmad juga banyak menimba ilmu dari Kyai Machfudz, banyak kitab kuning yang diajarkan oleh kakaknya. 
Sejak kecil beliau mengenyam bangku sekolah di Sekolah Rakyat Islam Jember. Kemudian dilanjutkan di Madrasah Salafiyah Pesantren Tebuireng Jombang hingga akhirnya bisa tamat sampai kelas enam. Saat itu pesantren Tebu Ireng dikenal dengan pesantren yang memiliki pengasuh sangat berwibawa di nusantara ini. siapa lagi kalau bukan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Besok ketika KH. Achmad Siddiq ini sudah tumbuh dewasa, ia menjadi salah satu kader KH. Wahid Hasyim, putra KH. Hasyim Asy’ari, ayah dari KH. Abdurrahman Wahid.
Pribadinya yang tenang itu. menjadikan Kyai Achmad disegani oleh teman-temannya. Gaya bicaranya yang khas dan memikat sehingga dalam setiap khitobah, banyak santri yang mengaguminya. Selain itu, Kyai Achmad juga seorang kutu buku/ kutu kitab (senang baca). Di pondok Tebuireng itu pula, Kyai Achmad berkawan dengan Kyai Muchith Muzadi. Yang kemudian hari menjadi mitra diskusinva dalam merumuskan konsep-konsep strategis, khususnya menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nandliyah, Fikroh Nandliyah, dan sebagainya.
Kecerdasan dan kepiaNvaiannya berpidato, menjadikan Kyai Achmad sangat dekat hubungannya dengan Kyai Wahid Hasyim.
Kyai Wahid telah membinbing Kyai Achmad dalam Madrasah Nidzomiyah. Perhatian Gus Wahid pada. Achmad sangat besar. Gus Wahid juga mengajar ketrampilan mengetik dan membimbing pembuatan konsep-konsep.
Bahkan ketika Kyai Wahid Hasyim memegang jabatan ketua. MIAI, ketua NU dan Menteri Agama, Kyai Achmad juga yang dipercaya sebagai sekretaris pribadinya. Bagi Kyai Achmad Shiddiq, tidak hanya ilmu KH. Hasyim Asy’ari yang diterima, tetapi juga ilmu dan bimbingan Kyai Wahid Hasyim direnungkannya secara mendalam. Suatu pengalaman yang sangat langka, lagi seorang santri.
Kyai Achmad Shiddiq termasuk ulama yang berpandangan moderat dan unik sebagai tokoh NU dan kyai, ia tidak hanya alim tetapi juga memiliki apresiasi seni yang mengagumkan. Beliau tidak hanya menyukai suara Ummi Kultsum, bahkan juga suka suara musik Rock seperti dilantunkan Michael Jackson. “Manusia itu memiliki rasa keindahan, dan seni sebagai salah-satu jenis kegiatan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan penilaian agama (Islam). Oleh karena itu, apresiasi seni hendaknya ditingkatkan mutunya. “Apresiasi seni itu harus diutamakan mutu dari seni yang hanya mengandung keindahan menuju seni yang mengandung kesempurnaan, lalu menuju seni yang mengandung keagungan.Selanjutnya Kyai Achmad memberikan penjelasan sebagai berikut, Seni itu sebaiknya :
1 . Ada seni yang diutamakan seperti sastra dan kaligrafi.
2. Ada seni yang dianjurkan seperti irama lagu dan seni suara.
3. Ada seni yang dibatasi seperti seni tari.
4. Ada seni yang dihindari seperti pemahatan patung dan seni yang merangsang nafsu
Dalam memberikan nama untuk anak-anak-nya, Kyai Achmad senantiasa mengkaitkan calon nama yang bernuansa seni dengan pengabdian atau peristiwa-penstiwa penting. Seperti kelahiran putranya yang lahir bersamaan dengan karimya sebagai anggota DPR Gotong-Royong, yaitu Mohammad Balya Firjaun Barlaman, demikian juga Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, lahir bertepatan dengan konferensi Asia Afrika.
Kyai Achmad menikah dengan Nyai H. Sholihah binti Kyai Mujib pada tanggal 23 Juni 1947, dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu:
1. KH. Mohammad Farid Wajdi (Jember)
2. Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi (Jember)
3. Hj. Fatati Nuriana (istri Mohammad Jufri Pegawai PEMDA Jember).
4. Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil), clan
5. KH. Farich Fauzi (pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah Kediri).
Nyai Sholihah tidak berumur panjang, Allah memanggilnya ketika putra-putrinya masih kecil. Sehingga keempat anaknya itu di asuh oleh Nyai Hj. Nihayah (adik kandung ketiga Nyai Sholihah). Melihat eratnya hubungan anak-anak dengan bibinya, maka Nyai Zulaikho (kakaknya) kemudian mendesak Kyai Achmad agar melamar Nihayah. Dan Kyai Mujib pun menerima lamaran tersebut. Pernikahan Kyai Achmad Shiddiq dengan Nyai Hj. Nihayah binti KH. Mujib (Tulung Agung) memnpunyai 8 orang putra, yaitu:
1. Asni Furaidah (isteri Zainal Arifin, SE.)
2. Drs. H. Moh. Robith Hasymi (Jember).
3. Ir. H. Mohammad Syakib Sidqi (Dosen di Sumatra Barat)
4. H. Mohammad Hisyarn Rifqi (suami Tahta Alfina Pagelaran, Kediri).
5. Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, BA (istri Drs. Nurfaqih, guru SMA Jember).
6. Dra. Nida, Dusturia (istri Tijani Robert Syaifun Nuwas bin Kyai Hamim Jazuli).
7. H. Mohammad Balya Firjaun Barlaman (pengasuh PP. Al Falah Ploso Kediri).
8. Mohammad Muslim Mahdi (wafat kecil)
Aktivitas pengajian Kyai Achmad mendapatkan sambutan hangat di masyarakat. Pesan-pesan agama disampaikannya dengan bahasa dan logika yang sederhana sehingga mudah dicerna. semua kalangan. Pengajian-pengajiannya dikemas secara khusus, seperti yang peruntukkan untuk masyarakat umum (kalangan awam) pada setiap malam senin sudah dirintisnya sejak tahun 1970-an dan tetap berlangsung hingga sekarang, Pengajian setiap malam Selasa, yang diperuntukkan bagi kalangan intelektual, sarjana, dosen dan tokoh-tokoh masyarakat membahas secara, kontemporer dan apresiatif kitab Ihya’ Ulumiddin karangan Imam Ghozali.
Pengajian-pengajian Kyai Achmad banyak bernuansa Tasawwuf. Ada 3 unsur utarna dari tasawwuf yang dapat menuntun seseorang untuk bertasawwuf dari tingkat rendah menuju peningkatan diri secara bertahap, yaitu:
Al Istiqomah, yang berarti; tekun, telaten, terus-menerus tidak bosan-bosan mengamalkan apa saja yang dapat diamalkan Mungkin baca Yasin tiap malam Jum’at, mungkin baca Istighfar sekian kali dalam setiap malam, dan sebagainya.
Az Zuhd, yang berarti terlepas dari ketergantungan hati /batin dengan harta benda kekuasaan, kesenangan, dan sebagainya, yang ada, di tangannya sendiri, apalagi yang ada di tangan orang lain. Tidak tergantung berbeda dengan tidak memiliki, berbeda, dengan tidak punya. Seorang “Zahid” bisa saja kaya, tetapi hatinya tidak tergantung pada kekayaannya. Barang siapa yang tidak berputus asa karena sesuatu yang terlepas dari tangannya dan tidak bergembira, (melewati batas) dengan sesuatu yang diterimanya dari Allah maka dia sudah mendapatkan zuhud pada, kedua belah ujungnya.
Al Faqir, artinya, selalu menyadari kebutuhan diri kepada Allah. Kesadaran yang mendalam dan terus-menerus, tentang “dirinya membutuhkan Allah” tidak selalu ada pada setiap orang. Pada suatu saat kesadarannya, akan tinggi tetapi saat lain kesadarannya menurun.
Pada Munas Ulama NU di Situbondo, ratusan ulama NU berkumpul di Pesantren Salafiyah Syafiiah, Sukorejo, pada 18-20 Desember 1983, KH. Achmad Siddiq berhasil meyakinkan mereka untuk menerima Pancasila sebagai asas organisasi. Di forum Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama itu, berbekal makalah setebal 34 halaman, Kiai Achmad menjelaskan duduk soal Pancasila dan mengapa NU harus menerima asas tersebut. Ia tak berapologi, cukup dengan mengungkapkan berbagai argumentasi dasar dan argumentasi historis dari babak sejarah umat Islam di Indonesia. “Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan,” kata Kiai Achmad.
“NU menerima Pancasila berdasar pandangan syari’ah. Bukan semata-mata berdasar pandangan politik. Dan NU tetap berpegang pada ajaran aqidah dan syariat Islam. Ibarat makanan, Pancasila itu sudah kita makan selama 38 tahun, kok baru sekarang kita persoalkan halal dan haramnya,” katanya setengah bergurau, tapi diplomatis.
Hasilnya bisa ditebak, ratusan kiai kini berbalik mendukung Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi. Peristiwa itu menandai sebuah babak baru dalam perjalanan NU sebagai organisasi massa Islam yang pertama kali menerima asas tunggal, bahkan sebelum resmi diundangkan pada 1985. Secara sistematis keputusan menerima Pancasila sebagai asas tunggal, dirumuskan dalam Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dan Islam, yang terdiri dari lima poin.
Pertama, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, dan tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan agama. Kedua, sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Republik Indonesia menurut Pasal 29 ayat 1 UUD 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.
Kedua, bagi NU, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. Keempat, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya. Kelima, sebagai konsekuensi dari sikap di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.
Pemikiran Kiai Achmad yang kemudian menjadi deklarasi itu, rupanya dilatari dua landasan, yaitu historis dan hukum. Secara historis umat Islam tidak pernah absen dalam menolak penjajahan dan menegakkan serta mengisi kemerdekaan. Sejak awal umat Islam berada di garda terdepan mengusir penjajah.
Sementara secara hukum, Allah SWT mewajibkan amar ma’ruf nay munkar bagi umat manusia. Kewajiban itu tentu saja tidak dapat dilakukan tanpa adanya kekuatan dan imamah yang kuat dan mendukung. Atas dua landasan inilah maka mendukung negara Pancasila menjadi wajib hukumnya sebagai konsekuensi dari perjuangan yang dilakukan oleh umat Islam di masa lalu.
Kiai Achmad menegaskan, konsekuensi lain dari penerimaan asas tunggal Pancasila adalah menerima wujud negara Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasarnya merupakan upaya final seluruh bangsa terutama kaum Muslimin untuk mendirikan negara di wilayah Nusantara. Dengan begitu, Kiai Achmad berhasil mendamaikan perdebatan antara agama dan negara, khususnya di kalangan kaum Nahdliyin.
Seiring diterimanya Pancasila sebagai asas organisasi, nama Kiai Achmad pun kian melejit menjadi bintang Munas. Tak heran, dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo, setahun kemudian, Kiai Achmad Siddiq terpilih sebagai Ro’is Aam PBNU berpasangan dengan KH. Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Tanfidziahnya.
Duet Kyai Achmad dan Gus Dur temyata mampu mengangkat pamor NU ke permukaan. Beberapa. kali NU bisa selamat ketika menghadapi setiap persoalan besar dan pelik berkat kepemim’pinan keduanya. Semisal goncangan, ketika Kyai As’ ad yang kharismatik mengguncang NU dengan sikap mufaroqohnya terhadap kepemimpinan Gus Dur. Dalam Munas NU di cilacap tahun 1987, Kyai As’ ad menginginkan Gus Dur diganti. Namur demikian, Kyai Achmad Shiddiq dan Kyai Ali Ma’shum tampil membelanya.
Khittah Nahdlatul Ulama (NU) 1926
Di forum Munas Situbondo 1983, gagasan yang diarsiteki Kiai Achmad agar NU kembali ke khittah 1926 juga disepakati menjadi keputusan resmi organisasi, yang kemudian dikuatkan menjadi keputusan resmi pada Muktamar setahun kemudian, 1984. Dalam buku Menapak Jejak Mengenal Watak Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul Ulama diceritakan, konsep kembali ke Khittah 1926 yang mencuat dan dikenal masyarakat luas menjelang berlangsungnya Munas Alim Ulama tahun 1983. Tapi, sebenarnya jauh hari sebelum itu, KH Achmad Siddiq sudah mengintroduksi dasar-dasar pemikiran Khittah Nahdliyyah. Pada 1979, ia menyusun pokok-pokok pikiran tentang Khittah Nahdliyyah sebagai sumbangan berharga bagi warga NU.
Adapun rumusan Khittah 1926 hasil Munas Situbondo 1983 sendiri yaitu, pertama, mengembalikan aktivitas NU dari bidang politik ke bidang asalnyam yakni bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. Terlalu lama NU bekecimpung di dunia politik praktis, sejak 1955-1982, hingga garapan pokoknya sendiri terbengkalai. Kedua, menyerahkan sepenuhnya kepada warga NU dalam menyalurkan aspirasi politiknya, apakah ke Golkar, PPP, maupun PDI, waktu itu yang memang dipandang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.
Ketiga, membenahi organisasi, setelah terperangkap dalam kemelut intern sesuai Munas Alim Ulama di Kali Urang, Yogyakarta, 1981, yang melahirkan dua kubu yaitu Cipete dan Situbondo. Pembenahan bidang ini kemudian terbukti dengan terjadinya rekonsiliasi 10 September 1984 di kediaman KH Hasyim Latif, Sepanjang, Sidoarjo. Faedah lain dari Khittah 1926, yaitu mengangkat peran ulama dalam lembaga, seperti Mustasyar dan Syuriah, sebagai lembaga tertinggi dalam kepemimpinan NU.
Pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada tahun 1989 Kyai Achmad menegaskan pendiriannya tentang Khittah. “NU ibarat kereta, api, bukan taksi yang bisa, dibawa, sopirya, ke mana, saja. Rel NU sudah tetap”, ujarnya bertamsil. Dengan tamsil ini pula Muktamar Yogyakarta dapat mempertahankan duet Kyai Achmad dengan Gus Dur.
Dan kepulangan Kyai Achmad dari Muktamar Yogyakarya, Kyai Achmad sakit Diabetes Melitus (kencing manis yang parsh). Kyai Achmad dirawat di RS. Dr. Sutomo, Surabaya.
“Tugasku di NU sudah selesai”, kata Kyai Achmad Shiddiq pada rombongan PBNU yang membesuknya di RSU Dr. Sutomo, Ternyata isyarat itu benar. Tanggal 23 Januari 1991, Kyai Achmad Shiddiq wafat. jenazahnya dimakamkan di kompleks Makam Aulia Desa Mojo, Kediri, tak jauh dari makam KH. Hamim Jazuli atau dikenal dengan Gus Miek, pendiri dan pengasuh semaan al-Quran MANTAB. Pada tahun 1995 KH. Achmad Siddiq mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera Nararya dari Pemerintah Republik Indonesia. 
——————————————
Biorgrafi diolah dari berbagai sumber.
(Buku Menapak Jejak Mengenal Watak, dan sumber lainnya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *