ArtikelPilihan Editor

Kepedulian Sosial dalam Beragama

123
×

Kepedulian Sosial dalam Beragama

Sebarkan artikel ini
M. Nasihin Hasan

P3M.OR.ID. Kaya dan miskin kenyataan duniawi. Keduanya sumbu kehidupan manusiawi, erat hubungan dan satu sama lain saling membutuhkan. Masing-masing memiliki problema, bisa membahagiakan dan membuat sengsara.

Kekayaann dan kemiskinan pada dasarnya sama, dalam artian bahwa keduanya bisa dianggap rahmat dan kemulyaan, dapat merupakan batu ujian dalam kehidupan manusia, tapi juga nasib yang harus diterima, tergantung dari sudut mana memandangnya.

Menjadi kaya ataupun miskin adalah rahmat dan kemulyaan. Miskin bagi si zahid adalah ‘suci’. Itu karunia ilahi, bukan malah yang musti diatasi. Bahkan ia adalah sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Kehadirannya disambut sebagai kenyataan dan sekaligus lambang keshalihan. Miskin materi lebih baik dari pada miskin hati dan budi. Islam mempertanyakan golongan yang mensucikan kemiskinan. Sebab dapat mengganggu aqidah, etika, dan moral, khususnya bagi awam yang esok harinya belum jelas makan atau tidak. Sebaliknya tentang kekayaan, bagi si dermawan, harta harus dicari. Alam diciptakan untuknya dan dia berkewajiban memakmurkannya. Dari hasil upayanya dia berkata; sebagian dari yang kuperoleh dan menjadi milikku adalah juga milikmu.

Di sini etos sebagai sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup dan diperlukan dan sekaligus dipertanyakan. Apakah kerja dan usaha, dianggap suatu keharusan demi kehidupan, atau suatu yang imperatif dari diri, ataukah sesuatu yang terikat pada identitas diri yang bersifat sakral? Pertanyaan yang juga hadir kemudian adalah apakah antara ide, doktrin agama dan dorongan keharusan usaha bisa bertemu dan saling memperkuat, sehingga mendapatkan afinitas yang melahirkan harkat tertentu bagi manusia.

Akan halnya kemiskinan dapatkah ia dihapuskan? Tak mudah dijawab. Sebab tak sedikit pula sebab musababnya. Kompleksitas, itu bisa menyangkut struktur global yang eksis maupun doktrin-doktrin sumber sikap dan motivasi. Memang kelihatan mudah menolak pendirian kapitalisme, sosialisme-marxisme sebagaimana mudahnya meniadakan pendidikan golongan yang mensucikan kemiskinan dan pendirian Jabariyah. Telah banyak ide, teori, dan undang-undang dirancang dan sistem coba diterapkan sebagai jawaban atas kemiskinan. Bahkan konon Zakat itu sendiri adalah suatu sistem jaminan sosial yang pertama kali ada di dunia. Kalau demikian, dimanakah letak akar persoalannya?

Agama sarat dengan pesan dan ekspresi kehidupan. Manusia dijaring dengan tafsiran dan makna. Menampakkan dirinya pada arus dan mengalir dalam bentuk perilaku dan tindak sosial. Bertemu dalam simbol-simbol dan bernafas dalam lambang. Kenyataan ruhaniah diatur dan perilaku dibimbing.

Dapatkah kemudian pesan dan lambang diinternalisir, sehingga memiliki kedalaman, kekuatan da kemampuan mengikat, yang antara simbol dan makna serta tindak pribadi dan sosial tak berjarak dan bertemu satu? Dapat menciptakan suasana hati dan motivasi, membalut konsepsi dengan suasana faktual, merekayasa sistem, guna menjaga agar saling mendukung antara kenyataan ruhaniah dan perilaku terus terjaga, mencapai sasaran yang diidamkan.

Nampaknya sesuatu harus terus dilakukan. Dapatkah kita berfikir dan bersikap religius yang bertolak dari keprihatinan dan kepedulian sosial? Pertanyaan dan renungan ini muncul tak henti ketika zakat selalu digugat kenyataan.

M. Nasihin Hasan

(Sumber Jurnal Pesantren, No. 2, Vol III, 1986)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *