Khazanah IslamOpiniPilihan Editor

Evolusi Dinasti Mughal: Dari Pluralisme Akbar ke Tragedi Sikoh dan Dampaknya pada Asia Selatan

179
×

Evolusi Dinasti Mughal: Dari Pluralisme Akbar ke Tragedi Sikoh dan Dampaknya pada Asia Selatan

Sebarkan artikel ini
Evolusi Dinasti Mughal - Dari Pluralisme Akbar ke Tragedi Sikoh dan Dampaknya pada Asia Selatan
Evolusi Dinasti Mughal - Dari Pluralisme Akbar ke Tragedi Sikoh dan Dampaknya pada Asia Selatan

P3M.OR.ID – Dinasti Mughal | India, Pakistan, Sri Lanka, dan Bangladesh hingga Afghanistan memiliki warisan keberagaman Islam yang panjang. Menurut Manan Ahamed Asif dalam “The Loss of Hindustan” kawasan ini awalnya disebut sebagai Hindustan dalam buku sejarah.

Namun, penerjemahan salah oleh orientalis Inggris atas buku Tarikh Fihristha karya sejarawan Mohammed Qosim Fihristha menyebabkan perubahan nama menjadi India. Pada saat yang sama, kolonial Inggris mendorong pertumbuhan Hindutva.

Kekuasaan dinasti Mughal, yang bertahan hingga abad ke-18 Masehi, jarang disoroti oleh juru bicara peradaban Islam seperti dinasti Ottoman di Turki. Namun, buku membandingkan dinasti Islam yang bertahan menjelang akhir Kolonialisme Barat muncul.

Dinasti Mughal, didirikan oleh Babur, penguasa keturunan Mongolia dan Turki, melalui cucunya Akbar Agung menciptakan fondasi untuk masyarakat Mughal yang pluralistik.

Akbar melegitimasi kekuasaan dengan fondasi mistik melalui peziarahan ke makam sufi Syaikh Muinuddin Chisti di Ajmer.

Meskipun Akbar berusaha membangun fondasi rohaniah, sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan dinasti di India bergantung pada kesetiaan terhadap keluarga, faksi, dan kekayaan daripada kesetiaan pada tanah, agama, atau etnis.

Doktrin Sunni memandang persaingan politik setelah Kanjeng Nabi SAW dengan hati-hati. Hindustan melihat Akbar sebagai pemimpin yang memicu kemajuan pengetahuan dan menciptakan masyarakat pluralistik.

Namun, cucunya, Dara Sikoh, mengambil langkah spiritual untuk mewujudkan visi yang sama, menyusun aturan meditasi dalam tarekat Qodiriyah.

Sayangnya, Aurangzeb, adik Sikoh, yang ortodoks, merebut kekuasaan dengan kejam dan menghukum mati Sikoh. Nama Aurangzeb dianggap simbol kekuatan, sementara nama Sikoh dianggap simbol kelemahan menjelang partisi India dan Pakistan.

Meskipun demikian, gagasan Sikoh tentang masyarakat beragam dan berbasis spiritual tetap diingat di Asia Selatan. Perbandingan dengan Nusantara pada periode yang sama tidak diperlukan, tetapi kedua kawasan mengalami dampak politik kehilangan daripada penemuan sejarah.

Oleh: Hasan Basri, Peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), bergiat di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *