Program

Menangkal dan Mencegah Radikalisasi di Pesantren

36
×

Menangkal dan Mencegah Radikalisasi di Pesantren

Sebarkan artikel ini

Tentu bukan sebuah upaya untuk mendeskriditkan pesantren sebagai sumber dan tempat berkembangnya radikalisme. Dari beberapa penelitian, beberapa lembaga yang mengaku pesantren teridentifikasi sebagai tempat berkembang biaknya bibit-bibit radikalisme, yang bahkan mengarah ke terorisme. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), sebagai lembaga yang sejak awal konsen di dunia pesantren merasa terpanggil untuk ikut serta membersihkan nama pesantren, yang tercemari oleh gerakan-gerakan radikalisme. Di mana gerakan-gerakan itu memanfaatkan pesantren sebagai kedok mereka.
Program Countering and Preventing Radicalisation in Indonesian Pesantren ini, adalah program kerjasama antara P3M, Search for Commond Ground, dan Wahid Institute. Bentuk penguatan jaringan, dengan secermat mungkin menggunakan basis program di lembaga yang memiliki tradisi kuat melakukan pemberdayaan di dunia pesantren. Sebagaimana diketahui, P3M dan Wahid Institute lahir di lingkungan yang bisa dikatakan hampir sama, dunia kaum sarungan, santri, yang lekat dengan pesantren. Oleh karena untuk mengefektifkan kerja program, Search for Commond Ground menggandeng kedua lembaga ini, untuk melakukan tindaka penangkalan dan pencegahan radikalisasi di pesantren.
Pilot project program ini di lakukan di 4 wilayah (Jawa , Sumsel, Sulteng, dan Lombok), di 10 pesantren, dengan durasi waktu cukup panjang, 2 tahun.
Program Goal. Mempromosikan kebebasan beragama, dan mencegah radikalisasi melalui media dan kegiatan pendidikan bagi anak muda di pesantren, di wilayah yang rentan kekerasan dan intoleran dalam beragama di Indonesia.
Tujuan
  • Pesantren lebih peduli dan mampu berpikir kritis tentang isu-isu kontraterorisme, kontra-radikalisasi, pluralisme beragama, dan memahami perbedaan.
  • Pesan-pesan kelompok ekstrem secara langsung dapat ditangkal di wilayah yang sering terjadi radikalisasi.
  • Konflik komunal dapat dicegah dan pemahaman agama meningkat melalui pemanfaatan media yang beragam, seperti video documenter dan radio komunitas
  • Program menangkal dan mencegah radikalisasi dapat terlembagakan di pesantren.
Hasil
  • Guru dan pelajar dapat meningkatkan berpikir kritis, dan memahami isu kontraradikalisasi, pemahaman keagamaan dan pluralisme
  • Guru dan pelajar terlatih memproduksi dan mengelola program radio komunitas sensitif konflik yang menangkal pesan-pesan ekstremis.
  • Drama radio dan talk show yang menawarkan pesan positif pluralisme agama dan melawan radikalisme
  • Terbangun jaringan antar pesantren
  • Komunitas terbekali skill resolusi konflik
  • Staff dan fakultas terlatih menerapkan kurikulum kontra radikalisme
  • Produksi dan distribusi video dokumenter yang menangkal radikalisasi.
Kegiatan

  • Base-line Assessment
Dalam kegiatan ini pertama, dilakukan riset untuk menentukan 10 pesantren sebagai sasaran program. Kedua, Program akan mentarget 10 pesantren terutama di Jawa, tapi juga termasuk Sulawesi Tengah, Lombok, dan Sumatra Selatan– dengan total murid keseluruhan 25,000 santri. Ketiga, Pesantren sasaran berlokasi di dekat masjid, pesantren, atau madrasah yang radikal, sesuai tujuan kontra ideologi ekstremis secara langsung.

  • Stakeholder Meeting
Melibatkan pimpinan sepuluh pesantren dan media expert. Tujuan dari kegiatan ini untuk mendapatka masukan isi kampanye dan jangkauan media, membangun kesepakatan dan dialog. Pertemuan pertama akan dilakukan di Jakarta, pada awal program, untuk membantu menginformasikan proses radio komunitas.

  • Pendirian Radio Komunitas
Setiap pesantren akan menerima bantuan teknis untuk mendirikan studio radio kecil alat perlengkapan siaran, dan pemancar kecil (5m). Pelatihan pengurus/pengelola radio (melibatkan kyai, ustadz dan santri) dibekali 3 kemampuan: (a) Program radio, (b) Peralatan dan Teknis, (c) Manajemen, jaringan dan penggalangan dana. Program: talk show, drama radio, kompetisi musik dan bernyanyi informasi isu-isu perdamaian dan keadilan, hak asasi manusia, peristiwa terkini, musik, olahraga, dan topic menarik lainnya.

  • Program Radio
Pertama, Youth Magazine/ Bulletin. 5 reporter muda (dari masing-masing pesantren) dibekali perekam suara digital, memproduksi rekaman audio mentah durasi 30 menit, tema seputar kontra-radikalisasi SFCG & pesantren mengkompilasi dan mengedit rekaman, dan memproduksi 24 siaran majalah radio pada akhir tahun pertama, yang akan disiarkan di 10 stasiun radio komunitas yang baru terbentuk.

Kedua, Drama Radio. SFCG dan mitra kerja memproduksi sebuah drama radio 25-episode, yang akan menggabungkan berbagai tema dan isu yang dihasilkan selama stakeholder meeting. SFCG akan bekerja dengan produser drama radio untuk mengembangkan script yang dapat digunakan untuk program TV, yang bisa memperluas jangkauan proyek.

Ketiga, Talk Show Interaktif. Tujuan: menciptakan platform publik, kampanye dan advokasi, meningkatkan pengetahuan masyarakat, dan merubah sikap/perilaku. Siaran langsung interaktif mencakup tanggapan pemirsa dan kuis. SFCG akan melatih project host dari pesantren cara memproduksi segmen interaktif, tehnik mengembangkan sensitivitas pluralism keagamaan dan interaksi yang mengarah solusi dengan audiens. Host juga akan menerima panduan untuk membangun hubungan dengan audien tentang isu-isu spesifik yang termuat dalam seri drama radio. Talk show menampilkan tausiyah tokoh agama lokal yang menyanggah “hate speech” dan pesan ekstrem yang datang dari masjid/ pesantren terdekat.
  • Video Competition and Documentary Production
Sepuluh pesantren berpartisipasi dalam produksi film durasi 1 jam hasil kolaborasi pelajar dan profesional.

  • Compiling and Reporting Feedback
SFCG bekerjasama para reporter muda di setiap radio akan mengadakan FGD secara reguler untuk menggali ide, meningkatkan kualitas siaran.

FGD juga akan diadakan dengan tokoh muda dan anggota komunitas untuk mengukur tingkat pendengar, sejauhmana pesan telah diterima.

Hasil-hasil FGD, kegiatan outreach, telepon-in, SMS dan surat-surat yang dihasilkan dari interaktif, komentar balik, merupakan bahan yang sangat berharga dan memberikan wawasan tentang perspektif dan kebutuhan khalayak muda Indonesia.

Respon (1)

  1. kalo menangkal berarti sudah terjadi, begitupula mencegah…
    bukannya tidak semua pesantren demikian….cobalah cari kata yang lebih pantas…bukannya para ulama dan orang – orang yang berakhlak mulya keluaran pesantren…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *