0
Selama ketegangan antara wawasan Islam yang universalistik dan wawasan kebangsaan yang partikularistik belum teruraikan secara tuntas, persoalan tentang peranan Islam dalam sebuah bangsa selalu muncul secara terserak-serak dan hanya mendapatkan pemecahan parsial saja, termasuk di Indonesia. Ada beberapa alasan untuk berbesar hati tentang peranan Islam dalam mengantarkan berjuta pemeluknya yang berbangsa Indonesia menuju hari depan yang lebih baik. Tapi untuk itu banyak yang sebelumnya harus mereka “bayarkan”. Buku ini menawarkan celah-celah yang patut diperbincangkan makna strategisnya dalam rangka tujuan panjang, yaitu ber-Islam secara kaffah dan ber-Indonesia secara total pula. Tidak selamanaya celah itu adalah reformulasi fiqh yang legalistik, tetapi sebenarnya seluruh warisan Islam menyediakan lintas sejarah.
Bukan sebuah tulisan utuh, tetapi kumpulan pemikiran tokoh-tokoh seperti Abdurahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid (Cak Nur), Ehma Ainun Najib (Cak Nun), Masdar Farid Mas’udi, Ali Yafie, Adi Sasono, Moeslim Abdurahman, Miska M. Amin, Hasan Langgulung, A. M. Saefudin, Chandra Muzaffar, Arief Budiman, Mochtar Buchori, Sudirman Tabba, dan Aswab Mahasin. 
Ada empat judul besar 15 bagian pembahasan dalam buku ini, pertama, Kemapanan dan Pencarian. Dalam judul ini, Chandra Muzaffir menulis al-Qur’an: Nilai dan Peraturan, kemudian Ali Yafie, dengan Pemikiran Hukum Islam-nya, diteruskan Tulisan Aswab Mahasin, Fiqh dalam Perspektif Ilmu Hukum, disambung Cak Nur yang menulis Aktualisasi Ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah, dan terakhir tulisan Gus Dur membahas Pribumisasi Islam
Bab dua dari buku ini bertemakan, Garapan Kesejahteraan. Terdiri dari tiga tulisan. A.M Saefuddin menulis Etika Ekonomi Islam, Adi Sasono menulis Keadilan Sosial Tema Abadi, dan Arief Budiman dengan tulisannya, Ekonomi Indonesia: Mencari Alternatif yang Mendasar.
Bab tiga, membahas seputar Keilmuan dan Pendidikan Kita. Miska M. Amin menulis Epistemologi Islam dalam Perspektif, Pendidikan Islam Indonesia: Mencari Kepastian Historis yang ditulis Hasan Langgulung, Muchtar Buchori Menulis Pendidikan Islam di Indonesia: Problema Masa Kini dan Perspektif Masa Depan, dan bab ini ditutup tulisan Masdar F. Mas’udi dengan Pesantren Masa Depan dan Tiga Type Kyainya.
Terakhir, Sekat-sekat Pemikiran dan Budaya. Dalam bab ini Moeslim Abdurahman menulis Bagaimana Indonesia Dibaca Pemikir Islam: Sebuah Resensi Pemikiran, kemudian Sudirman Tabba menulis Ormas Islam dan Dilema Pembaharuan, dan tulisan dari Cak Nun menjadi penutup dari bab sekaligus bahasan buku ini, Manusia, Islam dan Budaya. []
Judul : Islam Indonesia Menatap Masa Depan
Penulis : Muntaha Azhari
Penerbit : Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakt (P3M)
Tahun : I, Agustus 1989
Tebal : viii+268 halaman
Redaksi P3M

The Impact of Pesantren in Education and Community Development In Indonesia

Previous article

Belajar dari Pengalaman: Panduan Latihan Pemandu Pendidikan Orang Dewasa untuk Pengembangan Masyarakat

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Buku