KabarKabar PesantrenPilihan Editor

Media Pesantren Harus Berkolaborasi untuk Penguatan Literasi Keislaman dan Kepesantrenan

95
×

Media Pesantren Harus Berkolaborasi untuk Penguatan Literasi Keislaman dan Kepesantrenan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi media digital ( Foto dok. PxHere)

untuk itu P3M.OR.ID. Kolaborasi dan integrasi media  pesantren sangat penting untuk penguatan literasi keislaman dan kepesantrenan di Indonesia. Untuk itu pesantren untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga menjadi pelopor dalam pemanfaatan media. Untuk itu para santri harus mampu menyiapkan dan menyebarluaskan konten keislaman yang bersumber dari pengalaman dan pengetahuan mereka.

Hal tersebut terungkap dalam seminar oleh Pengembangan Media Pesantren yang berlangsung di Pondok pesantren Zainul Hasan Genggong, Jawa Timur. Menurut KH Ahsan Hasan Malik, pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong pesantren harus bergerak dinamis dalam digital yang berkembang sangat pesat saat ini. “Pesantren sebagai lokomotif pendidikan Islam tradisional Indonesia harus bergerak dinamis menghadapi tantangan zaman. Terutama perkembangan teknologi,” pesannya.

Untuk itu Kiai Ahsan meminta Pesantren Genggong terus mengembangkan Genggong Nusantara sebagai media Islam nasional berbasis pesantren pertama di Indonesia. Media Genggong Nusantara akan berkolaborasi secara nasional dan internasional untuk penguatan literasi keislaman dan kepesantrenan di Indonesia. “Insyaallah, Genggong Nusantara bisa menjadi Kantor Berita Islam dan Pesantren berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di Indonesia,” harapnya.

Peran Media Pesantren

Sementara itu, Khoirul Anwar, pengurus LTN PBNU dalam paparannya menyebut urgensi pesantren untuk menanamkan literasi keislaman yang autentik sangatlah penting. “Literasi ini tidak hanya penting sebagai identitas khas pendidikan Islam Indonesia, tetapi juga sebagai fondasi penting dalam menghadapi arus informasi digital yang tidak terbendung,” ujarnya.

Menurutnya pada era big data saat ini, pesantren perlu memperkuat engagement mereka melalui kolaborasi konten digital. “Ini bukan hanya tentang adaptasi, tetapi juga tentang mengambil peran aktif dalam menciptakan dan menyebarluaskan konten keislaman yang berkualitas dan otentik,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Anwar santri harus menjadi kreator tidak hanya bagian dari konsumen informasi. Santri harus mampu menyiapkan dan menyebarluaskan konten keislaman yang bersumber dari pengalaman dan pengetahuan mereka. ” Untuk itu penting mendorong santri menjadikan diri mereka sebagai kantor berita Islam, sebuah peran yang tidak hanya menempatkan mereka sebagai pemain aktif dalam penyebaran informasi keislaman, tetapi juga sebagai pembentuk opini dan pemikiran Islam kontemporer. Santri sudah harus dibawa dalam dakwah semesta yang lebih luas,” ungkapnya. (Sumber nu.or.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *