JurnalPublikasi

Kepemimpinan Umat Dalam Peta

45
×

Kepemimpinan Umat Dalam Peta

Sebarkan artikel ini
Mukkadimah,
Persoalan Makna, Bukan Bentuk
Jurnal Pesantren Edisi 1, Vol. III, tahun 1986 : Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Oleh: Nurcholish Madjid

Ketika Rasulullah SAW berpindah kiblat dari arah Yerusalem (Bayt al-Maqdis) ke Mekkah (Bayt al-Haram)–sebagai jawaban Allah akan keinginan beliau sendiri– penduduk Madinah, khususnya kaum Yahudi geger. Dengan perubahan kiblat “yang tidak semestinya” itu–sebab agama-agama monotheisme Ibrahim yang telah ada, yaitu Yahudi dan Kristen, berorientasi ke Yerusalem–orang-orang Yahudi mendapat bahan baru untuk mempersoalkan keabsahan klaim Muhammad sebagai Utusan Tuhan.

Tetapi yang terjadi benar-benar di luar dugaan para penantang Nabi. Berkenaan dengan polemik tentang arah shalat itu, sebuah wahyu turun kepada Nabi,
Kebajikan bukanlah kamu menghadapkan wajahmu ke Timur atau ke Barat? Melainkan kebajikanitu ialah seseorang percaya kepada Tuhan, Hari Kemudian, Para Malaikant, Kitab Suci, dan para Nabi, serta mendermakan hartanya–betapapun cintanya kepada harta itu–untuk keluarga dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang dalam perjalanan, peminta-minta, dan orang-orang yang terbelenggu perbudakan. Selanjutnnya ia menegakkan shalat, memenuhi kewajiban zakat, serta selalu teguh menepati janji bila mereka telah mengikat janji itu, tabah menghadapi ketidakberuntungan, dan kesusahan serta dalam masa-masa sulit. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (al-Baqarah/2: 177)
Muhammad Asad, penafsir al-Qur’an mutakhir yang banyak bersandar kepada tafsir-tafsir klasik menerangkan, dari ayat itu dapat dilihat bahwa al-Qur’an “menekankan prinsip bahwa semata-mata mengikuti bentuk-bentuk luar agama tidaklah memenuhi persyaratan ketaqwaan.” Maka meskipun menghadapkan diri ke arah qiblat di waktu menjalankan shalat adalah perintah Tuhan namun dari ayat itu dapat dipaham bahwa kebajikan (al-Birr) tidaklah terletak dalam tindakan-tindakan lahiriah, melainkan dalam kemampuan menangkap makna-makna dasar agama itu dan mewujudkannya dalam hidup nyata sehari-hari.
………………………………….
Judul : Kepemimpinan Umat dalam Peta
Jurnal: Pesantren
Penerbit : Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Edisi : No. 1/Vol. III/1986
Tebal : 84 halaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *