Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

KH. Muhammad Sholeh: Ulama Sederhana Pendiri Pondok Pesantren At-Tanwir

589
×

KH. Muhammad Sholeh: Ulama Sederhana Pendiri Pondok Pesantren At-Tanwir

Sebarkan artikel ini
profil kiai
KH. Muhammad Sholeh ulama Bojonegoro pendiri Ponpes At-Tanwir, teladan hidup sederhana, berilmu, dan berpengaruh di Indonesia.

P3M.OR.ID. Muhammad Sholeh merupakan salah satu ulama besar asal Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. beliau populer sebagai sosok yang alim, tawadhu, dan bersahaja. Masyarakat menaruh hormat tinggi kepadanya karena kepribadian dan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, KH. Muhammad Sholeh bukan berasal dari keluarga kiai. Namun ia mampu membuktikan bahwa keilmuan dan ketekunan dapat mengangkat derajat seseorang menjadi ulama besar. Ia lahir pada 20 Februari 1902 M sebagai putra kedua dari sembilan bersaudara dari pasangan Syarqowi bin Syuro dan Kuning.

Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketekunan dalam belajar agama. Pada usia 10 tahun, pamannya, Haji Idris, yang mengasuhnya daN kemudian membimbingnya belajar membaca Al-Qur’an. Lingkungan inilah yang menjadi awal perjalanan panjang keilmuannya. Muhammad Sholeh mulai menempuh pendidikan agama secara serius sejak remaja. Pada tahun 1914, ia belajar kepada Kiai Umar di Sumberrejo. Setahun kemudian, beliau melanjutkan pendidikan di Pesantren Kendal Dander yang diasuh Kiai Basyir dan Kiai Abu Dzarrin.

Beliau kemudian melanjutkan studi di Madrasatul ‘Ulum Bojonegoro selama empat tahun. Di sini ia mendalami berbagai disiplin ilmu seperti fiqih, nahwu, dan shorof melalui kitab-kitab klasik seperti Sullam Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Al-Jurumiyah, hingga Alfiyah. Tidak hanya itu, ia juga pernah belajar kepada Kiai Kholil Bangkalan Madura, salah satu ulama besar Nusantara. Pada tahun 1921, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Maskumambang Gresik di bawah asuhan Kiai Faqih bin Kiai Abdul Jabar. Pada usia 21 tahun menunaikan ibadah haji dan sempat belajar di Makkah selama delapan bulan. Namun kondisi politik di Hijaz membuatnya kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan di Gresik.

Perjalanan Hidup dan Dakwah

Pada tahun 1924, ia menikah dengan Rohimah binti Kiai Ali. Dari pernikahan ini, beliau mendapatkan karunia dua anak, Sahal Soleh dan Anisah. Setelah kembali ke Talun pada 1927, beliau belum langsung mengajar karena harus membantu mengurus keluarga pamannya yang mengalami sakit. Baru pada tahun 1933, KH. Muhammad Sholeh mulai merintis kegiatan pendidikan di mushala. Ia mengajar Al-Qur’an, tulisan Arab, dan dasar-dasar ibadah. Kegiatan ini menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren At-Tanwir. Beliau menjalankan aktivitas mengajar dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Di pagi hari ia berdagang, sementara sore hingga malam ia mengajar santri.  Kiai Soleh terkenal memiliki prinsip hidup sederhana. Hal tersebut terungkap dalam salah satu pesan beliau, “Nek pengen diapik’i wong yo kudu ngapik’i wong”. Artinya jika ingin diperlakukan baik maka harus berbuat baik kepada orang lain.

Selain sebagai pendidik, KH. Muhammad Sholeh juga aktif dalam organisasi. Pada tahun 1943, Kiai Sholeh mengikuti Musyawarah Besar Ulama se-Jawa di Jakarta. Pada tahun 1946, ia terpilih menjadi Camat Sumberrejo melalui proses demokratis yang melibatkan berbagai partai politik seperti PNI, Masyumi, dan PKI. Beliau kemudian mengundurkan diri pada 1948 karena ingin fokus mengajar di pesantren.

Kiai Muhammad Sholeh juga masyhur sebagai penulis produktif.  Beliau menulis berbagai kitab yang digunakan sebagai bahan ajar di pesantren. Beberapa karya pentingnya antara lain Risalatu Al-Shafiyah fi Al-Masa’il Al-Fiqhiyah, Risalatu Khulqi Al-Kirom, Naylu Al-Surur fi Ba’di Fado’ili Al-Shuhur, dan Fathu Al-Jalil fi Fadoili Al-Dzikri Wa Al-Tahlil. Kitab-kitab tersebut membahas fiqih, akhlak, dzikir, hingga keutamaan bulan-bulan Islam. Karya-karya ini masih dipelajari di lingkungan Pondok Pesantren At-Tanwir hingga saat ini. Muhammad Sholeh wafat pada 26 Juni 1992, setelah sebelumnya istrinya, Nyai Mukhlisoh, wafat pada Februari 1992. Ia dimakamkan berdampingan dengan istrinya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat. Namun warisan ilmu dan keteladanan beliau tetap hidup hingga sekarang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.