Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamTokoh

Abdullah Syarwani di Antara 2 November (1943–2026)

10
×

Abdullah Syarwani di Antara 2 November (1943–2026)

Sebarkan artikel ini
KH Abdullah Syarwani
KH Abdullah Syarwani dengan Gus Dur. Berperan penting dalam pengembangan pesantren, pendirian P3M, Lakpesdam NU, dan gerakan pemberdayaan masyarakat.

P3M.OR.ID. Oktober 1977, Pondok Pabelan, Magelang. Dua puluh santri dari delapan pesantren memulai pelatihan yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka tidak sedang mengaji kitab. Mereka belajar membaca kebutuhan desa, memetakan sumber daya, dan menggerakkan warga membangun kampungnya sendiri. Pelatihan itu berlangsung hingga awal April 1978. Dari tahun yang sama tersimpan sebuah foto: Abdullah Syarwani bersama Abdurrahman Wahid di Pabelan.

Syarwani wafat Senin dini hari, 2 November 2026, pukul 03.38 WIB, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-83. Kabar duka mengenangnya sebagai ketua pertama Lakpesdam NU, mantan anggota DPR dari PPP, dan Duta Besar RI untuk Lebanon 2003–2007. Semua itu benar. Namun jejak terdalamnya di dua lembaga yang jarang disebut dalam kabar duka: LP3ES dan P3M. Di sanalah, selama lebih dari satu dekade, ia ikut mengubah cara Indonesia memandang pesantren, dari lembaga kolot yang perlu diubah dari luar jadi mitra pembangunan di desa.

Pembangunan dari Bawah

Kerja Syarwani lahir dari dunia LSM 1970-an. Di panggung global, lembaga pembangunan mulai meragukan resep yang serba dari atas. Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO), lewat Freedom from Hunger Campaign dan program Action for Development, mendanai pelatihan warga desa di negara berkembang. Yayasan politik Jerman, Friedrich Naumann Stiftung (FNS), membantu kelahiran LP3ES pada 1971. USAID, Ford Foundation, dan lembaga asing lain menyusul.

Di dalam negeri, Orde Baru mencengkram masyarakat dengan tangan militer dan Golkar. Partai difusikan dan organisasi massa diawasi. Pemerintah juga menjangkau pesantren dari atas. Departemen Agama era Mukti Ali mendorong pendidikan keterampilan, sementara pemerintah daerah mendirikan Pondok Karya Pembangunan.

Di celah itu, aktivis yang percaya pada pembangunan dari bawah menemukan pesantren sebagai alternatif transformasi sosial. Antropolog Martin van Bruinessen mencatat, pesantren nyaris satu-satunya lembaga non-negara yang benar-benar organik di akar rumput. Masalahnya, para pendiri LP3ES berlatar Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia, jauh dari dunia kiai NU. Mereka butuh orang dalam. Menurut van Bruinessen, LP3ES lalu merekrut orang-orang berlatar NU untuk mengoordinasikan program pesantrennya. Syarwani, santri Tebuireng lulusan hukum UGM, adalah salah satunya.

Kepala Divisi Pesantren LP3ES

Syarwani memimpin Divisi Program Pengembangan Masyarakat dan Pesantren LP3ES. Didik J. Rachbini menyebut jabatannya Kepala Program Pengembangan Pesantren. Seorang mantan staf LP3ES, dalam catatan di Kompasiana, mengenang divisi pesantren dan divisi industri kecil hanya terpisah oleh sekat dinding di kantor lama lembaga itu. Di bawah Syarwani bekerja Nasihin Hasan, yang bergabung sejak 1974 dan kelak memimpin P3M serta Lakpesdam.

Program itu bertolak dari riset. LP3ES menerbitkan Profil Pesantren (1974), studi tentang Pesantren Al-Falak di Pagentongan, Bogor, dan bunga rampai Pesantren dan Pembaharuan suntingan Dawam Rahardjo. Sasaran programnya mencakup pesantren besar seperti Annuqayah di Guluk-Guluk, Madura, dan Maslakul Huda di Kajen, Pati.

Puncaknya adalah Latihan Tenaga Pengembangan Masyarakat dari pondok pesantren pada 1976–1978, kerja sama dengan kampanye FAO, di Pabelan, Kajen, dan Tebuireng. Gus Dur, menulis di Kompas pada Mei 1978, mencatat pelatihan di Pabelan diikuti delapan pesantren dengan dua puluh peserta. Idenya mendidik santri menjadi change agents bagi desa, bekerja selaras dengan program pembangunan pemerintah daerah. Program ini mudah diterima kiai karena berangkat dari motivasi keagamaan dan semangat pengabdian yang hidup di pesantren.

Hasilnya melampaui ukuran program. Pada 1980 Pondok Pabelan asuhan Kiai Hamam Dja’far menerima Aga Khan Award for Architecture, dan dokumentasi penghargaan itu mencantumkan LP3ES serta Gus Dur dalam kredit proyeknya. Dua tahun kemudian Pabelan meraih Kalpataru. Sebuah pesantren desa di Magelang tiba-tiba dikenal dunia.

Bagi Syarwani, posisi ini menyatukan dua dunianya. Ia memahami pesantren dari dalam, sekaligus fasih menyusun gagasan dalam proposal, laporan, dan berhubungan dengan donor. Fachry Ali, sahabatnya, menyebut lintasan kariernya “eksotik”. Di LP3ES, keeksotisan itu menjadi keahlian.

P3M: Dari Nama Program Jadi Organisasi

Pada awal 1980-an, program pesantren LP3ES tumbuh terlalu besar untuk tetap menjadi satu divisi. Pada 18 Mei 1983 lahirlah Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Pendirinya kiai pengasuh pesantren, di antaranya KH Sahal Mahfudh dari Kajen dan Gus Dur, bersama sejumlah aktivis LSM. Syarwani tercatat di antara para pendiri itu.

Alasan pendiriannya sebagian teknis. P3M meneruskan program pengembangan pesantren LP3ES. Laporan Tempo awal 1990-an mencatat P3M dibentuk ketika Dawam Rahardjo memimpin LP3ES dan sepenuhnya bekerjasama dengan FNS. Namun ada pergeseran mendalam. Sebuah survei bibliografis di Kyoto Review melihat P3M sebagai usaha bersama kalangan NU dan Masyumi, tanpa intelektual sekuler dan non-Muslim yang mewarnai LP3ES. Pesantren tak lagi jadi sasaran program dan para kiai duduk sebagai pengasuh organisasi.

Kepemimpinan sehari-hari beralih ke generasi yang pernah bekerja di bawahnya. Nasihin Hasan menjadi direktur. Masdar F. Mas’udi mengoordinasikan program dan menerbitkan jurnal Pesantren dari 1984 hingga 1990. P3M menggelar halaqah dengan para kiai, serta pelatihan manajemen, koperasi, dan teknologi tepat guna.

Pola ini, membangun lalu menyerahkan, menjadi ciri Syarwani. Dua tahun setelah P3M berdiri, ia memimpin lembaga baru: Lajnah Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia NU, cikal bakal Lakpesdam, dengan Nasihin Hasan sebagai salah satu wakilnya. Setahun setelah Muktamar Situbondo memutuskan NU kembali ke khittah, metode LP3ES dan P3M masuk ke tubuh NU sendiri.

Dari Ottawa ke Beirut

Jaringan yang ia rajut di dunia LSM melampaui batas negara. Pada Oktober 1984, Canadian Council for International Cooperation menjadi tuan rumah pertemuan LSM Indonesia dan Kanada di Ottawa. Syarwani hadir mewakili PKBI, tempat ia kelak menjabat Direktur Pelaksana. Kepada Tempo ia mengenang masa ketika keluarga berencana masih dianggap aneh, sehingga kerja PKBI “terpaksa dilakukan dengan bergerilya”.

 

Pertemuan Ottawa berbuah panjang. Pada 14 Maret 1991, Syarwani bersama Abdul Hakim Garuda Nusantara dari YLBHI, Kartjono dari Bina Desa, dan wakil CUSO menandatangani akta Yayasan Persahabatan Indonesia-Kanada atas kuasa belasan lembaga, termasuk LP3ES dan P3M. Di bawah Orde Baru yang curiga pada hubungan LSM dengan pihak asing, yayasan itu menjadi payung pelindung. Kelak asal muasal ini bernama Yappika, aliansi masyarakat sipil yang ikut memantau Pemilu 1999.

Babak berikutnya adalah politik. Syarwani masuk DPR lewat PPP pada 1999, mewakili Cilacap dan sekitarnya, lalu menjabat Duta Besar di Beirut pada 2003–2007. Ia bertahan di PPP hingga dipercaya sebagai Wakil Ketua Majelis Pakar DPP periode 2020–2025. Namun ia tak pernah benar-benar meninggalkan LP3ES. Pada 2018 ia hadir dalam Rapat Umum Anggota Perhimpunan LP3ES yang memilih Didik J. Rachbini sebagai ketua. Tiga tahun kemudian, pada ulang tahun ke-50 pada lembaga itu ia berpesan agar generasi baru tak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga watak dan kepribadian.

Jembatan Perubahan

Hampir setengah abad setelah pelatihan di Pabelan, pesantren telah berubah jauh. Santri kini lazim bisa jadi doktor, politisi, dan diplomat. Didik mencatat Syarwani menempuh jalan itu jauh sebelum generasi Muhaimin Iskandar. Gagasan pesantren sebagai penggerak desa pun kini tercatat sebagai arus utama.

Justru karena itu, peran orang seperti Syarwani mudah terlupa. Ia tidak meninggalkan buku tebal, tidak pula memimpin pesantren dengan ribuan santri. Ia penghubung, santri yang fasih berbicara dalam bahasa para lembaga donor, teknokrat, birokrat, dan kiai sekaligus. Kerja semacam itu jarang tercatat atas nama pelakunya. Dokumentasi tentang andil pribadinya dalam merancang program LP3ES dan P3M masih tipis, sebagian besar kisahnya hidup dalam ingatan rekan seangkatan yang juga kian sedikit.

Ia lahir dan wafat pada tanggal yang sama. Di antara dua 2 November itu, masa ia dilahirkan dan wafatnya, ia bangun jembatan untuk sebuah perubahan. Antara pesantren dan desa, kiai dan peneliti, Indonesia dan dunia. Banyak orang telah melaluo jembatan dan tak lagi melihatnya. Hanya jalan yang terlihat dan perubahan yang siapa saja dapat merasakannya.

Penulis : Abi S Nugroho (Aktivis masyarakat sipil, menempuh magister Sosiologi UIN Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.