Pendidikan Quote Gus Dur
FigurKhazanah Islam

KH Imam Jazuli Dorong Transformasi Pesantren: Santri Harus Tembus Birokrasi dan Dunia Profesional

6
×

KH Imam Jazuli Dorong Transformasi Pesantren: Santri Harus Tembus Birokrasi dan Dunia Profesional

Sebarkan artikel ini
Kiai Jazuli
KH Imam Jazuli mendorong transformasi pesantren, penguatan kompetensi santri, dan dakwah digital NU agar lebih dekat dengan generasi muda.

JAKARTA — Pesantren perlu melahirkan sumber daya manusia yang mampu berkiprah di berbagai sektor, bukan hanya bidang keagamaan. Indonesia membutuhkan lulusan pesantren yang menguasai ilmu agama sekaligus memiliki kompetensi profesional.

Hal itu dikatakan oleh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Imam Jazuli.  Pengasuh pesantrenPondok Pesantren Bina Insan Mulia ini menilai transformasi pendidikan pesantren menjadi kebutuhan mendesak.  Untuk itu santri perlu mendapat ruang untuk berkontribusi dalam birokrasi, dunia usaha, pendidikan, dan berbagai bidang strategis lainnya.”(Upaya) yang harus kita lakukan adalah transformasi di dunia pesantren. Harus kita akui pesantren sangat banyak jumlahnya, tetapi SDM yang dihasilkan oleh pesantren belum sesuai harapan kita. Kenapa? (Sebab), masih terkonsentrasi pada SDM bidang keagamaan. Hampir 90 persen bidangnya keagamaan,” ungkap Kiai Imam Jazuli di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, (24/1).  Selain itu Kiai Imam juga menyoroti perlunya pembaruan metode dakwah agar NU semakin dekat dengan generasi muda.

Transformasi Pesantren Harus Menjawab Kebutuhan Bangsa

KH Imam Jazuli menilai jumlah pesantren yang besar di Indonesia perlu diimbangi pengembangan kompetensi lulusan. Menurutnya, pendidikan pesantren masih banyak berfokus pada bidang keagamaan. Kemudian, pesantren juga memiliki potensi besar untuk menjawab kebutuhan tenaga profesional nasional. Namun, pengembangan kompetensi perlu mengikuti kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja. Karena itu, pengasuh pesantren perlu membuka peluang pendidikan yang lebih beragam. Santri juga membutuhkan keterampilan praktis, wawasan profesional, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. “Jadi, bagaimana caranya (cara mendapatkan SDM berkualitas)? Ya, kita harus melakukan transformasi, bagaimana agar pesantren-pesantren itu mulai berpikir menciptakan SDM andal sesuai dengan kebutuhan negara ini. Dengan begitu, ke depan, kita bisa mengharapkan pesantren itu sebagai solusi untuk bangsa,” jelasnya mengutip laman nu.or.id.

Dalam kesempatan tersebut Kiai Imam juga menyoroti keterlibatan lulusan pesantren dalam birokrasi pemerintahan. Menurutnya, bangsa membutuhkan pejabat yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas. Ia menghubungkan persoalan tata kelola pemerintahan dengan pentingnya menghadirkan sumber daya manusia yang jujur. Dalam pandangannya, pesantren memiliki peran penting untuk menanamkan karakter tersebut. “Hari ini, karena minimnya santri di dunia birokrasi, pada akhirnya birokrasi kita, baik di eksekutif maupun di legislatif, punya masalah. Mereka orang pandai, tapi sedikit orang yang jujur. Nah, orang jujur itu dari pesantren. Nah, orang jujurnya SDM-nya tidak masuk di sana. Kenapa? Sebab, kompetensinya diarahkan bukan pada kompetensi kepentingan bangsa dan negara ini,” paparnya.

Pernyataan itu menekankan pentingnya menggabungkan integritas dengan kompetensi. Santri perlu memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan agar dapat bersaing sekaligus berkontribusi dalam pembangunan. Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat memperluas perannya. Lulusannya berpeluang mengisi berbagai profesi tanpa meninggalkan nilai moral yang mereka pelajari.

Tantangan Menggaet Generasi Muda

Selain pendidikan pesantren, KH Imam Jazuli menilai NU perlu memperbarui pendekatan dakwah. Basis jamaah yang kuat di lingkungan perkampungan perlu diimbangi strategi komunikasi yang menjangkau generasi Z dan generasi Alfa. “Fakta-fakta hari ini, NU ini adanya kan di daerah perkampungan, dan orang-orang yang tua ya, yang gen boomer lah. Nah, agenda besar kita adalah bagaimana NU itu bisa diterima oleh gen alpha dan Gen Z,” ujarnya.

Ia menilai pengajian konvensional tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menjangkau seluruh kelompok masyarakat. NU juga perlu memanfaatkan media digital dan menyajikan konten sesuai kebiasaan generasi muda. “Tentu perlu perubahan paradigma dakwah NU, khususnya dalam dakwah digital, bagaimana menyentuh mereka, itu yang pertama. Kedua, butuh alat-alat yang memang tepat. Kalau saat ini kan alat NU ini tradisional, artinya alat dakwahnya pengajian-pengajian saja,” terangnya.

Menurutnya, konten dakwah perlu menjawab persoalan nyata yang dihadapi anak muda. Penyajian singkat, seperti video berdurasi 60 detik, dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyampaikan pesan secara efektif. Meski demikian, dakwah digital tetap membutuhkan substansi yang kuat. Kreativitas penyajian perlu berjalan bersama pemahaman agama, kesantunan, dan pesan yang memberikan manfaat.

Memfasilitasi Perubahan Pesantren

Selain itu Kiai Imam juga menilai transformasi pesantren membutuhkan dukungan kelembagaan. Pengasuh pesantren perlu terbuka terhadap perubahan, sedangkan PBNU dapat membantu memfasilitasi pengembangan kompetensi lulusan. “Di situlah pentingnya para pengasuh pesantren untuk siap bertransformasi, dan PBNU sebagai ormas harus memfasilitasi ini agar proses transformasi ini bisa berjalan,” tutur KH Imam Jazuli. Dukungan tersebut dapat membantu pesantren memperluas jaringan, mengembangkan program keterampilan, dan memperkuat hubungan dengan berbagai sektor. Dengan begitu, lulusan pesantren memiliki lebih banyak jalur untuk memasuki dunia profesional.

Transformasi pendidikan dan dakwah pada akhirnya saling berkaitan. Pesantren membutuhkan sistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan, sementara NU memerlukan strategi komunikasi yang relevan dengan perkembangan masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.