P3M.OR.ID.Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyiapkan program Passport Talent Santri untuk memetakan bakat dan menghubungkannya dengan kebutuhan industri. Program ini bertujuan membantu santri mengenali kekuatan individu, menentukan arah karier, dan memilih pendidikan yang sesuai. Melalui pendekatan tersebut, PBNU ingin mempertemukan potensi peserta didik dengan peluang kerja yang tersedia. Maka dari itu pendidikan santri tidak hanya berorientasi pada kelulusan, tetapi juga pada kesiapan menghadapi masa depan.
Hal tersebut dikemukakan oleh Wakil Ketua Umum PBNU, H Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid dalam Rapat Koordinasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Depok, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026). Ia menjelaskan bahwa program tersebut telah menjalani uji coba. PBNU menggunakan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sebagai lokasi percontohan.
Berangkat dari Persoalan Salah Pilih Jurusan
Dalam kesempatan tersebut Gus Ipang menjelaskan banyak peserta didik belum memahami bakat dan keterampilan yang mereka miliki. Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat memengaruhi keputusan memilih jurusan, menentukan pekerjaan, hingga membangun karier. Lebih lanjut Gus Ipang menjelaskan dari data menunjukkan besarnya persoalan ketidaksesuaian antara potensi individu dan pilihan pendidikan. Menurut data yang disampaikannya, 97 persen santri atau siswa belum mengetahui jurusan yang ingin mereka pilih. Sementara itu, 83 persen mahasiswa disebut merasa salah memilih jurusan setelah memasuki perguruan tinggi.
Persoalan serupa juga muncul di lingkungan perusahaan. Gus Ipang menyebut 82 persen korporasi memilih talenta yang tidak tepat untuk kebutuhan mereka. “Faktanya adalah 97 persen santri atau siswa tidak tahu mau pilih jurusan apa. 83 persen sudah masuk ternyata salah jurusan. Dan 82 persen dari korporasi mereka memilih talent yang salah,” katanya. Selanjutnya Gus Ipang menjelaskan data tersebut menjadi gambaran tantangan dalam mempertemukan pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja.
Passport Talent Santri Menggali Kekuatan Individu
Melalui Passport Talent Santri, PBNU ingin membantu peserta didik memahami kecenderungan bakat masing-masing. Program ini juga berupaya mengidentifikasi keterampilan karier yang sesuai dengan karakter individu. “Kita sudah melakukan Passport Talent Santri. Kita menggunakan pilot-nya di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng, Jombang. Coba kita lihat tujuan program Passport Talent. Problem utama adalah talent, talenta. Kita tidak bisa mengidentifikasi talent-nya apa. Dengan program ini, kita mengidentifikasi kejeniusan setiap individu. Kedua adalah keterampilan karier yang personal, dan yang paling penting adalah link and match industri dan talent,” ujarnya. Pendekatan tersebut menempatkan pengenalan diri sebagai bagian penting dalam perencanaan pendidikan. Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan, peserta didik dapat mempertimbangkan pilihan studi secara lebih terarah.
Kemudian Gus Ipang meberikan percontohan di Unhasy, PBNU mengumpulkan data dari 1.360 mahasiswa. Hasil pemetaan memperlihatkan beragam kecenderungan individu, termasuk kemampuan mencapai target, perfeksionisme, dan daya saing. Pemetaan itu juga menemukan mahasiswa yang memiliki minat pada bidang perikanan dan perkebunan. Menariknya, kedua bidang tersebut tidak tersedia sebagai program studi di kampus itu. Selain itu temuan tersebut membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara minat mahasiswa dan pilihan pendidikan. Lembaga pendidikan dapat menggunakan informasi semacam ini sebagai bahan pertimbangan saat mengevaluasi pengembangan program studi.
Hal ini menegaskan pentingnya mengenali karakter setiap individu. “Jadi kita tahu persis kekuatan dan kelemahan kita,” katanya. Meski demikian, hasil pemetaan bakat perlu menjadi salah satu bahan pertimbangan, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Minat peserta didik, kemampuan akademik, akses pendidikan, serta peluang kerja juga perlu mendapat perhatian.
PBNU Ingin Hubungkan Bakat Santri dengan Kebutuhan Industri
Bagi PBNU, ungkap Gus Ipang, melihat pemetaan bakat sebagai peluang untuk mempertemukan calon tenaga kerja dengan kebutuhan perusahaan. Program ini diharapkan membantu industri menemukan kandidat yang memiliki kecenderungan keterampilan sesuai pekerjaan. Ia kemudian mencontohkan kebutuhan tenaga kerja pada sektor perikanan dan industri. Hasil pemetaan dapat membantu mengidentifikasi individu yang memiliki potensi untuk mengisi posisi tertentu. “Ini akan memudahkan kita untuk link and match. Contohnya seperti apa? Misalnya kita mau cari yang nelayan, kita mau cari teknisi operator industri, dari sini akan ketahuan, oh anak ini si A, si B, si C ini yang paling kuat. Jadi industri akan dengan mudah ambil ke sini,” ucapnya.
Kebutuhan tersebut menunjukkan pentingnya hubungan yang lebih erat antara lembaga pendidikan dan dunia usaha. Industri membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai, sedangkan peserta didik membutuhkan informasi mengenai peluang karier. Jika berjalan konsisten, pemetaan bakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun hubungan tersebut. Namun, keberhasilannya juga bergantung pada tindak lanjut, pengembangan keterampilan, dan kemitraan dengan perusahaan.
PBNU Siapkan Perluasan Program ke Pesantren Besar
Setelah menjalankan uji coba di Unhasy, PBNU berencana memperluas program Passport Talent Santri. Gus Ipang mengatakan, inisiatif tersebut telah diajukan kepada Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Ke depan, program ini direncanakan menjangkau sejumlah pesantren besar. Langkah tersebut diharapkan memperluas kesempatan santri untuk mengenali potensi dan merencanakan karier berdasarkan kemampuan masing-masing. “Dirjen Pendis akan melakukan inisiasi di pesantren-pesantren besar yang ada. Itu akan kita lakukan,” pungkasnya.
Rencana perluasan ini menjadi tahap penting untuk menguji penerapan pemetaan bakat dalam lingkungan pendidikan pesantren yang beragam. Setiap lembaga memiliki karakteristik peserta didik, sumber daya, dan kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, pelaksanaan program perlu diikuti evaluasi berkala. Dengan evaluasi tersebut, PBNU dan mitra pendidikan dapat menilai manfaat pemetaan bagi pilihan studi, pengembangan keterampilan, serta hubungan lulusan dengan dunia kerja.
Pada akhirnya, Passport Talent Santri membawa gagasan bahwa setiap santri memiliki potensi yang perlu dikenali dan dikembangkan. Tantangan berikutnya ialah memastikan hasil pemetaan berlanjut menjadi bimbingan pendidikan, pelatihan keterampilan, dan akses karier yang nyata.











