P3M.OR.ID. Sebuah pengajian sederhana di Desa Bagu, Lombok Tengah, menjadi titik awal perjalanan Pondok Pesantren Qamarul Huda. Dari ruang belajar yang terbatas, TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin membangun lembaga pendidikan Islam yang berkembang dari madrasah dasar hingga perguruan tinggi. Tuan Guru Bagu, begitu masyarakat mengenalnya, memulai langkah tersebut pada 1962 setelah menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu agama. Ia membawa bekal keilmuan dari Pesantren Darul Qur’an di Desa Bengkel, Lombok Barat, serta pengalaman belajar di Makkah selama kurang lebih satu dekade.
Pada 1 April 1962, ia merintis Madrasah Ibtidaiyah Qamarul Huda. Setahun kemudian, ia mengembangkan pendidikan itu melalui pendirian pondok pesantren. Langkah tersebut menjadi fondasi bagi pertumbuhan Qamarul Huda sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang dikenal di Nusa Tenggara Barat. Perjalanan panjang itu juga menandai pengabdian seorang ulama kepada masyarakat Sasak. Tuan Guru Bagu wafat pada 15 Oktober 2026 dalam usia 90 tahun, meninggalkan warisan pendidikan, dakwah, dan pembinaan spiritual bagi generasi penerus.
Dari Pengajian Lokal Menuju Lembaga Pendidikan
Perkembangan Qamarul Huda tidak berlangsung dalam semalam. Tuan Guru Bagu membangun lembaga ini secara bertahap, mengikuti kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan agama yang berkelanjutan. Pengalaman belajarnya di Pesantren Darul Qur’an di bawah bimbingan TGH. Shaleh Hambali turut membentuk dasar keilmuannya. Ia kemudian melanjutkan pendalaman agama ke Makkah sebelum kembali ke Lombok dan mengembangkan pengajaran bagi masyarakat.
Nama Qamarul Huda juga berkaitan dengan perjalanan pendidikannya. Nama tersebut merujuk pada tempat pemondokannya ketika menimba ilmu di Pesantren Darul Qur’an, Bengkel. Pilihan itu menghubungkan lembaga yang ia dirikan dengan lingkungan pendidikan yang membentuk dirinya. Dari madrasah awal, Qamarul Huda kemudian memperluas jenjang pendidikan. Pesantren membuka Madrasah Tsanawiyah pada 1968, disusul Madrasah Aliyah pada 1984. Perluasan tersebut memberi kesempatan kepada santri untuk melanjutkan pendidikan dalam lingkungan yang sama. Pesantren juga mengembangkan berbagai jenjang pendidikan lain, termasuk pendidikan anak usia dini dan sekolah kejuruan.
Keinginan memperluas akses pendidikan mendorong Qamarul Huda mengembangkan pendidikan tinggi. Pada 1999, pesantren menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Pertemuan tersebut turut mendorong gagasan pendirian perguruan tinggi di lingkungan pesantren. Melalui kerja sama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy, Qamarul Huda kemudian merintis pendidikan tinggi untuk memperluas kesempatan belajar masyarakat Lombok.
Perkembangan ini memperlihatkan upaya pesantren menjembatani tradisi pendidikan Islam dengan kebutuhan pendidikan lanjutan. Santri tidak hanya memperoleh bekal keagamaan, tetapi juga kesempatan melanjutkan studi secara lebih formal.
Menjaga Warisan Keilmuan dan Dakwah
Qamarul Huda tumbuh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang dekat dengan Nahdlatul Ulama. Pengajaran kitab klasik, pembinaan akhlak, dan penghormatan terhadap sanad keilmuan menjadi bagian penting dari tradisi pendidikannya. Tuan Guru Bagu juga aktif dalam organisasi NU dan pernah mengemban amanah di berbagai tingkatan. Pada masa berikutnya, ia menjadi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Selain mengajar, ia mendalami Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan menjalankan peran sebagai mursyid. Ia juga menulis Zadul Ma’ad, karya yang memuat wirid dan doa bagi santri serta masyarakat. Jejak tersebut menunjukkan bahwa pengabdiannya tidak terbatas pada pendidikan formal. Ia turut membangun tradisi pengajian dan pembinaan spiritual yang menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat.
Qamarul Huda dan Tantangan Meneruskan Perjuangan
Wafatnya Tuan Guru Bagu pada Oktober 2026 menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang ulama dan pendidik. Namun, pesantren yang ia rintis tetap memikul tanggung jawab untuk melanjutkan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Perkembangan Qamarul Huda menunjukkan bahwa lembaga pesantren dapat tumbuh melalui proses panjang, dimulai dari pengajaran sederhana hingga membangun jenjang pendidikan yang lebih luas. Pertumbuhan tersebut membutuhkan ketekunan, dukungan masyarakat, dan komitmen menjaga mutu pendidikan.
Bagi generasi penerus, warisan Tuan Guru Bagu bukan hanya berupa bangunan atau unit pendidikan. Warisan itu juga mencakup tradisi keilmuan, pembentukan akhlak, dan semangat melayani masyarakat melalui pendidikan Islam. Sejarah Qamarul Huda akhirnya menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Islam di Lombok. Dari Desa Bagu, upaya seorang ulama merintis pengajaran agama berkembang menjadi lembaga yang membawa harapan pendidikan bagi generasi berikutnya.













