Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Pesantren Cijawura Perkuat Budaya Peduli Lingkungan Lewat Pengelolaan Sampah

205
×

Pesantren Cijawura Perkuat Budaya Peduli Lingkungan Lewat Pengelolaan Sampah

Sebarkan artikel ini
pengelolaan sampah
Pesantren Cijawura Bandung memperkuat budaya peduli lingkungan melalui program pengelolaan sampah bersama P3M dan CCEP Indonesia.

P3M.OR.ID. Peresmian Rumah Pengelolaan Sampah di Pondok Pesantren Cijawura Bandung menjadi langkah penting dalam membangun budaya peduli lingkungan. Program ini lahir melalui kolaborasi antara P3M dan CCEP Indonesia bersama pihak pesantren. Kehadiran fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah. Program ini juga menjadi simbol komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pesantren yang bersih dan berkelanjutan.

Pengasuh Pondok Pesantren Cijawura, KH. Asep Usman Rosadi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam program tersebut. Ia menilai persoalan sampah  bukan hal yang sepele karena berdampak langsung pada kenyamanan dan kualitas belajar santri. “Kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa kesadaran individu dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, sulit bagi kita menciptakan suasana yang bersih, aman, dan nyaman,” ujarnya saat peresmian rumah sampah pesantren.  Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup hanya melalui pembangunan fasilitas. Program membutuhkan pengawasan dan pendampingan secara rutin agar semangat para santri tetap terjaga. Ia berharap evaluasi berkala dan kompetisi antar pesantren dapat mendorong motivasi santri dalam mengelola sampah.

Sementara itu Direktur P3M, KH. Sarmidi Husna, MA, menegaskan bahwa kesadaran kolektif menjadi aspek terpenting dalam program tersebut. Ia menilai bangunan fisik hanya menjadi sarana pendukung. “Sesungguhnya yang paling penting bukanlah infrastruktur atau bangunan yang ada, melainkan tumbuhnya kesadaran dalam mengelola sampah secara mandiri,” tegasnya. Selain itu Kiai Sarmidi juga mengingatkan bahwa masa belajar santri di pesantren terbatas. Karena itu, budaya pengelolaan sampah harus terus ada pada generasi berikutnya. P3M bahkan mendorong pengelola pesantren untuk belajar dari praktik baik pesantren lain yang telah memiliki sistem pengelolaan lebih maju. P3M sendiri, lanjut berencana memperkuat kemampuan santri melalui pelatihan pengelolaan sampah bersertifikat. Harapannya program tersebut melahirkan generasi muda yang mampu menjadi penggerak lingkungan di masyarakat. “Ke depan mereka dapat menjadi penggerak lingkungan, narasumber, bahkan pelopor pengelolaan sampah di daerahnya masing-masing,” ungkapnya.

Pengelolaan Sampah Di Pesantren CIjawura

Dukungan juga datang dari CCEP Indonesia. Perwakilan CCEP Indonesia, Kang Adnan, mengapresiasi semangat santri dan pengelola rumah sampah yang terus menjalankan program secara konsisten. Ia menyebut persoalan sampah di Bandung dan sekitarnya membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk pesantren. “Peresmian ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal  dari komitmen bersama untuk menjaga semangat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan,” katanya.  Selain itu, lanjutnya sampah memiliki nilai ekonomi jika pengeloaannya benar. Sampah organik dapat menjadi kompos, sementara botol plastik pihak pesantren dapat dapat menjualanya.

Budaya menjaga kebersihan sebenarnya telah lama hidup di lingkungan pesantren. Para santri rutin membersihkan area pesantren setiap hari. Kegiatan kerja bakti atau roan juga berlangsung setiap Ahad dengan melibatkan seluruh santri. Namun sebelumnya, sistem pengelolaan sampah masih berjalan secara alami dan belum terstruktur. Program kerja sama bersama P3M dan CCEP Indonesia kemudian memperkuat sistem tersebut melalui penyediaan fasilitas dan pelatihan.“Setelah adanya program P3M dan CCEP Indonesia, pengelolaan sampah menjadi lebih sistematis, baik dari sisi infrastruktur maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” jelas salah satu pengasuh pesantren.

Pesantren kini memiliki aturan tertulis terkait pengelolaan sampah. Aturan tersebut ada dan terpampang pada setiap asrama. Isinya mencakup kewajiban menjaga kebersihan hingga sanksi bagi pelanggaran. Para pengasuh juga menerapkan pendekatan keteladanan secara langsung kepada santri. “Santri dianjurkan untuk langsung memungut sampah yang ditemui di lingkungan pesantren. Dakwah tidak hanya melalui lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata,” ujarnya. Program pengolahan sampah di pesantren telah berjalan selama sekitar lima bulan. Meski menunjukkan perkembangan positif, program masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah gangguan hama tikus yang mengganggu pengolahan sampah organik dan budidaya maggot. Selain itu, sebagian santri masih belum terbiasa memilah sampah dengan benar, terutama untuk kategori sampah B3. “Kesadaran sebagian santri terhadap pengelolaan sampah juga masih perlu adanya peningkatan,” ungkap salah satu pengelola program.

Sampah Organik

Meski demikian, sistem pengelolaan mulai berjalan lebih rutin. Sampah anorganik seperti botol plastik dipilah setiap dua minggu sekali. Para santri juga membersihkan sampah yang masih memiliki nilai daur ulang. Sementara itu, pengolahan sampah organik dilakukan setiap hari. Sisa makanan santri dimanfaatkan sebagai pakan maggot dan diolah melalui fasilitas Loseda.
Taman Loseda menjadi salah satu inovasi dalam program tersebut. Area tersebut dikembangkan menjadi taman edukasi lingkungan di setiap asrama pesantren.
“Loseda telah tersedia di setiap asrama dan dikemas dalam bentuk taman edukatif sehingga santri dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan pengolahan sampah tanpa merasa terganggu,” jelas pengelola program. Data program menunjukkan hasil yang cukup positif. Sebelum program berjalan, jumlah sampah di pesantren mencapai sekitar 5,5 ton. Setelah empat bulan pelaksanaan, sekitar 31 persen sampah berhasil diolah atau setara sekitar 550 kilogram.

Walau belum maksimal, pesantren menilai program ini berhasil membangun perubahan budaya di lingkungan santri. “Nilai paling penting dari program ini adalah aspek edukasi bagi santri. Mereka mulai memahami bahwa sampah bukan sekadar limbah, tetapi sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan secara bijak,” ujar pengelola program.
Dalam forum evaluasi program, para peserta juga menyoroti pentingnya edukasi dan pembentukan budaya sadar lingkungan. Mereka menilai tantangan terbesar bukan hanya soal teknis pengelolaan sampah.

“Permasalahan utama bukan semata pada sistem pengelolaan, melainkan pada proses edukasi dan pembentukan budaya,” tegas peserta FGD. Ke depan, Pesantren Cijawura berkomitmen melanjutkan program bersama P3M, Dinas Lingkungan Hidup, dan pemerintah daerah. Edukasi lingkungan akan terus diperkuat melalui pembelajaran, poster, sosialisasi, dan keteladanan langsung. Program ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan pesantren. Program tersebut juga membentuk karakter santri agar lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Dengan dukungan berbagai pihak, Pesantren Cijawura diharapkan mampu menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang berkelanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.