Pendidikan Quote Gus Dur
Dunia IslamKhazanah IslamPilihan Editor

KangSantri AI Diluncurkan, Lebih dari 7.000 Kitab Kuning Masuk Ekosistem Kecerdasan Buatan

501
×

KangSantri AI Diluncurkan, Lebih dari 7.000 Kitab Kuning Masuk Ekosistem Kecerdasan Buatan

Sebarkan artikel ini
ai
Lakpesdam meluncurkan KangSantri AI berbasis lebih dari 7.000 kitab untuk memperluas akses literatur melalui teknologi kecerdasan buatan.

P3M.OR.ID. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul UlamaNahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan KangSantri AI. Platform kecerdasan buatan berbasis literatur pesantren yang merupakan hasil pengembangan oleh kalangan santri. Inovasi ini menjadi langkah baru dalam memperluas akses masyarakat terhadap khazanah keislaman melalui teknologi digital, tanpa meninggalkan tradisi dan sanad keilmuan pesantren.

Peluncuran KangSantri AI berlangsung dalam Talkshow Inovasi I bertajuk Santri Berkarya, Berjejaring, dan Berdaya dalam Ekosistem Digital Indonesia di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Nahdliyin Innovation Summit (NIAS) yang akan berlangsung pada pertengahan Juli 2026. Platform ini juga menggunakan basis lebih dari 7.000 kitab kuning yang selama ini menjadi rujukan utama pendidikan pesantren. Kehadirannya akan memudahkan masyarakat mengakses referensi keislaman secara cepat, akurat, dan berbasis literatur klasik.

 

Santri Tunjukkan Kemampuan Berinovasi di Era Digital

Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU), Ufi Ulfiah, menyampaikan apresiasi atas lahirnya KangSantri AI. Menurutnya, inovasi tersebut membuktikan bahwa santri mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi. “Lakpesdam dan PBNU, tentu merasa sangat senang dan istimewa karena ada santri yang mengembangkan satu platform yang sangat-sangat berguna untuk kita,” ujarnya.

Ia menilai kehadiran KangSantri AI menjadi bukti bahwa komunitas pesantren tidak hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi modern untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat. Selanjutnya Ufi menjelaskan, peluncuran platform tersebut merupakan bagian dari proses menuju Nahdlatul Ulama Innovation Summit. Forum itu akan menjadi ruang bagi warga Nahdliyin untuk menampilkan berbagai inovasi di bidang teknologi, sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat. “Kita juga masih dalam proses pengembangan, sehingga berbagai masukan akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan ke depan,” ujarnya. harapannya KangSantri AI berkembang sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan santri, akademisi, peneliti, hingga masyarakat umum dalam mengembangkan inovasi berbasis nilai-nilai keislaman.

 

Mempermudah Akses Ribuan Kitab Kuning

Founder dan CEO SantriAI.com, Arif Balya, menjelaskan bahwa KangSantri AI tidak dirancang untuk menggantikan otoritas ulama. Platform tersebut hadir sebagai alat bantu yang memudahkan masyarakat memperoleh referensi keislaman dari literatur pesantren. “KangSantri AI bukan untuk menggantikan peran ulama, melainkan menjadi alat bantu yang memudahkan masyarakat mengakses khazanah keilmuan Islam yang selama ini tersimpan dalam ribuan kitab dan referensi pesantren,” kata Arif.

Selain itu Arif menambahkan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan membuka peluang besar bagi pesantren untuk memperluas jangkauan dakwah dan pendidikan. Teknologi dapat mempercepat akses informasi, namun tetap berpijak pada tradisi ilmiah yang telah berkembang selama berabad-abad. Dengan memanfaatkan lebih dari 7.000 kitab kuning sebagai basis data, KangSantri AI diharapkan mampu menghadirkan jawaban yang bersumber dari referensi pesantren. Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya menjaga kekayaan intelektual Islam agar tetap relevan di era digital.

Sementara itu  Mahmud Syaltout, menilai digitalisasi literatur pesantren menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. “Teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat transmisi ilmu dan memperluas kemanfaatan pesantren bagi masyarakat. Karena itu, inovasi yang berangkat dari tradisi keilmuan pesantren perlu terus didorong,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ufi Ulfiah. Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki modal sosial dan intelektual yang kuat untuk mengambil peran dalam transformasi digital Indonesia. “Pesantren memiliki khazanah keilmuan yang sangat kaya. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat hadir dan memberi manfaat lebih luas melalui ruang digital tanpa kehilangan nilai, tradisi, dan sanad keilmuan yang menjadi ciri khas pesantren,” katanya. Menurutnya, pengembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai keilmuan pesantren. Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya memperluas akses, tetapi juga menjaga kualitas referensi yang digunakan masyarakat.

 

Pengguna AI di Indonesia Terus Bertambah

Dalam kesempatan yang sama, praktisi digital Hasanuddin Ali memaparkan hasil survei mengenai perkembangan penggunaan kecerdasan buatan di Indonesia. Ia membagi pengguna AI menjadi tiga kelompok, yaitu AI antusias, AI adaptor, dan AI skeptis. Kelompok AI antusias merupakan pengguna yang aktif memanfaatkan teknologi AI dalam berbagai aktivitas. AI adaptor masih berada pada tahap mencoba dan mempelajari manfaat teknologi tersebut. Sementara AI skeptis cenderung memandang AI secara negatif. “Pada 2024 sekitar 60 persen pengguna internet masih berada pada kategori adaptor, sementara kelompok antusias dan skeptis masing-masing sekitar 20 persen,” katanya.

Hasanuddin menjelaskan bahwa hasil survei pada 2025 menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Jumlah pengguna yang masuk kategori AI antusias meningkat hingga sekitar 40 persen. Menurutnya, tren tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin terbuka terhadap pemanfaatan kecerdasan buatan. Karena itu, santri memiliki peluang besar untuk menjadi pelaku utama dalam pengembangan teknologi berbasis nilai-nilai keislaman. Ia juga mengingatkan agar santri tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Santri perlu mengambil peran sebagai inovator yang mampu menciptakan solusi digital sesuai kebutuhan masyarakat.

Melalui peluncuran KangSantri AI, PBNU menunjukkan komitmennya dalam memperkuat transformasi digital di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kehadiran platform ini menjadi langkah awal membangun ekosistem teknologi yang berpijak pada tradisi pesantren. Rangkaian kegiatan menuju Nahdliyin Innovation Summit juga diharapkan melahirkan lebih banyak inovasi dari kalangan santri. Fokus pengembangannya meliputi kecerdasan buatan, kewirausahaan digital, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat. Dengan memadukan kekayaan literatur pesantren dan perkembangan teknologi AI, KangSantri AI diharapkan mampu menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan kebutuhan masyarakat digital masa kini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.