Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

Kisah Panjang Dakwah Kiai Manan Banyuwangi dan Pendidikan Islam di Jawa Timur

1146
×

Kisah Panjang Dakwah Kiai Manan Banyuwangi dan Pendidikan Islam di Jawa Timur

Sebarkan artikel ini
profil kiai
Mbah Kiai Abdul Manan ulama kharismatik dari Banyuwangi

P3M.OR.ID. Sosok ulama selalu memiliki posisi penting dalam kehidupan umat Islam. Para ulama tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sosial. Salah satunya adalah KH Abdul Manan atau populer disebu Mbah Kiai Manan. Ulama Banyuwangi ini namanya terus hidup dalam ingatan masyarakat. Mbah Mannan adalah figur ulama kharismatik yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, namun juga membangun fondasi pendidikan Islam melalui pesantren. Selain itu juga aktif membina masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur.

Perjalanan hidup Kiai Mannan bermula dari Kediri pada tahun 1870. Beliau lahir dari pasangan KH Moh Ilyas, seorang ulama asal Banten, dan Umi Kultsum. Sejak usia dini tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ayahnya membawanya ke Ngadirejo, Kandangan. Di tempat itu, sang ayah mendirikan pesantren sekaligus menjadi guru pertama yang membentuk dasar keilmuan dan karakter Manan kecil.

Berkelana Menuntut Ilmu

Lingkungan religius membuat KH Abdul Manan mencintai ilmu sejak muda dan memilih menjadi santri kelana. Tercatat beliau nyantri di berbagai pesantren untuk memperdalam ilmu agama. Pada usia 12 tahun. Beliau pernah belajar kepada Mbah Nawawi di Pesantren Ringin Agung. Setelah iyu melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Gerompol.
Selain terkenal cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu hikmah dan bela diri. Kemampuan bela diri membuat masyarakat menjulukinya sebagai “jagoan”. Dalam beberapa kisahnya, beliau menghadang para perampok yang meresahkan warga. Meski demikian tetap menjalani kehidupan spiritual yang ketat. Mbah Manna rutin melakukan riyadhah seperti puasa mutih, ngrowot, serta berbagai amalan wirid yang memperkuat kedalaman spiritualnya.

Perjalanan menuntut ilmu KH Abdul Manan terus berlanjut ke berbagai pesantren besar di Jawa, seperti di Wlingi Blitar, Sidoarjo, Jombang, hingga Ponorogo. Salah satu fase penting dalam perjalanan intelektualnya terjadi ketika belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Pengembaraan keilmuan tidak berhenti di dalam negeri, KH Abdul Manan melanjutkan ke Tanah Suci di Makkah dan Madinah. Setelah menunaikan ibadah haji, beliau menimba ilmu selama kurang lebih sembilan tahun. Saat di tanah suci beliau belajar kepada berbagai syekh serta ulama Nusantara yang menetap di Haramain.

Sekembalinya ke Indonesia,  Kiai Manan sempat membantu mengajar di pesantren milik ayahnya. Namun, semangatnya untuk terus berkembang membawanya kembali merantau hingga akhirnya tiba di Pesantren Al Ashriyah Jalen di Banyuwangi. Pengasuh pesantren, Kiai Abdul Basyar, melihat keilmuan dan akhlaknya yang menonjol kemudian mengangkatnya sebagai lurah pesantren. Bahkan kemudian menikahkannya dengan putrinya bernama Siti Asmiyatun.

Titik Penting

Titik penting dalam kiprahnya terjadi pada tahun 1932. Setelah menjelajahi sejumlah wilayah di Banyuwangi, beliau memilih Sumberberas, Muncar, sebagai tempat mendirikan pesantren. Di atas tanah beliau beli dari Haji Sanusi maka berdirilag Pondok Pesantren Minhajut Thullab. Berawal dari rumah dan mushala kecil dengan santri tinggal pada bangunan bambu beratap alang-alang. pesantren tersebut berkembang pesat. Santri datang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu. Dari pesantren inilah, cikal bakal perkembangan Nahdlatul Ulama di Banyuwangi mulai tumbuh.

KH Abdul Manan mengajar langsung kitab-kitab penting seperti Al-Hikam dan Tafsir Jalalain. Ia mendidik santri dengan disiplin tinggi, tetapi tetap penuh kasih. Beliau dengan nasihat khasnya kepada para santri agar memiliki tiga kemampuan utama, yaitu tutur (kemampuan memberi nasihat), wuwur (kemampuan berbagi), dan sembur (kemampuan khusus yang bermanfaat bagi masyarakat). Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi karakter santri yang dibinanya

Kiai  Manan wafat pada Jumat Kliwon, 15 Syawal 1399 H atau 1979 M dalam usia 108 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Pesantren Minhajut Thullab, di belakang Masjid Baitus Sholihin. Hingga kini, pesantren yang ia dirikan terus berkembang dan melahirkan generasi penerus yang melanjutkan dakwah serta pendidikan Islam.
Warisan KH Abdul Manan tidak hanya berupa bangunan pesantren, tetapi juga nilai-nilai keilmuan, keteladanan, dan dedikasi terhadap masyarakat. Ia membuktikan bahwa seorang ulama dapat berperan sebagai pendidik, pemimpin sosial, sekaligus penjaga moral umat. Namanya tetap hidup sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Banyuwangi dan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.