Kabar P3MPilihan Editor

P3M Adakan Pelatihan Musrenbang Desa di Boyolali

78
×

P3M Adakan Pelatihan Musrenbang Desa di Boyolali

Sebarkan artikel ini
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bekerja sama dengan Fatayat NU Ancab Cepogo, Boyolali Jawa Tengah melaksanakan pelatihan Membangun Ruang Keterlibatan Komunitas Masjid Dalam Musrembang Desa. Pelatihan yang bertempat di Pondok Pesantren Istiqomah, Cepogo, Boyolali itu rencanya berlangsung selama empat hari dari tanggal 13 sampai 16 Maret 2013.
Pelatihan sendiri dibuka langsung oleh Ibu Camat Cepogo Boyolali Siti Askariyah. Pada sambutanya, Siti Askariyah mengapresiasi dan mendukung acara yang digagas oleh Fatayat NU bekerjasama dengan P3M lantaran dinilai mampu membantu mengentaskan kemiskinan di Boyolali.
Sementara itu, Rois Syuriah PBNU, K.H. Masdar F. Mas’udi menghimbau untuk menjadikan masjid sebagai center gerakan umat untuk memakmurkan masjid dan memakmurkan bumi Allah SWT. Kalau ini sudah menjadi gerakan bersama akan membantu pemerintah untuk merealisasikan program pemerintah tanpa harus mengeluarkan dana sosialisasi.
Lebih lanjut dia mengatakan selama ini pemerintah desa jarang sekali terdengar
membuat perencanaan pembangunan dan penganggaran yang lebih partisipatif berbasis kebutuhan desa. Padahal soal itu sedikitnya sudah ada dua Undang-Undang (UU) dan satu Peraturan Pemerintah. Di antaranya adalah UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.
“Ketiga payung hukum tersebut sebenarnya memberikan memberikan peluang bagi desa untuk membuat perencanaan pembangunan dan penganggaran yang lebih partisipatif berbasis kebutuhan desa,” katanya di tempat yang sama.
Menurut Masdar wewenang yang diberikan UU tersebut belum menunjukan hasil yang maksimal. Karena dalam prosesnya tidak semua elemen desa bisa terlibat sementara hasilnya sering kali rumusan antara kebutuhan dan keinginan kurang bisa terbedakan dengan baik, hasil Musrembang Desa juga sering tidak menampung kebutuhan umat terutama yang miskin dan marjinal.
“Merujuk masa Rasulullah, kala itu Rasul kerap mendiskusikan permasalahan umat di masjid baik permasalahan ekonomi maupun sosial politik. Karenanya sekaranglah saatnya komunitas masjid dalam hal ini Ta’mir Masjid bisa menampung apa yang dirasakan oleh umat untuk selanjutnya bisa mencari jalan penyelesainya secara bersama,” pungkasnya. (mad/jto)
Post: suara kawan, 14 Maret 2013
Repost: P3M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *