P3M.OR.ID. Sejarah Masjid Ibrahimi tidak hanya mencerminkan perjalanan panjang peradaban Islam, tetapi juga menggambarkan dinamika politik dan keagamaan di Palestina. Masjid yang berada di Kota Tua Hebron (Al-Khalil), Tepi Barat, ini menjadi salah satu situs paling suci bagi umat Islam. Selain itu, tempat yang sama juga mendapatkan situs penting bagi umat Yahudi dan Kristen karena mereka yakin sebagai lokasi makam Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya. Hingga kini, **Sejarah Masjid Ibrahimi** terus menjadi perhatian dunia karena nilai spiritual, budaya, dan sejarahnya yang sangat besar.
Menurut berbagai catatan sejarah, Masjid Ibrahimi berdiri di atas kompleks makam yang telah berusia lebih dari dua ribu tahun. Banyak yang percaya tempat tersebut sebagai lokasi peristirahatan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishaq AS, Nabi Yaqub AS, beserta anggota keluarga mereka. Karena itu, kawasan ini menjadi salah satu situs suci bagi tiga agama Abrahamik. Bagi umat Islam, bangunan tersebut masyhur sebagai Masjid Ibrahimi. Sementara itu, umat Yahudi dan Kristen mengenalnya sebagai Gua Para Bapa Leluhur . Perbedaan penyebutan tersebut menunjukkan besarnya nilai sejarah yang melekat pada kawasan itu.
Masjid Ibrahimi Mengalami Pergantian Fungsi Sepanjang Sejarah
Perjalanan Sejarah Masjid Ibrahimi berlangsung selama berabad-abad. Pada masa Perang Salib abad ke-12, pasukan Salib mengubah masjid menjadi gereja bergaya Romanesque. Namun, setelah Dinasti Ayyubiyah berhasil merebut kembali wilayah tersebut, bangunan itu dikembalikan menjadi masjid. Selanjutnya, pada masa Kesultanan Mamluk dan Utsmaniyah, Masjid Ibrahimi menjadi pusat ibadah umat Islam. Selama periode itu, akses ke kompleks tersebut hanya diberikan kepada umat Muslim. Kebijakan tersebut berlangsung hingga memasuki masa Mandat Britania di Palestina.
Perubahan besar terjadi setelah Israel menduduki Tepi Barat pada 1967. Sejak saat itu, akses umat Yahudi ke kompleks Masjid Ibrahimi kembali dibuka. Di sisi lain, Israel membangun permukiman Kiryat Arba di sekitar Hebron yang kemudian dihuni ribuan pemukim Yahudi. Situasi tersebut memicu ketegangan berkepanjangan antara warga Palestina dan para pemukim. Perselisihan mengenai hak beribadah, pengelolaan kawasan, hingga status hukum situs terus berlangsung selama puluhan tahun.
Puncak tragedi terjadi pada Februari 1994 ketika Baruch Goldstein, seorang pemukim Yahudi, menembaki jamaah Muslim yang sedang melaksanakan salat Subuh pada bulan Ramadan. Serangan itu menewaskan 29 warga Palestina dan melukai lebih dari 100 orang. Setelah tragedi tersebut, otoritas Israel membagi area ibadah menjadi dua bagian. Sebagian besar ruang digunakan umat Yahudi, sedangkan sisanya diperuntukkan bagi umat Islam. Pembagian itu masih berlaku hingga sekarang dan disertai pembatasan akses pada hari-hari besar keagamaan masing-masing.
UNESCO Menetapkan Masjid Ibrahimi sebagai Warisan Dunia
Nilai sejarah Masjid Ibrahimi mendapat pengakuan internasional pada 2017. UNESCO menetapkan Kota Tua Hebron beserta Masjid Ibrahimi sebagai Situs Warisan Dunia milik Negara Palestina yang berada dalam kondisi terancam. Penetapan tersebut menegaskan pentingnya melindungi kawasan bersejarah itu dari kerusakan maupun perubahan yang dapat menghilangkan nilai budayanya. Namun, keputusan UNESCO memicu penolakan dari Israel karena negara tersebut juga menganggap situs itu sebagai bagian penting dari sejarah bangsa Yahudi.
Sejak meningkatnya konflik di Palestina pada Oktober 2023, kondisi Masjid Ibrahimi kembali menjadi sorotan. Otoritas Palestina menilai Israel semakin memperketat pembatasan terhadap jamaah Muslim. Pembatasan tersebut mencakup larangan azan pada waktu tertentu, penutupan akses, hingga pengambilalihan sebagian kewenangan pengelolaan kawasan. Sebaliknya, pemerintah Israel menyatakan kebijakan tersebut bertujuan mempertahankan pengaturan yang berlaku serta meningkatkan pengelolaan lokasi. Perbedaan pandangan itu membuat sengketa mengenai Masjid Ibrahimi terus berlanjut dan menjadi perhatian berbagai negara.
Sejarah Masjid tersebut menunjukkan bahwa bangunan bersejarah tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menjadi simbol identitas, keyakinan, dan perjalanan panjang peradaban manusia. Selama lebih dari 1.400 tahun, masjid ini menjadi tempat ibadah umat Islam sekaligus saksi pergantian kekuasaan, konflik, dan upaya pelestarian warisan budaya. Karena itu, pelestarian masjid bersejarah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat Palestina, tetapi juga komunitas internasional. Upaya tersebut penting agar generasi mendatang tetap dapat mengenal Sejarah Masjid Ibrahimi sebagai salah satu peninggalan berharga peradaban Islam sekaligus simbol penting dalam sejarah dunia.
–













