Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

PBNU Susun Modul Kesehatan Reproduksi Santri, Bakal Masuk Kurikulum Pesantren?

155
×

PBNU Susun Modul Kesehatan Reproduksi Santri, Bakal Masuk Kurikulum Pesantren?

Sebarkan artikel ini
berita pesantren
Suasana pesantren. PBNU menyusun Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri bersama pengasuh pesantren untuk memperkuat kurikulum berbasis nilai kepesantrenan.

P3M.OR.ID. Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri menjadi langkah strategis yang sedang dalam persiapan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Melalui Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU), organisasi tersebut menggandeng para pengasuh pesantren dari Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk menyusun materi yang sesuai dengan karakter pendidikan pesantren.

Proses penyusunan modul berlangsung dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026). Kegiatan itu tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang menyerap pengalaman para kiai, nyai, gus, dan ning yang selama ini mendampingi kehidupan santri sehari-hari. PBNU memandang pendidikan kesehatan reproduksi menyusunnya tidak dapat dari sudut pandang akademik semata. Materi tersebut harus lahir dari pengalaman nyata pesantren agar mudah menerapkannya tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman dan tradisi kepesantrenan.

Pengasuh Pesantren Menjadi Kunci

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Alissa Qatrunnada Wahid, menegaskan bahwa pengasuh pesantren memiliki posisi paling penting dalam keberhasilan pendidikan kesehatan reproduksi bagi santri. Menurutnya, para pengasuh memahami kultur pesantren lebih baik dsripada pihak lain. Mereka juga mengetahui pendekatan yang tepat agar materi sensitif tersebut santri dapat menerimanya dapat tanpa menimbulkan kesalahpahaman. “Kalau kita mau membuat pendidikan kesehatan reproduksi untuk santri, mau tidak mau kita harus mulai dengan para pengasuh. Mereka yang punya wewenang terbesar untuk mendidik dan mengasuh para santri,” kata Alissa.

Ia menjelaskan bahwa penyusunan Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri harus berangkat dari kebutuhan nyata di lingkungan pesantren. Karena itu, PBNU sengaja melibatkan para gus, ning, dan nyai agar setiap materi benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan. “Kita harus memikirkan model pendidikan kesehatan reproduksi yang paling tepat untuk pesantren itu seperti apa. Nah, yang tahu itu adalah para gus, para ning. Jadi, dalam rangka menyusun pendekatannya itulah, kita melibatkan para gus, para ning ini,” ujarnya.

Alissa optimistis gerakan tersebut akan berkembang secara organik apabila para pengasuh telah memahami urgensi pendidikan kesehatan reproduksi. Ia meyakini setiap pesantren nantinya mampu mengembangkan program sesuai karakter masing-masing tanpa harus selalu menunggu arahan PBNU. “Kalau para pengasuhnya, para gus dan ning ini sudah memahami betapa kompleksnya situasinya, insyaallah saya yakin gerakannya justru bisa dibuat sendiri oleh para gus dan ning, tidak menunggu PBNU,” katanya melansir laman nu.or.id.

Tahapan Implementasi

Alissa menjelaskan bahwa halaqah tersebut merupakan tahap awal penyusunan Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri.  PBNU masih akan menggelar sejumlah forum serupa untuk menghimpun lebih banyak masukan dari berbagai pesantren di Indonesia. Setelah seluruh gagasan terkumpul, tim penyusun akan merumuskannya menjadi modul yang siap diterapkan di lingkungan pesantren. “Kita akan melakukan beberapa kali pelibatan seperti ini. Setelah itu, kita akan masuk ke tahap pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren itu sendiri. Jadi, akan ada tahapan-tahapan yang berlanjut,” jelasnya.

Selain menyusun modul, PBNU juga berencana melakukan silaturahim kepada para kiai dan nyai sepuh. Langkah tersebut bertujuan memperoleh restu sekaligus menjelaskan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi bukan materi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. “Kita juga akan sowan ke kiai-kiai, terutama kiai-kiai dan nyai-nyai sepuh untuk mendapatkan restu, mendapatkan dukungan dari beliau-beliau, dan juga menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi itu tidak seperti stigma yang selama ini ada,” tutur Alissa.

Ia menambahkan seluruh pandangan dari peserta halaqah akan menjadi fondasi penyusunan modul nasional. “Acara halaqah bersama para pengasuh pesantren ini merangkum usulan-usulan dan pandangan dari para Gus, para Ning, dan para Nyai. Setelah itu akan kita bentuk dalam sebuah modul. Itulah yang nanti akan kita aplikasikan di berbagai kegiatan,” pungkasnya.

Perlu Masuk Kurikulum Pesantren

Penyusun  Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri, KH Faqihuddin Abdul Kodir, menilai keberhasilan program sangat bergantung pada komitmen para pengasuh pesantren. Menurut Guru Besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon itu, pengaruh pengasuh tidak hanya dirasakan para santri. Mereka juga menentukan arah kebijakan pesantren, mulai dari kurikulum hingga pembinaan tenaga pendidik. “Pengasuh memiliki pengaruh yang sangat besar, bukan hanya kepada santri, tetapi juga kepada ustadz-ustadzah, musyrif dan musyrifah, alumni, keluarga, hingga arah kurikulum pesantren. Karena itu, penting sekali para pengasuh memiliki visi yang sama mengenai amanah, khidmah, dan maslahah yang diemban pesantren,” ujarnya.

Faqihuddin mengingatkan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi tidak boleh dipahami sebatas pencegahan kekerasan seksual. Menurutnya, materi tersebut harus membahas perkembangan remaja secara utuh. Santri perlu memahami perubahan biologis, psikologis, kesehatan diri, hingga cara membangun hubungan sosial yang sehat. “Dari visi itu kemudian diterjemahkan dalam bentuk yang lebih operasional, seperti kurikulum, peraturan pesantren, ceramah, maupun materi pembelajaran yang membantu santri mengenali dirinya, menjaga kesehatan, memahami perkembangan psikologisnya, serta menghormati orang lain,” katanya. Ia melihat kesadaran para pengasuh sudah tumbuh dengan baik. Tantangan berikutnya ialah menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi kebijakan nyata di lingkungan pesantren.

Pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Muhammad bin Ja’far atau Kang Muhammad BJ, menyambut baik inisiatif PBNU.  Kiai Muhammad menilai pendidikan kesehatan reproduksi menjadi bagian dari ikhtiar pesantren menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang telah diwariskan para ulama. “Ini acara yang sangat bagus dan sangat positif untuk memberikan pencerahan kepada para pengambil kebijakan di pesantren sekaligus mengedukasi dan mengadvokasi bagaimana ke depan pesantren terus melakukan inovasi,” ujarnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.