Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

Ekosistem Beras Berbasis Pesantren Perkuat Ketahanan Pangan

200
×

Ekosistem Beras Berbasis Pesantren Perkuat Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
beras
Ekosistem beras berbasis pesantren dikembangkan IPB University dan Bank Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan serta mengendalikan inflasi.

P3M.OR.ID. Program pengembangan ekosistem beras berbasis pesantren mulai menunjukkan arah baru dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Inisiatif ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi beras, tetapi juga membangun rantai pasok yang lebih efisien sehingga mampu menekan inflasi pangan di tingkat daerah. Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam (CI-BEST) IPB University bersama Bank Indonesia menginisiasi program tersebut melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Program berlangsung di Kabupaten Lamongan dan Jombang, Jawa Timur, dengan melibatkan pondok pesantren, pemerintah daerah, petani, koperasi, serta badan usaha milik daerah.

harapannya kolaborasi itu menjadi model penguatan ekonomi berbasis pesantren ini dapat mempraktikkannya di pesantren lainnya. Selain meningkatkan kesejahteraan petani, program juga bertujuan menjaga stabilitas harga pangan melalui distribusi yang lebih singkat dan terintegrasi.

Ekosistem Beras Berbasis Pesantren

Kegiatan Forum Sinergi dan Diskusi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Lamongan di Pondok Pesantren Sunan Drajat. Acara tersebut mempertemukan pemerintah, petani, akademisi, dan pelaku usaha. Pertemuan tersebut membahas strategi membangun ekosistem beras berbasis pesantren dari hulu hingga hilir. Seluruh pihak menyepakati pentingnya kerja sama agar distribusi pangan menjadi lebih cepat, murah, dan berkelanjutan.

Perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Yason Taufik Akbar, MSc, menjelaskan bahwa rantai distribusi pangan selama ini masih terlalu panjang. Kondisi itu menyebabkan harga beras meningkat sebelum sampai kepada masyarakat. “Jalur perdagangan pangan kita sering kali melewati lima hingga enam titik yang membuat harga di tingkat konsumen melambung. Melalui program ini, kita memotong rantai tersebut agar jalur distribusi menjadi efisien, langsung dari petani, diproses di RMU (Rice Milling Unit) ponpes, dan diserap oleh ponpes serta BUMD,” ujarnya.

Menurut Yason, model tersebut memberikan kepastian pasar bagi petani. Selain itu, masyarakat memperoleh harga yang lebih stabil karena distribusi berlangsung lebih singkat. Ia juga mendorong penerapan sistem contract farming. Pendekatan itu berpadu dengan pemanfaatan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif sebagai sumber pembiayaan petani.

Pondok Pesantren Jadi Motor Penggerak Ekonomi Lokal

Pondok Pesantren Sunan Drajat menjadi salah satu contoh keberhasilan pengembangan ekonomi berbasis pesantren. Lembaga pendidikan tersebut telah membangun berbagai unit usaha yang saling terintegrasi. Direktur Riset Ponpes Sunan Drajat, Didik, menjelaskan bahwa pesantren kini mengelola jaringan Toserba dengan sekitar 100 gerai. Jaringan itu akan terus berkembang melalui pembukaan cabang baru di Kabupaten Sidoarjo.

Selain sektor perdagangan, pesantren juga mengembangkan usaha peternakan ayam pedaging. Kapasitas kandang mencapai sekitar 600.000 ekor sehingga mampu menopang kebutuhan pangan sekaligus memperkuat ekonomi pesantren. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pesantren dapat berkembang menjadi pusat ekonomi masyarakat. Model itu juga membuka peluang terbentuknya ekosistem usaha yang saling mendukung.

Forum di Lamongan juga menjadi ruang dialog antara petani Desa Canggah dengan para peneliti IPB University. Para petani menyampaikan berbagai kendala yang mereka hadapi selama proses budidaya. Mereka mengeluhkan keterbatasan air, serangan tikus, serangan wereng, hingga persoalan pemupukan. Hambatan tersebut memengaruhi produktivitas dan kualitas hasil panen. Sebagai tindak lanjut, tim ahli IPB University menyiapkan program pendampingan berbasis teknologi. Pendampingan meliputi penerapan bioimunisasi, rekomendasi varietas adaptif, pemasangan *automatic weather station* (AWS), analisis kandungan tanah, serta pembangunan lahan demonstrasi seluas tiga hektare bersama Gapoktan. Pendekatan tersebut akan meningkatkan efisiensi budidaya. Petani juga memperoleh pendampingan berbasis data sehingga keputusan budidaya menjadi lebih tepat.

Ekosistem Beras Berbasis Pesantren Diperluas ke Jombang

Program kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren Fathul Ulum, Kabupaten Jombang. Fokus utama kegiatan ialah membangun pola kemitraan antara pesantren dengan Gabungan Kelompok Tani Desa Sugihwaras. Model kemitraan tersebut dirancang agar mudah diterapkan di berbagai daerah. Dengan demikian, **ekosistem beras berbasis pesantren** tidak hanya berkembang di Jawa Timur.

Yason Taufik Akbar menilai uji coba di Jombang menjadi langkah penting menuju pengembangan model nasional. “Melalui uji coba ekosistem beras di Jombang ini, kita sedang bergerak menuju pembentukan model penguatan pangan berbasis pesantren yang siap direplikasi secara luas di berbagai wilayah Indonesia.” Dalam kegiatan itu, IPB University juga memperkenalkan varietas unggul IPB 9G, IPB 13S, dan IPB 15S. Varietas tersebut dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Koordinator Budidaya IPB University, Dr. Ahmad Junaedi, menjelaskan bahwa berbagai fasilitas pendukung telah tersedia. Infrastruktur tersebut meliputi vertical dryer dan automatic weather station. Produktivitas varietas IPB 9G juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Ketua koperasi petani, Gus Zahir, menyampaikan capaian panen musim pertama. “Panen padi varietas IPB 9G musim tanam pertama rata-rata sebanyak 6,3 ton per hektar. Panen musim tanam kedua diperkirakan akhir Juli 2026.”

Serapan Panen Beri Kepastian Pasar Petani

Rangkaian kegiatan di Jombang ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara petani dan Botani Seed. Kesepakatan tersebut menjamin penyerapan hasil panen varietas IPB 9G selama satu tahun.Kerja sama itu memberi kepastian pasar kepada petani sejak awal masa tanam. Selain itu, petani memiliki jaminan harga sehingga risiko fluktuasi pasar dapat ditekan.

IPB University menilai kepastian pasar merupakan faktor penting dalam meningkatkan minat petani menggunakan benih unggul. Langkah tersebut juga memperkuat keberlanjutan produksi pangan nasional. Melalui kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pondok pesantren, koperasi, BUMD, kelompok tani, dan perguruan tinggi, **ekosistem beras berbasis pesantren** diharapkan menjadi model nasional. Program ini bukan hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan sistem distribusi yang lebih efisien, menjaga stabilitas harga, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendukung pengendalian inflasi pangan secara berkelanjutan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.