Pendidikan Quote Gus Dur
FigurKhazanah IslamPilihan Editor

* Guru Manshur Jembatan Lima, Ahli Falak Betawi yang Menjaga Ilmu, Masjid, dan Semangat Kebangsaan

182
×

* Guru Manshur Jembatan Lima, Ahli Falak Betawi yang Menjaga Ilmu, Masjid, dan Semangat Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Kiai
Guru Manshur Jembatan Lima merupakan ulama Betawi ahli falak yang berjasa dalam pendidikan Islam, ilmu hisab, dan perjuangan kebangsaan.

Guru Manshur Jembatan Lima merupakan ulama Betawi ahli falak yang berjasa dalam pendidikan Islam, ilmu hisab, dan perjuangan kebangsaan.

P3M.OR.ID. Nama Guru Manshur menempati posisi penting dalam sejarah ulama Betawi.Guru Manshur Jembatan Lima bukan hanya masyhur sebagai ahli falak terkemuka, tetapi juga pendidik, pejuang, dan tokoh yang memberi warna bagi perkembangan Islam di Jakarta pada awal abad ke-20. Keilmuan yang beliau wariskan terus hidup melalui kitab-kitab, murid-muridnya, serta tradisi penentuan awal Ramadan dan Syawal yang masih terus berlaku hingga kini.

Lahir di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta Barat pada 1878, Muhammad Manshur bin Abdul Hamid bin Damiri bin Abdul Muhid bin Tumenggung Tjakra Jaya berasal dari keluarga ulama terpandang. Garis keturunannya tersambung kepada Tumenggung Tjakra Jaya dari Mataram, Jawa. Sejak kecil, lingkungan keluarga membentuk karakter keilmuan sekaligus keteguhan sikap yang kelak menjadikan dirinya sebagai salah satu ulama paling berpengaruh di Betawi.

Menimba Ilmu dari Lingkungan Keluarga hingga Tanah Suci

Perjalanan intelektual Guru Manshur bermulai dari rumahnya sendiri. Ayahnya, KH Abdul Hamid, menjadi guru pertama yang mengenalkan Al-Qur’an, fikih, dan dasar-dasar ilmu agama. Setelah sang ayah wafat, semangat belajarnya tidak pernah surut. Beliau kemudian melanjutkan pengajian kepada kakaknya, KH Mahbub bin Abdul Hamid. Selanjutnya, ia berguru kepada sepupunya, KH Thabrani bin Abdul Mughni, serta Syekh Mujitaba dari Jatinegara. Tradisi belajar kepada banyak guru menjadi ciri khas pendidikan ulama Nusantara pada masa itu. Cara tersebut memperkaya sudut pandang keilmuan sekaligus memperluas jaringan intelektual mereka.

Ketika memasuki usia dewasa, Guru Manshur berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Selama sekitar empat tahun menetap di Tanah Suci, ia belajar kepada sejumlah ulama besar seperti Syekh Mukhtar Atharid Al-Bogori, Syekh Umar Bajunaid Al-Hadrami, Syekh Ali Al-Maliki, Syekh Said Al-Yamani, dan Syekh Umar Sumbawa. Di Makkah pula, beliau bertemu para santri Nusantara yang kelak menjadi tokoh besar. Di antaranya Hadhratus Syekh KH M Hasyim Asy’ari, KHR Asnawi Kudus, serta Syekh Mahfudz at-Tarmasi. Pertemuan itu memperkuat jejaring ulama Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.

Di antara banyak cabang ilmu yang beliau pelajari, ilmu falak menjadi bidang yang paling melekat pada nama Guru Manshur Jembatan Lima. Beliau mendalami perhitungan posisi matahari, bulan, dan bumi kepada ulama Mesir, Abdurrahman Misri. Tradisi keilmuan tersebut juga menjadi kaya dengan rujukan terhadap karya-karya astronom Muslim klasik, termasuk pemikiran Ulugh Beg dari Samarkand. Ilmu falak memiliki peran penting dalam menentukan arah kiblat, waktu salat, hingga penetapan awal bulan Hijriah. Pada masa itu, kemampuan menguasai ilmu tersebut hanya ada pada segelintir ulama. Bekal ilmu tersebut kemudian beliau bawa pulang ke Indonesia. Beliau mengembangkan metode hisab yang teliti sekaligus tetap menghormati praktik rukyat sebagai bagian dari tradisi Islam Nusantara.

Kitab *Sullamun Nayirain* Menjadi Warisan Berharga

Salah satu peninggalan terbesar Guru Manshur ialah kitab *Sullamun Nayirain*. Kitab tersebut membahas mekanisme hisab dan rukyatul hilal dalam menentukan awal bulan Hijriah. Hingga sekarang, karya itu masih menjadi rujukan sejumlah pesantren dan ahli falak, khususnya di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Banyak muridnya menggunakan metode tersebut dalam menentukan awal Ramadan, Syawal, maupun bulan-bulan penting lainnya.

Warisan intelektual itu menunjukkan bahwa Guru Manshur tidak hanya mengajar secara lisan. Ia juga meninggalkan karya tulis yang memperkuat tradisi ilmu falak di Indonesia. Sepulang dari Makkah, Guru Manshur membuka halaqah di Masjid Jembatan Lima. Dari tempat sederhana itu lahir banyak ulama yang kemudian menyebarkan ilmu ke berbagai daerah. Beliau juga aktif mengajar di kawasan Kenari, Cikini, dan sejumlah wilayah lain di Jakarta. Pada 1907, Jami’atul Khair di Tanah Abang mempercayainya sebagai tenaga pengajar.

Di lembaga pendidikan tersebut, ia bertemu tokoh-tokoh pembaru Islam seperti KH Ahmad Dahlan dan Syekh Ahmad Surkati. Meski memiliki latar belakang pemikiran berbeda, mereka sama-sama mendorong kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. Guru Manshur juga mengajarkan Al-Qur’an dengan berbagai qira’at, termasuk riwayat Hafash, Abu Amr, dan Warasy. Kemampuan tersebut menunjukkan keluasan ilmunya dalam bidang Al-Qur’an.

Dedikasi Guru Manshur sebagai pendidik melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi ulama berpengaruh. Di antara murid-muridnya ialah Mu’allim Raji’un Pekojan, KH Firdaus, Syekh KH Muhadjirin Amsar Ad-Dary, Mu’allim Rasyid, KH M Syafi’i Hadzami, KH Abdul Khoir, Guru Muhammad Amin Kalibata, hingga Guru Muhammad yang kemudian menjadi menantunya. Sebagian murid datang dari Madura, Tasikmalaya, Lampung, Bekasi, dan berbagai daerah lain. Hal itu menunjukkan besarnya pengaruh halaqah Guru Manshur di Jakarta.

Berani Menolak Kebijakan Kolonial

Selain terkenal sebagai ulama, Guru Manshur juga menunjukkan keberanian menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Pada 1925, pemerintah kolonial berencana menggusur Masjid Cikini di kawasan Raden Saleh. Guru Manshur berada di barisan depan menolak kebijakan tersebut. Perlawanan masyarakat akhirnya membuat rencana penggusuran batal. Sikap tegas itu kembali terlihat ketika Agresi Militer Belanda berlangsung pada 1948. Ia secara terbuka mendukung Republik Indonesia yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta.

Guru Manshur bahkan mengibarkan bendera Merah Putih di menara Masjid Kampung Sawah. Tindakan itu membuatnya beberapa kali berhadapan dengan aparat bentukan NICA. Menurut catatan budayawan Betawi Ridwan Saidi yang dikutip Fadhli HS, pihak Belanda pernah mencoba membujuk Guru Manshur dengan sejumlah uang agar menghentikan perlawanannya. Namun, ia menolak tawaran tersebut. Beliau  menjawab dengan tegas, *”Islam tidak mau ditindas. Saya enggak mau ngelonin kebatilan.”* Pernyataan itu kemudian dikenang sebagai simbol keteguhan sikapnya.

Guru Manshur wafat pada Jumat, 2 Shafar 1387 Hijriah atau 12 Mei 1967. Ia dimakamkan di kompleks Masjid Al-Mansur, Jalan Sawah Lio, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat. Hingga kini, nama Guru Manshur Jembatan Lima tetap dikenang sebagai ulama yang berhasil memadukan ilmu, pendidikan, dan perjuangan kebangsaan. Jejaknya tidak hanya hadir melalui kitab *Sullamun Nayirain*, tetapi juga melalui para murid yang terus mengembangkan ilmu falak di berbagai daerah.

Sejarawan Betawi Ridwan Saidi dalam berbagai tulisannya mengenai tokoh-tokoh Betawi, termasuk yang dikutip oleh Fadhli HS, menempatkan Guru Manshur sebagai salah satu “paku Jakarta” karena perannya menjaga identitas keislaman sekaligus keberanian melawan kolonialisme. Sementara itu, berbagai kajian sejarah ulama Betawi yang diterbitkan oleh NU Jakarta juga menegaskan kontribusinya dalam pendidikan, pengembangan ilmu falak, dan pembinaan generasi ulama di ibu kota.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.