Percetakan Modern Membawa Karya Ulama Indonesia Menembus Dunia Islam
P3M.OR.ID. Jejak kitab ulama Nusantara tidak hanya tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Arab Saudi. Lebih dari itu, karya-karya para ulama Indonesia pernah menjadi bagian penting dari perkembangan industri percetakan Islam di Timur Tengah. Sejak abad ke-19, kitab-kitab yang merupakan karya ulama asal Nusantara dicetak berulang kali di Makkah, Mesir, Turki, hingga India sebelum akhirnya beredar luas ke berbagai negara Muslim.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa pemikiran ulama Nusantara mendapat tempat terhormat di dunia Islam. Para penerbit tidak akan mencetak sebuah kitab jika tidak memiliki pembaca dan nilai akademik yang tinggi. Karena itu, keberadaan kitab-kitab karya ulama Indonesia dalam industri percetakan menjadi indikator kuat bahwa gagasan mereka dan mendapatkan sambutan komunitas ilmiah internasional. Penelitian Hatta Raharja, Hafidz Taqiyuddin, dan Siti Humayroh berjudul Penelusuran Karya-Karya Ulama Nusantara di Saudi Arabia: Pemetaan dan Katalogisasi Koleksi Perpustakaan Pemerintah dan Perpustakaan Pribadi berhasil memetakan lokasi penyimpanan kitab, tetapi juga menjelaskan bagaimana karya para ulama Nusantara berkembang melalui jaringan penerbitan modern di dunia Islam.
Revolusi Percetakan Mengubah Penyebaran Ilmu Islam
Sebelum mesin cetak berkembang, para ulama menyebarkan ilmu melalui salinan manuskrip tulisan tangan. Proses tersebut membutuhkan waktu lama dan hanya menghasilkan sedikit naskah. Situasi berubah ketika dunia Islam mulai mengenal teknologi percetakan modern pada akhir abad ke-18 dan berkembang pesat pada abad ke-19. Percetakan memungkinkan kitab diproduksi dalam jumlah besar dengan kualitas yang lebih seragam.
Penelitian menjelaskan bahwa Turki Utsmani menjadi salah satu pelopor penggunaan mesin cetak di dunia Islam. Pemerintah kemudian membuka jalan bagi penerbitan berbagai karya ilmiah, termasuk buku-buku keagamaan. Dari sana, teknologi percetakan menyebar ke Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya. Perubahan itu menjadi titik balik bagi perkembangan literasi Islam. Para ulama kini dapat menyebarkan pemikiran mereka kepada masyarakat yang jauh lebih luas daripada sebelumnya.
Pada awal abad ke-19, Mesir berkembang menjadi pusat penerbitan kitab-kitab Islam. Pemerintah mendirikan Bulaq Press, salah satu percetakan modern paling berpengaruh di dunia Arab. Percetakan tersebut tidak hanya menerbitkan karya ulama Mesir. Banyak ulama dari Makkah dan kawasan lain memilih menerbitkan kitab mereka di Kairo karena kualitas percetakannya yang tinggi. Seiring waktu, muncul sejumlah penerbit besar seperti Mustafa al-Babi al-Halabi, Dar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, Al-Azhariyah, dan beberapa rumah penerbit lainnya. Mereka menerbitkan berbagai kitab klasik yang kemudian tersebar ke seluruh dunia Islam. Di antara kitab-kitab yang mereka cetak terdapat karya para ulama Nusantara. Hal itu menunjukkan bahwa kualitas intelektual ulama Indonesia telah memperoleh pengakuan dari penerbit-penerbit besar dunia Islam.
Syekh Nawawi al-Bantani Menjadi Penulis Paling Produktif
Salah satu tokoh yang paling menikmati perkembangan percetakan modern ialah Syekh Nawawi al-Bantani. Ulama asal Banten itu masyhur sangat produktif menulis kitab dalam berbagai disiplin ilmu. Penelitian menunjukkan bahwa karya-karya Syekh Nawawi terbit oleh puluhan penerbit di Mesir, Makkah, Singapura, Surabaya, Bandung, Semarang, hingga Kudus. Daftar tersebut memperlihatkan luasnya penyebaran pemikiran Syekh Nawawi di dunia Islam.
Kitab-kitab seperti Marah Labid, Nashaihul Ibad, Nihayatuz Zain, Qami’ut Thughya, hingga Uqudul Lujain terus dicetak ulang selama lebih dari satu abad. Beberapa di antaranya masih menjadi kitab wajib di berbagai pesantren Indonesia hingga sekarang. Keberhasilan Syekh Nawawi menunjukkan bahwa ulama Nusantara mampu menghasilkan karya yang bertahan lintas zaman. Pemikirannya tetap relevan dan dipelajari oleh generasi demi generasi.
Bukan hanya Syekh Nawawi yang menikmati perkembangan industri percetakan. Syekh Abdul Samad al-Palimbani juga menjadi salah satu ulama yang karyanya tersebar luas melalui jalur penerbitan internasional. Kitab *Hidayatus Salikin* pertama kali dicetak di Makkah pada abad ke-19. Setelah itu, kitab tersebut diterbitkan kembali di Bombay, Mesir, Singapura, hingga Indonesia. Hal serupa terjadi pada *Sairus Salikin*, yang menjadi salah satu rujukan penting dalam tradisi tasawuf di Asia Tenggara. Jalur penyebaran tersebut memperlihatkan bahwa karya ulama Nusantara telah memasuki pasar buku Islam internasional. Pembaca kitab-kitab itu tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara lain. Fenomena tersebut juga memperkuat posisi Nusantara sebagai salah satu pusat perkembangan literatur Islam berbahasa Arab pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Dari Percetakan Kembali ke Pesantren
Setelah dicetak di Timur Tengah dan India, kitab-kitab tersebut kembali ke Nusantara melalui jamaah haji, saudagar, dan jaringan ulama. Pesantren menjadi tempat pertama yang menerima dan mengembangkan tradisi tersebut. Para kiai menjadikan kitab-kitab karya ulama Nusantara sebagai bahan ajar utama bersama karya ulama Timur Tengah. Tradisi mengaji kitab kuning yang berkembang hingga sekarang merupakan hasil dari proses panjang tersebut. Banyak kitab yang dipelajari santri hari ini sebenarnya lahir di Makkah atau Mesir, tetapi ditulis oleh ulama Indonesia.
Penelitian juga menjelaskan bahwa industri percetakan modern mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan Islam. Tanpa percetakan, kemungkinan besar banyak karya ulama Nusantara tidak akan bertahan hingga sekarang. Keberadaan kitab-kitab ulama Nusantara di berbagai perpustakaan Arab Saudi sekaligus memperlihatkan bahwa karya tersebut tidak berhenti pada proses pencetakan. Banyak kitab masih tersimpan sebagai koleksi resmi perpustakaan pemerintah dan universitas.
Sebagian kitab bahkan masih tersedia dalam beberapa edisi cetak yang berbeda. Hal itu menunjukkan tingginya tingkat penggunaan dan permintaan terhadap karya-karya tersebut selama puluhan tahun. Temuan tersebut sekaligus memperkuat penelitian para sejarawan mengenai hubungan intelektual antara Indonesia dan Timur Tengah. Bukti fisik berupa kitab, katalog perpustakaan, serta data penerbitan memperlihatkan bahwa kontribusi ulama Nusantara benar-benar nyata.













