Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

KH Mufid Mas’ud, Isyarah Ulama dan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

515
×

KH Mufid Mas’ud, Isyarah Ulama dan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

Sebarkan artikel ini
Kiai Mufid Mas'ud
KH Mufid Mas'ud mendirikan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dan menjadikannya pusat tahfiz Al-Qur'an terbesar di Yogyakarta

P3M.OR.ID. Nama KH Mufid Mas’ud tidak dapat terpisahkan dari perkembangan pendidikan Al-Qur’an di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sosok ulama kharismatik ini populer sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran yang kini menjadi salah satu pusat pendidikan tahfiz Al-Qur’an terbesar di Indonesia.

Perjalanan hidup beliau menunjukkan bahwa ketekunan, keikhlasan, dan semangat menuntut ilmu mampu melahirkan karya besar yang manfaatnya terasa hingga sekarang. Meski berasal dari keluarga sederhana, KH Mufid Mas’ud berhasil menorehkan jejak penting dalam dunia pendidikan Islam. KH Mufid Mas’ud lahir di Kampung Sondakan, Surakarta, pada 26 Januari 1927. Saat lahir, sang ayah memberi nama Muhammad Mufid. Harapannya kelak  menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Secara garis keturunan, beliau merupakan keturunan ke-12 dari Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat, salah satu tokoh penyebar Islam di Jawa. Ayahnya bernama Ali Mas’ud, sedangkan ibunya bernama Syahidah. Beliau merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Tidak lama setelah kelahirannya, keluarga kecil itu pindah ke wilayah Bayat, Klaten. Perpindahan tersebut terjadi karena ayahnya mendapat amanah mengelola Masjid Golo, masjid keluarga yang menjadi peninggalan keturunan Sunan Pandanaran. Masa kecil KH Mufid berlangsung dalam kondisi ekonomi yang sangat sederhana. Namun keadaan itu tidak mengurangi semangatnya untuk belajar dan menuntut ilmu.

Menempuh Pendidikan di Tengah Keterbatasan

Sejak usia tujuh tahun, Mufid kecil sudah mengenyam pendidikan formal di wilayah Wedi, Klaten. Pada masa penjajahan Belanda, kesempatan sekolah sangat terbatas. Di pagi hari beliau mengikuti pelajaran sekolah. Sementara sore harinya beliau gunakan untuk belajar agama kepada sang ayah. Dari ayahnya, beliau mulai mempelajari dasar-dasar Islam seperti thaharah, salat, membaca Al-Qur’an, hingga ilmu keagamaan lainnya.

Kecerdasannya membuat perjalanan akademiknya berlangsung lebih cepat dari siswa lain. Pendidikan lanjutan yang biasanya menempuh selama dua tahun berhasil selesai hanya dalam satu tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan formal, beliau melanjutkan studi ke Madrasah Mamba’ul Ulum Sidowayah Klaten dengan pengasuh KH R. Moh. Sofyan. PAda lembaga tersebut, bakat intelektualnya semakin terlihat. Program pendidikan yang umumnya selesai dalam empat tahun mampu beliau tuntaskan hanya dalam tiga tahun. Beliau bahkan melompati satu tingkat kelas karena prestasi akademiknya yang menonjol.

Selain belajar di madrasah, KH Mufid memperdalam berbagai kitab klasik langsung di bawah bimbingan KH Moh Sofyan. Saat berusia sekitar 16 tahun, beliau telah menyelesaikan kajian sejumlah kitab fikih, akidah, serta ilmu nahwu dan shorof. Salah satu kitab yang berhasil beliau kuasai adalah Alfiyah Ibnu Malik yang menjadi rujukan utama tata bahasa Arab. Bekal keilmuan tersebut menjadi fondasi kuat bagi perjalanan dakwah dan pendidikan yang kelak beliau jalankan.

Pribadi yang Mandiri

Di masa muda, beliau juga terkenal sebagai pribadi mandiri. Saat belajar jauh dari keluarga, beliau sempat bekerja di sebuah toko pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun gurunya kurang berkenan melihat beliau bekerja sambil belajar. Akhirnya kebutuhan hidupnya menjadi tanggungan langsung oleh sang guru agar fokus pada pendidikan. Sebuah peristiwa di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta mengubah arah hidup KH Mufid.

Saat menghadiri acara khataman Al-Qur’an, beliau menyaksikan para santri membaca Al-Qur’an tanpa melihat mushaf. Pemandangan tersebut membuatnya kagum. Dalam hati beliau berdoa agar suatu saat mampu menjadi penghafal Al-Qur’an. Dua tahun setelah peristiwa itu, beliau memutuskan mondok di Pesantren Krapyak untuk mewujudkan cita-citanya. Beliau memulai hafalan dari Juz Amma. Hanya dalam lima bulan, hafalan tersebut berhasil beliasu selesaikan. Pada saat yang sama, beliau juga mulai menghafal juz-juz lainnya.

Namun kondisi keamanan Yogyakarta yang terganggu akibat pendudukan Jepang membuat proses belajar terhenti. Para santri terpaksa kembali ke daerah masing-masing. Setelah situasi membaik, KH Mufid melanjutkan perjalanan ilmu ke Kaliwungu. Dalam perjalanan tersebut, beliau akhirnya bertemu KH Muntaha di Temanggung. Pertemuan itu menjadi titik penting dalam perjalanan hafalan Al-Qur’annya. Bahkan beliau menjadi santri pertama KH Muntaha. Dalam waktu dua tahun, beliau berhasil menyempurnakan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Atas arahan gurunya, beliau kemudian melakukan tabarukan kepada KH Dimyati Comal sebelum kembali memperdalam ilmu di Pesantren Krapyak.

Kedalaman ilmu dan akhlaknya membuat keluarga besar Krapyak memberikan kepercayaan besar kepadanya. KH Abdullah dan KH Abdul Qadir, putra KH Munawwir, meminta beliau menikahi adiknya, Hj Jauharoh Munawwir. Saat menerima tawaran tersebut, KH Mufid merasa sangat tidak pantas karena berasal dari keluarga sederhana. Namun takdir berkata lain. Pernikahan itu menjadi awal perjalanan baru dalam hidupnya. Setelah menikah, beliau tidak hanya mengajar para santri putri, tetapi juga membimbing istrinya dalam mempelajari Al-Qur’an dan berbagai kitab klasik.

Isyarah KH Hamid Pasuruan

Dari pernikahan tersebut lahir sepuluh orang anak yang kemudian turut melanjutkan perjuangan dakwah keluarga. Perjalanan besar berikutnya saat KH Mufid rutin sowan kepada KH Abdul Hamid Pasuruan. Dalam berbagai kesempatan, KH Hamid memberikan isyarah agar KH Mufid meninggalkan Krapyak dan membuka medan dakwah baru. Isyarah tersebut disampaikan melalui berbagai cara, mulai dari petuah, simbol, hingga pesan-pesan yang sarat makna spiritual. KH Mufid akhirnya memahami bahwa dirinya harus berhijrah demi memperluas syiar Islam.

Pada tahun 1976, beliau memutuskan pindah ke wilayah utara Yogyakarta dengan modal keyakinan dan tawakal. “Demikian isyaroh kyai Hamid kepada saya. Hingga tahun 1976, saya melaksanakan hijrah dari Yogyakarta bagian utara dengan modal tawakkal ‘alallah membangun pondok pesantren bagi orang-orang yang ingin menghafalkan Al Qu’ran, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA),” demikian kata Kyai Mufid seperti dikutip Majalah Suara Pandanaran. Di atas tanah wakaf seluas 2.400 meter persegi, beliau mulai membangun Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di kawasan Kaliurang, Sleman. Dari tempat sederhana itu, lahirlah lembaga pendidikan yang kini dikenal luas sebagai salah satu pesantren tahfiz terbesar di Indonesia.

Pada akhir Maret 2007, kondisi kesehatan KH Mufid mulai menurun. Beliau sempat menjalani perawatan di beberapa rumah sakit di Yogyakarta. Meski kondisinya sempat membaik, takdir Allah berkata lain. Pada Selasa Kliwon, 2 April 2007 atau 17 Rabiul Awal 1428 Hijriah, KH Mufid Mas’ud mengembuskan napas terakhirnya di hadapan keluarga tercinta. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, khususnya keluarga besar Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Namun warisan perjuangannya tetap hidup hingga kini. Ribuan santri terus menghafal Al-Qur’an dari pesantren yang beliau dirikan. KH Mufid juga meninggalkan sejumlah pesan yang terus dikenang. Salah satunya adalah pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan selawat sebagai pegangan hidup. Beliau pernah mengajarkan, “Al Qur’an di tangan kanan dan salawat di tangan kiri.”Beliau juga menanamkan nilai kemandirian kepada para santri. Salah satu petuah yang sering disampaikan adalah agar tidak terbiasa meminta-minta kepada pihak lain. Di mata santri, KH Mufid bukan hanya seorang guru. Beliau adalah sosok ayah yang membimbing dengan kasih sayang dan keteladanan. Warisan itulah yang membuat nama KH Mufid Mas’ud tetap hidup dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia hingga hari ini. ( Dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.