Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

Keteladanan, Keikhlasan, dan Warisan Besar Kiai Abdul Karim Lirboyo

656
×

Keteladanan, Keikhlasan, dan Warisan Besar Kiai Abdul Karim Lirboyo

Sebarkan artikel ini
Haul
Kiai Abdul Karim

P3M.OR.ID. Beberapa hari lalu Pesantren Lirboyo menyelenggarakan haul Kiai Abdul Karim . Beliau adalah sosok ulama besar yang perannya sangat menentukan pondasi spiritual dan intelektual pesantren tersebut. KH Abdul Karim adalah figur bersahaja, perpaduan antara kerja keras, tirakat, dan pengabdian tanpa pamrih. Kiprah beliau tidak hanya melahirkan sebuah pesantren besar, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keteladanan yang terus hidup di tengah masyarakat hingga hari ini.

KH Abdul Karim  lahir sekitar tahun 1856 Desa Diyangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Orang tuanya bernama Abdur Rahim dan Salamah. Selain berprofesi sebagai petani, ayah Kiai Manab juga seorang pedagang. Sepeninggal ayahnya Abdur Rahim, Kiai Manab memutuskan untuk merantau demi menuntut ilmu, mengikuti jejak kedua kakaknya yakni Aliman dan Mu’min. Sejak muda, ia sudah tergerak oleh pesona para ulama pengikut Pangeran Diponegoro. Meski berasal dari keluarga petani, tekadnya untuk menuntut ilmu mengantarkannya merantau hingga ke berbagai pesantren di Jawa. Perjalanan intelektualnya bermula ketika nyantri di Gurah, Kediri.

Tirakat

Kemudian berlanjut pesantren ke Cepoko, Trayang, dan Sono. Di pesantren Sono, ia menghabiskan tujuh tahun mendalami ilmu shorof. Perjalanannya kemudian membawanya menimba ilmu langsung kepada Syaikhona Kiai Kholil Bangkalan. Di pesantren ini beliau belajar mendalam selama hampir 23 tahun. Dari tempat inilah karakter, kedisiplinan, dan keteguhan spiritualnya benar-benar ditempa.

Kehidupan Kiai Abdul Karim selama mondok penuh dengan tirakat. Ia hanya memiliki sepasang pakaian, kerap menahan lapar, hingga makan daun bentis atau sisa makanan santri lain. Meski begitu, beliau tidak pernah mengeluh. Justru kesulitan itu membentuk watak kuat dan menjadikannya pribadi yang tahan ujian. Salah satu kisah yang menunjukkan keseriusannya adalah ketika ia rela menjual kitab untuk membeli kitab lain yang menjadi kebutuhan belajar. Bagi beliau, ilmu adalah prioritas utama, bahkan di atas kenyamanan hidup.

Ketika singgah ke Tebuireng, KH Abdul Karim bertemu sahabatnya, KH Hasyim Asy’ari. Kemudian Kiai Hasyim menikahkannya dengan dengan putri KH Sholeh Banjarmlati yang bernama Nyai Dhomroh. Dari sinilah jalan menuju Lirboyo terbuka. KH Sholeh membelikannya sebidang tanah di daerah Lirboyo yang kala itu dikenal wingit. Keberanian dan keikhlasan KH Abdul Karim perlahan mengubah suasana Lirboyo yang angker menjadi pusat kegiatan keagamaan. Ia membangun musholla kecil atau langgar angkring, kemudian masjid lawang songo pada 1913. Dalam waktu satu dekade, pesantren berkembang pesat, menarik santri dari berbagai daerah.

Keteladanan yang Melekat Selamanya

Kiai Abdul Karim adalah sosok yang sangat tawadhu. Suatu hari ia membantu mengangkat koper santri baru yang tidak mengenalinya. Ketika santri itu mengetahui bahwa orang yang membawakan kopernya adalah kiai besar pemimpin pesantren, rasa malu yang mendalam membuatnya pulang tanpa berpamitan. Kisah ini menjadi bukti nyata kerendahan hati beliau. Beliau juga sangat disiplin dalam ibadah. Hingga usia senja dan keadaan sakit, KH Abdul Karim tetap memimpin shalat dan memberikan pengajian meski harus berjalan tertatih. Pada masa kolonial dan pendudukan Jepang, KH Abdul Karim turut aktif memotivasi dan melepas para laskar Sabilillah dan Hizbullah.

Ratusan santri dikirim ke Surabaya dan Sidoarjo untuk memperjuangkan kemerdekaan, sebuah bukti bahwa kiprahnya melampaui ruang pendidikan. KH Abdul Karim wafat pada 21 Ramadan 1373 H/24 Mei 1954 dan dimakamkan di maqbaroh kasepuhan Lirboyo. Warisan beliau bukan hanya bangunan pesantren, tetapi nilai perjuangan: keikhlasan, kedisiplinan, ketawadhuan, dan kecintaan pada ilmu. Hari ini, Lirboyo berdiri megah sebagai pesantren besar dengan puluhan ribu santri—buah dari tirakat panjang seorang ulama yang memilih hidup sederhana demi kejayaan ilmu dan agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.