Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar PesantrenPilihan Editor

Peringatan 74 Tahun Wafatnya Nyai Nur Khodijah Pelopor Pesantren Perempuan

323
×

Peringatan 74 Tahun Wafatnya Nyai Nur Khodijah Pelopor Pesantren Perempuan

Sebarkan artikel ini
nyai nur Khodijah
Peringatan haul Nyai Nur Khodijah pesantren MambauL Maarif

P3M.OR.ID. Peringatan Haul ke-74 pengasuh Pondok Pesantren Putru  Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Nyai Nur Khodijah pada 14 Maret 2026. Acara ini tidak hanya menjadi ajang mengenang jasa tokoh perempuan pionir pesantren putri di Indonesia saja. Namun, haul tahun ini justru membuka ruang diskusi dan penelitian baru mengenai ketepatan tahun wafat sang ulama perempuan ini.

Peneliti sanad tiga pendiri Nahdlatul Ulama, M Faishol, mengungkapkan bahwa perbedaan data tersebut wajar terjadi mengingat metode pencatatan waktu pada masa lalu tidak seakurat sekarang. Banyak masyarakat kala itu mengingat peristiwa penting melalui kejadian sosial, momentum keluarga, atau fenomena alam. Selama puluhan tahun, literatur mengenai wafatnya istri dari KH Bisri Syansuri tersebut tidak pernah benar-benar seragam. Berbagai sumber menyebutkan tahun yang berbeda, mulai dari 1949, 1952, 1953, 1955, hingga 1958. Ketidakpastian ini menimbulkan pertanyaan besar, terutama mengingat pengaruh besar Nyai Nur dalam sejarah pendidikan perempuan pesantren. Perbedaan ini menimbulkan kebingungan di k Nyai Nur Khodijah. “Sehingga, secara perhitungan, untuk Bu Nyai Nur Khodijah, sesuai hitungan hijriah, maka pada 2023 adalah Haul beliau yang ke-70, bukan ke-74,” ujar Faishol dalam keterangannya, Minggu (15/3).

Penelusuran

Faishol menambahkan bahwa salah satu data terpenting justru datang dari kesaksian keluarga dekat yang pernah menjadi santri langsung Nyai Nur Khodijah. Ia mengutip kesaksian ibunya terkait waktu wafat sang Nyai. “Berdasarkan data dari ibu saya yang merupakan santri Bu Nyai Nur Khodijah bahwa saat Mbah Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulung saya Mbak Jamilah lahir pada Desember 1955 belum lahir. Ini komparasi saling melengkapi antara kesaksian ibu saya, dan data tertulis tahun Masehi 1955,” jelasnya.

Penelusuran ini menemukan titik terang setelah ditemukannya buku Risalah Akhir Sanah di Perpustakaan Ndalem Kasepuhan. Buku tersebut menjadi bukti kuat yang merinci tahun wafat Nyai Nur secara lebih akurat. Di dalam buku itu tertulis bahwa Nyai Nur Khodijah wafat pada 22 Ramadhan 1374 Hijriah, yang setelah dikonversi ke kalender Masehi bertepatan dengan Ahad, 15 Mei 1955, pada usia 63 tahun. Faishol menegaskan, “Dalam buku ‘Risalah Akhir Sanah’ tertulis kewafatan Nyai Nur pada 22 Ramadhan 1375. Agaknya keliru sedikit terkait tahun, yang semestinya adalah 22 Ramadhan 1374. Yang lebih menarik, catatan tersebut menunjukkan bahwa Nyai Nur Khodijah lahir dan wafat pada bulan yang sama: Ramadhan. Ia lahir pada 21 Ramadhan 1314 H (23 Februari 1897) dan wafat pada 22 Ramadhan 1374 H.

Dengan adanya data baru ini, haul tahun 2026 menjadi ruang penting bagi pelurusan sejarah, bukan sekadar ritual tahunan. Para peneliti, keluarga pesantren, dan jamaah memanfaatkannya untuk menguatkan kembali akurasi sejarah ulama perempuan yang selama ini kurang mendapat sorotan. Peringatan haul di Denanyar, Jombang, menjadi momentum reflektif: bagaimana perempuan pesantren berkontribusi besar dalam pendidikan Islam, bahkan sejak masa pendirian pesantren itu sendiri. Nyai Nur Khodijah menjadi salah satu buktinya.

Keteladanan Sang Nyai: Cerdas, Tegas, dan Pionir Pesantren Putri

Nyai Nur Khodijah tumbuh dari keluarga ulama, sebagai putri pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah. Ia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Pada usia 17 tahun, ia menikah dengan KH Bisri Syansuri, yang kelak menjadi salah satu tokoh besar dalam sejarah pendidikan pesantren. Pada 1917, KH Bisri mendirikan pesantren putra di Denanyar.

Dua tahun kemudian, pada 1919, ia dan Nyai Nur mendirikan pesantren putri yang menjadi pelopor sekaligus model pendidikan perempuan pesantren di Indonesia. Lembaga ini kemudian berkembang sebagai pusat pendidikan berbasis kitab kuning dan penguatan akhlak bagi perempuan muda. Para santri mengenang Nyai Nur sebagai figur yang lembut namun tegas, disiplin, ahli tirakat, serta memiliki kemampuan mendidik yang luar biasa. Banyak tokoh perempuan pesantren yang pernah berguru kepadanya, termasuk keponakannya sendiri: Nyai Muktamaroh dan Nyai Mahfudhoh. Warisan keilmuan dan keteladanan Nyai Nur Khodijah tetap relevan hingga kini—bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam menjaga tradisi, pendidikan, dan spiritualitas pesantren.alangan keluarga besar pesantren maupun para peneliti sejarah Nahdlatul Ulama (NU).

Nyai Nur merupakan putri pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah. Ia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Pada usia 17 tahun, ia menikah dengan KH Bisri Syansuri yang berusia sekitar 27 tahun. Beberapa tahun kemudian, KH Bisri mendirikan pesantren putra di Denanyar pada 1917, dan dua tahun setelahnya mendirikan pesantren putri bersama istrinya itu. Di pesantren putri inilah, Nyai Nur Khodijah mendidik generasi perempuan pesantren agar berakhlak mulia, berpengetahuan, memahami kitab kuning, serta fasih membaca Al-Qur’an. Banyak tokoh perempuan pesantren pernah menjadi muridnya, termasuk keponakannya sendiri, Nyai Muktamaroh dan Nyai Mahfudhoh, putri dari KH Abdul Wahab Hasbullah. Ia dikenal sebagai sosok yang lembut namun tegas, disiplin, dan ahli tirakat. Keilmuannya teruji, pengabdiannya panjang, dan pengaruhnya besar terhadap perkembangan pendidikan pesantren perempuan di Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.