Pendidikan Quote Gus Dur
FigurKhazanah IslamPilihan Editor

Pentingnya Proses dalam Menuntut Ilmu Menurut Kiai Anwar Manshur

251
×

Pentingnya Proses dalam Menuntut Ilmu Menurut Kiai Anwar Manshur

Sebarkan artikel ini
KH Anwar Manshur
KH Anwar Manshur Pengasuh Pondok Pesanren Lirboyo

P3M.OR.ID. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Anwar Manshur kembali menyerukan pentingnya kesungguhan generasi muda dalam menuntut ilmu. Pesan beliau ini merupakan respon atas fenomena menurunnya minat baca dan riset di kalangan anak muda, meskipun akses informasi kini semakin mudah. Fenomena ini, menurutnya, berbeda dari sikap sebagian generasi terdahulu yang sangat serius dalam mengkaji ilmu agama

Menurut Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini ilmu tidak dapat disamakan dengan komoditas instan yang diperoleh dengan sekali klik. Kemudian beliau menegaskan bahwa proses pendalaman ilmu menuntut disiplin, kesabaran, serta konsistensi yang panjang. Kiai Anwar kemudian mencontohkan bagaimana kedalaman pemikiran fiqih Imam Abu Hanifah tidak lahir secara tiba-tiba. Namun, lanjutnya melalui proses panjang yang lahir dari semangat berdiskusi, bahkan di sela-sela aktivitas berdagang. “Banyak penuntut ilmu zaman sekarang yang ingin cepat sampai pada tujuan tanpa mau melewati proses yang terjal. Padahal, Imam Abu Hanifah itu menjadi faqih karena ia tidak pernah melepaskan diri dari diskusi ilmiah, bahkan saat ia berada di tokonya,” ujarnya dalam pengajian Ramadan Kitab Ta’limul Muta’alim yang tayang melalui kanal YouTube Lirboyo pada Kamis (5/3/2026).

Menuntut Ilmu Harus Disertai Daya Tanya dan Daya Pikir

Selain itu, Kiai Anwar juga berpesan bahwa kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya modal utama dalam belajar. Dalam proses menuntut ilmu, ungkap Kiai Anwar, keberanian untuk bertanya dan kemampuan berpikir mendalam memiliki posisi yang sangat penting. Dua hal inilah menurutnya sudah mulai memudar sekarang ini. “Ilmu itu hanya bisa didapat dengan lidah yang banyak bertanya dan hati yang cerdas dalam merenung. Jika kalian hanya diam dan menerima tanpa ada usaha untuk menggali lebih dalam, maka ilmu itu hanya akan mampir di telinga, bukan menetap di jiwa,” ujarnya.

Kemudian Kiai Anwar menjelaskan bahwa banyak orang hari ini memiliki akses terhadap jawaban. Sayangnya hal tersebut berjalan seiring dengan adanya kehilangan daya kritis untuk bertanya. Padahal menurut Kiai Anwar inti dari proses belajar justru terletak pada kemampuan menyusun pertanyaan, bukan semata mencari jawaban. Selanjutnya Kiai Anwar juga mengingatkan bahwa kekhawatiran terhadap persoalan ekonomi jangan sampai memadamkan semangat menuntut ilmu. Beliau menyebut bahwa godaan untuk meninggalkan majelis ilmu demi mencari nafkah adalah ujian berat yang harus dihadapi para santri maupun pencari ilmu secara umum.“Seringkali orang meninggalkan ngaji karena alasan mencari nafkah, padahal Allah sudah menjamin rezeki bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam agama. Jangan sampai rasa takut akan kemiskinan membuat kalian menjadi bakhil terhadap waktu untuk ilmu,” tegasnya.

Menurut beliau, setiap kepayahan dan pengorbanan dalam proses belajar memiliki nilai tersendiri di sisi Allah. Kesulitan bukanlah hambatan, melainkan bagian dari proses yang mengantarkan pada kemuliaan ilmu. “Ganjaran (pahala) itu datang seiring dengan kadar kelelahan. Jangan harap mendapatkan kemuliaan ilmu jika kalian masih memanjakan tubuh dengan tidur yang berlebihan dan kenyamanan yang menipu,” ucapnya.

Peringatan terhadap Kebiasaan Sepele

Selain berbicara mengenai pentingnya proses menuntut ilmu. KH Anwar Manshur dalam kesempatan lain mengingatkan masyarakat mengenai kebiasaan-kebiasaan sepele yang dapat menghambat datangnya rezeki. Pesan ini ia sampaikan dalam pengajian Ramadan yang sama dan tayang pada Selasa (3/3/2026). Menurutnya, rezeki dalam perspektif Islam bukan semata hasil kalkulasi usaha lahiriah, tetapi juga dipengaruhi kondisi spiritual seseorang. “Seseorang dapat terhalang rezekinya karena dosa yang ia lakukan,” ujarnya.

Salah satu dosa yang ia tekankan adalah kebohongan. Kiai Anwar menyebut bahwa kebohongan tidak hanya melanggar moralitas, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap keberkahan hidup. “Kebohongan itu mewariskan kefakiran,” tegasnya. Ia menilai masyarakat kini semakin menormalisasi perilaku dusta, baik dalam kehidupan pribadi maupun publik. Padahal, perilaku yang tampak sepele itu dapat merusak integritas batin seseorang dan menghalangi turunnya rezeki.

Selain kebohongan, Kiai Anwar juga menyoroti kebiasaan tidur setelah Subuh. Ia menjelaskan bahwa waktu pagi adalah masa distribusi keberkahan, sehingga tidur di waktu tersebut dapat menghambat datangnya rezeki. “Waktu pagi adalah saat di mana keberkahan didistribusikan. Tidur di waktu pagi itu menghalangi rezeki,” tuturnya. Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan waktu pagi dengan kegiatan produktif dan bernilai ibadah, seperti berzikir, membersihkan rumah, hingga memastikan wadah makanan tetap terjaga kebersihannya. Aktivitas sederhana tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari ikhtiar spiritual untuk meraih kelapangan rezeki.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.