Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq sebut Pesantren Garda Depan Revolusi Pilah Sampah

257
×

Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq sebut Pesantren Garda Depan Revolusi Pilah Sampah

Sebarkan artikel ini
menteri LH
Dr. Hanif Faisol Nurofiq, memberikan paparan yang membuka mata mengenai realitas pengelolaan sampah di Indonesia saat ini sebut pesantren garda depan pengeloaan sampah.

P3M.OR.ID. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P menyebut pesantren kembali menjadi pusat perhatian dalam agenda nasional pengelolaan sampah. Hal tersebut diungkapkan Halaqoh dan buka puasa bersama dengan tema “Meneguhkan Jihad Ekologis dalam Kolaborasi untuk Indonesia Asri. Dalam sebuah forum bersama para kiai, nyai, aktivis lingkungan, dan pengasuh pesantren, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan bahwa krisis sampah tidak menjadi isu teknis semata, namun sebagai persoalan budaya, moral, dan bahkan keimanan. Menurutnya dengan jutaan santri, pesantren  bisa menjadi garda depan pilah sampah.

“Pesantren bukan institusi kecil. Kita punya 42 ribu pesantren. Ini kekuatan moral yang luar biasa untuk mengubah budaya sampah nasional,” tegas Menteri dalam pidatonya. Menteri menyebut bahwa Indonesia memiliki lebih dari 42.000 pesantren dengan populasi santri mencapai 1,61 juta jiwa.M enurutnya angka ini sebuah kekuatan besar yang mampu menggerakkan perubahan budaya memilah sampah dari hulu.

Dalam forum tersebut, Menteri mengingatkan kembali tragedi longsor sampah Leuwigajah, Cimahi, yang menewaskan 157 warga pada 21 tahun lalu. Peristiwa itu menjadi latar lahirnya UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Namun, menurutnya, undang-undang tersebut belum sepenuhnya berjalan secara efektif. Ia memaparkan, Indonesia memproduksi 141.000 ton sampah per hari, namun hanya 25% yang berhasil mengelolannya dengan baik. Selebihnya berakhir di sungai, lahan terbuka, pasar, fasilitas pendidikan, hingga lingkungan pesantren. Lebih ironis, Jakarta sebagai ibu kota—yang telah menggunakan berbagai teknologi pengolahan sampah—masih belum bisa keluar dari jeratan krisis sampah. “Setinggi apa pun teknologinya, kalau sampah tidak memilah dari sumbernya, semua sistem akan tumbang. Ini bukan soal alat, tetapi soal mental dan budaya,” ujar Menteri.

Pesantren Sebagai garda Depan Edukasi Lingkungan

Menteri menekankan bahwa pesantren memiliki modal sosial dan spiritual yang kuat untuk menggerakkan perubahan perilaku masyarakat. Dengan mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam, suara para kiai dan nyai memiliki legitimasi kuat dalam menanamkan budaya bersih dan pengelolaan sampah yang benar. Selain itu juga mengapresiasi fatwa-fatwa lingkungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang turut menegaskan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari kewajiban moral umat Islam. “Sampah adalah bicara keimanan, bicara akhlak, bukan bicara mesin. Pilah sampah itu ibadah kecil yang dampaknya besar.”

Lebih lanjut, Menteri menyebut bahwa dari 50% sampah organik dan sekitar 60% sampah anorganik bernilai guna, langkah memilah sampah dapat menyelesaikan separuh masalah sampah nasional. Selain itu Menteri juga memberi peringatan keras terkait Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di berbagai daerah yang rata-rata sudah mencapai 17 tahun. Usia ini  mendekati batas maksimal 20 tahun. Dirinya juga mencontohkan insiden macetnya aliran sampah di Tangerang Selatan, yang membuat tumpukan sampah memenuhi jalan protokol setelah TPA ditutup sementara karena indikasi pencemaran. “Begitu TPA penuh, kota bisa lumpuh. Jalan-jalan bisa dipenuhi sampah hanya dalam hitungan hari.” Karena itu, Menteri meminta pesantren menjadi frontliner perubahan budaya pilah sampah, yang disebutnya sebagai “langkah kecil dengan dampak besar.”

Gerakan Nasional Indonesia Asri dan Harapan Perubahan dari Pesantren

Pemerintah sebelumnya telah meluncurkan Gerakan Nasional Indonesia Asri: Aman, Sehat, Resik, dan Indah pada 2 Februari lalu. Program ini menempatkan unsur “resik” atau kebersihan sebagai pilar penting yang hanya bisa diwujudkan dengan partisipasi publik yang kuat. Pesantren dinilai memiliki tiga kekuatan utama yaitu kekuatan moral dan keilmuan para kiai dan nyai. Kemudian kekuatan populasi santri yang masif dan kekuatan tradisi disiplin dan tata nilai Islam. Model praktik baik dari sejumlah pesantren seperti Pesantren Lirboyo dan beberapa pesantren lain—yang telah mengembangkan pengelolaan sampah mandiri bersama mitra swasta—menjadi inspirasi bagi pesantren se-Indonesia. Di akhir sesi, Menteri kembali menekankan hanya satu pesan penting yaitu pilah sampah dari sumbernya, apa pun kondisi pesantrennya. “Tidak perlu neko-neko. Cukup satu: pilah sampah. Itu saja. Separuh masalah selesai, ” tegasnya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.