P3M.OR.ID. Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam penting di Yogyakarta. Pesantren ini memadukan tradisi salaf, kajian kitab kuning, dan pendidikan formal modern. Berada di kawasan bersejarah Kotagede, Nurul Ummah tumbuh bersama dinamika masyarakat Yogyakarta. Pesantren ini tidak hanya membentuk kemampuan akademik santri. Lebih dari itu, lembaga tersebut menanamkan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial.
Perjalanan panjang sejak 1986 membuat Pondok Pesantren Nurul Ummah memiliki posisi tersendiri. Pesantren terus mengembangkan pendidikan tanpa meninggalkan akar tradisi keislamannya. Pondok Pesantren Nurul Ummah berdiri pada 1986 atas gagasan KH. Asyhari Marzuqi. Sang pendiri membawa pengalaman panjang setelah menempuh pengembaraan ilmiah di Timur Tengah. Beliau pernah menimba ilmu di Baghdad, Irak, selama sekitar 15 tahun. Periode tersebut berlangsung sejak 1970 hingga 1985. Pengalaman tersebut kemudian membentuk visi pendidikan yang kuat. Ia ingin menghadirkan pesantren yang mampu menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus merespons perkembangan zaman.
Peletakan batu pertama melibatkan KH. Ahmad Marzuqi Romly dan KH. Asyhari Marzuqi. Pesantren kemudian berkembang melalui pemanfaatan tanah wakaf di kawasan Kotagede. Nama “Nurul Ummah” berarti “Cahaya Umat”. Nama tersebut menyimpan harapan agar para santri mampu menjadi penerang bagi masyarakat. Selain itu, para lulusan diharapkan membawa manfaat dalam kehidupan sosial. Mereka juga diharapkan mampu menjaga nilai keislaman dalam menghadapi perubahan zaman.
Pengasuh dan Mata Rantai Keilmuan
Pesantren Nurul Ummah memiliki sejarah kepengasuhan yang berkaitan erat dengan keluarga pendirinya. Sejumlah nama memiliki peran penting dalam perjalanan pesantren. Mereka antara lain KH. Ahmad Marzuqi Romly, KH. Asyhari Marzuqi, dan KH. Habib Marzuqi. Saat ini, KH. Ahmad Zabidi Marzuqi, Lc., mengasuh pesantren tersebut. KH. Ahmad Zabidi Marzuqi merupakan adik KH. Asyhari Marzuqi. Kepemimpinan tersebut melanjutkan kesinambungan tradisi keilmuan yang berkembang sejak awal berdirinya pesantren.
Dalam lingkungan pesantren, kesinambungan kepemimpinan memiliki arti penting. Tradisi tersebut membantu menjaga karakter pendidikan sekaligus membuka ruang bagi pembaruan. Pondok Pesantren Nurul Ummah berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Bina Putra Yogyakarta. Yayasan tersebut mengelola berbagai bidang untuk mendukung keberlangsungan pendidikan.Masa jabatan pengurus Yayasan Pendidikan Bina Putra berlangsung pada 2026–2031.
Pondok Pesantren Nurul Ummah mengembangkan pendidikan melalui beberapa jenjang. Sistem tersebut memungkinkan lembaga menjangkau santri dari usia anak hingga mahasiswa. Pada tingkat dasar, TPQ Nurul Ummah memberikan pendidikan tahsin Al-Qur’an. Idrus Sugianto, S.H.I. memimpin lembaga tersebut. Selanjutnya, MI Nurul Ummah menyediakan pendidikan tingkat sekolah dasar. M. Yusron Ubaidillah, M.Pd.I. memimpin jenjang tersebut.
Untuk tingkat menengah pertama, pesantren memiliki MTs Nurul Ummah. Kemudian pada tingkat menengah atas, MA Nurul Ummah menjadi pilihan pendidikan formal berikutnya. Adriek Noor Maftuhie, S.Hum. memimpin jenjang tersebut. Sementara itu, mahasiswa mengikuti pendidikan melalui Madrasah Diniyah Nurul Ummah. Kombinasi pendidikan formal dan diniyah menjadi salah satu karakter utama pesantren. Santri tidak hanya memperoleh pengetahuan umum, tetapi juga memperdalam ilmu keislaman.
Asrama Menjadi Ruang Pembentukan Karakter
Kehidupan pesantren tidak berhenti di ruang kelas. Asrama menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter santri. Pondok Pesantren Nurul Ummah memiliki sejumlah kompleks asrama dengan fungsi berbeda. Asrama Pusat menampung santri mahasiswa. Komplek E menjadi tempat santri mahasiswi. Kompleks tersebut menjalankan mekanisme Madrasah Diniyah dan Tahfidz.
Komplek E Pelajar menampung santri putri tingkat MA. Sementara itu, Komplek G menampung santri putra tingkat MTs. Sementara di Komplek H menjadi tempat tinggal santri putra tingkat MA. Nurul Ummah 3 Pelajar menampung santri putri tingkat MTs. Selain itu, Nurul Ummah 3 Mahasiswi menyediakan tempat bagi mahasiswi dengan mekanisme Tahfidz. Pembagian tersebut membantu pesantren menyesuaikan pembinaan berdasarkan usia dan jenjang pendidikan.
Pesantren membutuhkan lingkungan yang mendukung proses belajar sekaligus kehidupan sosial santri. Karena itu, fasilitas menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan. Pondok Pesantren Nurul Ummah menyediakan asrama bagi para santri. Setiap kompleks memiliki ruang tinggal yang menunjang kehidupan sehari-hari. Masjid menjadi pusat aktivitas ibadah dan kegiatan keagamaan. Aula juga mendukung pelaksanaan kajian, seminar, serta kegiatan bersama.
Pesantren juga memiliki perpustakaan untuk mendukung kegiatan membaca dan belajar. Koleksinya mencakup kitab kuning dan berbagai buku akademis. Keberadaan perpustakaan memperkuat budaya literasi di lingkungan pesantren. Santri dapat memanfaatkannya untuk memperdalam kajian keislaman maupun pengetahuan umum.
Kotagede Menjadi Bagian dari Identitas Pesantren
Pondok Pesantren Nurul Ummah berpusat di Kotagede, salah satu kawasan bersejarah di Yogyakarta. Lokasi tersebut memberi warna tersendiri bagi kehidupan pesantren. Alamat pusat pesantren berada di Jalan Raden Ronggo KG II/982, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Kawasan tersebut memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kebudayaan Yogyakarta. Seiring pertumbuhan lembaga, Nurul Ummah juga mengembangkan beberapa kompleks baru. Perluasan tersebut mencakup Nurul Ummah Dua atau Nurmadu di Kulon Progo.
Pesantren juga mengembangkan Nurul Ummah 3 dan Nurul Ummah 4 di Malangan, Giwangan, Yogyakarta. Perkembangan tersebut menunjukkan upaya pesantren menjangkau kebutuhan pendidikan yang semakin luas. Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede memperlihatkan bagaimana tradisi pesantren dapat berjalan bersama pendidikan modern. Sistem tersebut memberi ruang bagi santri untuk mempelajari ilmu agama dan pengetahuan umum. Di sisi lain, kehidupan asrama membentuk kebiasaan yang tidak selalu muncul dalam pendidikan formal. Santri belajar hidup bersama, mengatur waktu, dan menjalankan tanggung jawab.
Tradisi kitab kuning tetap menjadi bagian penting dari identitas pesantren. Namun, pendidikan formal memberi bekal tambahan untuk menghadapi kebutuhan masyarakat modern. Dengan perjalanan sejak 1986, Nurul Ummah telah melewati berbagai perubahan zaman. Pesantren terus membawa semangat awal pendiriannya melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, keberadaan Pondok Pesantren ini tidak hanya berkaitan dengan pendidikan. Pesantren juga menjadi bagian dari ekosistem sosial dan keagamaan Yogyakarta.













