Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

KH Zubair Umar, Ulama Internasional dari Salatiga

349
×

KH Zubair Umar, Ulama Internasional dari Salatiga

Sebarkan artikel ini
Profil kiai
Mengenal KH Zubair Umar, ahli falak NU yang mengajar di Al-Azhar, mendirikan IAIN Salatiga, dan melahirkan kitab falak berpengaruh.

P3M.OR.ID. KH Zubair Umar bukan sekadar ulama Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal sebagai salah satu ahli falak Indonesia yang memperoleh pengakuan hingga tingkat internasional. Keilmuannya membuat para ulama di Timur Tengah mengakui kapasitasnya dalam bidang astronomi Islam. Selain itu, kiprahnya juga meninggalkan jejak penting dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia melalui perannya sebagai perintis berdirinya IAIN Salatiga dan tokoh NU Jawa Tengah.

Nama KH Zubair Umar juga tercatat sebagai Rais Syuriah Majelis Konsul NU Jawa Tengah pada masa awal pembentukan organisasi di tingkat provinsi. Kiprah keilmuan, pendidikan, organisasi, hingga pengabdiannya kepada masyarakat menjadikan sosoknya layak sebagai salah satu ulama besar Indonesia.

Riwayat Pendidikan Membentuk Seorang Ahli Falak

KH Zubair Umar lahir di Bojonegoro pada 16 September 1908. Sejak usia muda, ia menempuh pendidikan di sejumlah pesantren ternama. beliau belajar di Pesantren Tremas Pacitan di bawah asuhan KH Dimyathi Abdullah selama empat tahun. Setelah itu, melanjutkan pendidikan di Pesantren Simbang Kulon Pekalongan yang merupakan asuhan KH Amir Idris. Perjalanan intelektualnya berlanjut di Pesantren Tebuireng Jombang. Di pesantren Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu, KH Zubair semakin tertarik mendalami ilmu falak. Ketertarikan tersebut kemudian menjadi bidang keahlian yang mengantarkan namanya terkenal luas di dunia Islam. Riwayat pendidikan tersebut tercatat dalam ringkasan riwayat hidupnya

Setelah menikah, KH Zubair Umar memperoleh kesempatan melanjutkan studi ke Makkah. Ia berharap menemukan guru falak yang mampu memperdalam ilmunya. Namun, harapan itu justru berbalik menjadi pengalaman yang tidak biasa. Menurut catatan Ahmad Baso , sejumlah ulama yang mengujinya justru mengakui keluasan ilmunya. Bahkan, mereka belajar langsung kepada KH Zubair Umar. Pengalaman serupa kembali beliau alami di Madinah. Ia kemudian disarankan mencari ulama falak ke Damaskus dan Palestina, tetapi hasilnya tetap sama.

Perjalanan intelektualnya akhirnya membawanya ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Di sana, ia bertemu Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi, ulama besar yang menjadi salah satu gurunya. Keilmuan KH Zubair Umar mendapat pengakuan para ulama Al-Azhar sehingga ia dipercaya mengajar ilmu falak. Informasi tersebut dijelaskan dalam artikel NU Online yang mengulas perjalanan akademiknya.

Mengajar di Al-Azhar dan Menulis Kitab Rujukan Falak

Kepercayaan mengajar di Universitas Al-Azhar menjadi pencapaian luar biasa bagi seorang ulama asal Indonesia pada masa itu. Selama mengajar, KH Zubair Umar tidak menggunakan buku pegangan khusus. Para mahasiswa mencatat setiap penjelasannya secara langsung. Catatan kuliah tersebut kemudian ia kumpulkan dan kembangkan menjadi sebuah kitab berjudul Al Khulashotul Wafiyah. Kitab ini membahas ilmu falak secara sistematis, sederhana, namun tetap komprehensif. Hingga kini, kitab tersebut masih menjadi salah satu rujukan penting dalam penentuan hisab awal Ramadan, Syawal, dan bulan-bulan Hijriah lainnya. Banyak pesantren di Indonesia terus mengkajinya. Kitab itu juga dikenal luas di berbagai negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, dan Irak. Penjelasan mengenai kitab tersebut berasal dari tulisan NU Online.

Sepulang dari Mesir pada 1935, KH Zubair Umar menetap di Reksosari, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Bersama istrinya, Nyai Zainab, serta KH Zainuddin, ia mendirikan pesantren yang menjadi pusat pembelajaran ilmu falak. Kontribusinya tidak berhenti pada dunia pesantren. Ia ikut menggagas berdirinya IKIP Nahdlatul Ulama yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Tarbiyah dan menjadi bagian dari IAIN Walisongo. Perjalanan kelembagaan itu akhirnya melahirkan IAIN Salatiga yang kini menjadi salah satu perguruan tinggi Islam negeri terkemuka di Indonesia. Peran KH Zubair Umar sebagai ketua panitia pendirian sekaligus dekan menjadi bagian penting dari sejarah kampus tersebut.

Kiprah Organisasi dan Pengabdian kepada Bangsa

Selain dikenal sebagai ulama dan akademisi, KH Zubair Umar juga aktif memimpin berbagai lembaga keagamaan. Ia pernah menjadi Ketua PCNU Kabupaten Semarang, Rais Syuriah NU Jawa Tengah, hingga anggota Syuriyah PBNU. Dalam pemerintahan, ia pernah menjabat penghulu, Ketua Mahkamah Islam Tinggi Surakarta, dosen, hingga Rektor IAIN Walisongo Semarang. Saat perjuangan kemerdekaan, ia juga memimpin Barisan Sabilillah di Kabupaten Semarang. Peran tersebut menunjukkan bahwa KH Zubair Umar tidak hanya mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Ia juga hadir dalam perjuangan sosial, organisasi, dan pembangunan bangsa.

Dedikasi KH Zubair Umar melahirkan banyak lembaga pendidikan. Selain menjadi penggerak berdirinya IAIN Salatiga, ia juga menggagas berdirinya sejumlah sekolah di bawah Yayasan Pesantren Luhur dan Yayasan Imarotul Masajid wal Madaris. Pada 1971, pemerintah memberikan hibah tanah seluas enam hektare untuk pembangunan pesantren. Dari lahan tersebut lahirlah Pondok Pesantren Joko Tingkir pada 1977. Walaupun aktivitas pesantren telah berhenti setelah beliau wafat, lokasi itu tetap menjadi bagian dari jejak sejarah perjuangannya. Reputasinya juga membuat Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta mempercayainya menjadi promotor penganugerahan gelar doktor kehormatan kepada dua akademisi Al-Azhar pada 1968. Hal itu memperlihatkan besarnya pengakuan terhadap kapasitas akademiknya di tingkat internasional. Informasi tersebut tercantum dalam artikel NU Online.

KH Zubair Umar wafat pada 10 Desember 1990 dan dimakamkan di kompleks Kauman, belakang Masjid Raya Baitul Atiq, Salatiga. Meski telah berpulang, pemikiran dan karya-karyanya tetap hidup melalui kitab falak, lembaga pendidikan, serta ribuan murid yang meneruskan tradisi keilmuan Islam. Jejak pengabdiannya menunjukkan bahwa seorang ulama dapat memberikan kontribusi besar melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, organisasi, dan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, nama KH Zubair Umar tetap tokoh NU Jawa Tengah, ahli falak berkelas dunia, sekaligus salah satu perintis pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.