Pendidikan Quote Gus Dur
Dunia IslamKhazanah IslamPilihan Editor

Masjid Asasi Nagari Gunung, Jejak Awal Islam dan Cikal Bakal Pesantren Thawalib di Padang Panjang

242
×

Masjid Asasi Nagari Gunung, Jejak Awal Islam dan Cikal Bakal Pesantren Thawalib di Padang Panjang

Sebarkan artikel ini
masjid
Masjid Asasi Nagari Gunung menjadi pusat penyebaran Islam dan cikal bakal Pondok Pesantren Thawalib di Kota Padang Panjang.

P3M.OR.ID. Masjid Asasi Nagari Gunung menjadi salah satu saksi penting perkembangan Islam di Minangkabau. Rumah ibadah bersejarah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, musyawarah, dan pembinaan masyarakat sejak awal abad ke-18. Dari masjid inilah lahir tradisi keilmuan Islam yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Thawalib Gunung, salah satu lembaga pendidikan Islam berpengaruh di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

Keberadaan Masjid Asasi Nagari Gunung menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Ranah Minang berlangsung melalui pendekatan pendidikan dan budaya. Nilai-nilai agama tumbuh berdampingan dengan adat istiadat hingga melahirkan identitas masyarakat Minangkabau yang terkenal religius. Filosofi “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah” menjadi fondasi yang memperkuat hubungan antara adat dan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat.

Ranah Minang Bangun Peradaban Berbasis Islam

Minangkabau sejak lama masyhur sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara. Mayoritas masyarakat memeluk agama Islam dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, adat dan agama berkembang secara harmonis. Tradisi masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi memperoleh ruh dari ajaran Islam yang terwariskan secara turun-temurun.

Pepatah “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah” menjadi simbol perpaduan tersebut. Filosofi ini menegaskan bahwa adat berlandaskan syariat, sedangkan syariat bersumber dari Al-Qur’an. Meski demikian, sejarah awal masuknya Islam ke Minangkabau masih menyisakan ruang kajian. Berbagai sumber sejarah belum mampu memastikan siapa tokoh pertama yang membawa Islam ke kawasan tersebut.

Sejumlah cerita rakyat menyebut kawasan Nagari Gunung mulai dihuni sekitar akhir abad ke-14. Salah satu kisah yang berkembang menyebut kedatangan empat pasangan suami istri dari Pariangan, Padang Panjang, sekitar tahun 1380 Masehi. Mereka diyakini menjadi nenek moyang masyarakat Nagari Gunung. Keempat keluarga tersebut kemudian membagi wilayah menjadi empat jurai sebagai dasar pemerintahan adat. Penelitian Wahyudi dan Febrianti (2018) mencatat kisah tersebut masih hidup dalam tradisi lisan masyarakat. Walaupun bercampur legenda, cerita itu tetap menjadi bagian penting dari memori kolektif warga Nagari Gunung.

Perjalanan sejarah kemudian memasuki babak baru pada akhir abad ke-17. Sekitar tahun 1685, masyarakat dari empat jurai sepakat mendirikan sebuah surau sebagai pusat ibadah dan pendidikan agama. Pembangunan berlangsung secara bergotong royong selama hampir sepuluh tahun. Lokasi pembangunan berada di kawasan Sigando yang kini masuk Kecamatan Padang Panjang Timur. Masyarakat saat itu lebih mengenalnya sebagai Surau Gadang Sigando. Nama Masjid Asasi Nagari Gunung baru digunakan sekitar tahun 1950 setelah berbagai perkembangan kelembagaan masyarakat.

Menurut keterangan Datuak Panjang dalam wawancara yang dikutip pada penelitian Leli Indra Beti dan tim dalam Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Volume 24 Nomor 2 Tahun 2024, surau tersebut sejak awal menjadi pusat ibadah, musyawarah, pembelajaran Al-Qur’an, hingga penyelesaian persoalan masyarakat.

Masjid Asasi Simpan Nilai Arsitektur Bersejarah

Masjid Asasi Nagari Gunung memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan ini lahir atas prakarsa Datuak Kayo dari Suku Koto Nan Baranam bersama masyarakat Empat Koto yang terdiri atas Nagari Gunung, Paninjauan, Jaho, dan Tambangan. Menurut penelitian Ariasta (2024), penamaan “Asasi” mulai dikenal masyarakat sejak tahun 1950. Sebelumnya, masyarakat lebih akrab menyebutnya Surau Gadang Sigando.

Sementara itu, Aswir dalam buku Masjid-Masjid Kuno di Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau yang diterbitkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar tahun 2005 menjelaskan pembangunan masjid dimulai sekitar tahun 1702. Masjid mulai digunakan sebagai tempat ibadah sekitar tahun 1770. Keunikan bangunan terlihat pada ragam ukiran yang memadukan tiga unsur budaya, yakni Minangkabau, Tiongkok, dan Hindu. Hingga kini, struktur utama bangunan masih mempertahankan bentuk aslinya sehingga menjadi salah satu masjid tua yang terawat di Sumatera Barat.

Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Asasi berkembang menjadi pusat pendidikan Islam. Para ulama mengajarkan ilmu fikih, tafsir, hadis, dan Al-Qur’an kepada masyarakat sekitar. Aktivitas pendidikan berlangsung secara rutin melalui sistem surau. Model pembelajaran tersebut kemudian melahirkan banyak ulama yang berperan dalam perkembangan Islam di Minangkabau Sejumlah tokoh nasional juga pernah singgah di masjid ini. Aswir menyebut ulama besar Indonesia, Buya Hamka, pernah mengisi pengajian di Masjid Asasi sehingga memperkuat peran masjid sebagai pusat dakwah.

Cikal Bakal Pondok Pesantren Thawalib Gunung

Perkembangan pendidikan Islam di Masjid Asasi kemudian melahirkan lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Dari lingkungan masjid inilah lahir Pondok Pesantren Thawalib Gunung. Pesantren tersebut menjadi salah satu institusi pendidikan Islam tertua di Kota Padang Panjang. Kehadirannya memperkuat identitas kota sebagai pusat pendidikan Islam di Sumatera Barat. Padang Panjang kemudian dikenal melahirkan banyak ulama, pendidik, dan tokoh bangsa. Tradisi pendidikan yang tumbuh dari surau berkembang menjadi sistem pesantren modern tanpa meninggalkan akar keilmuan Islam klasik.

Hingga kini, Masjid Asasi Nagari Gunung tetap berdiri sebagai simbol perjalanan panjang Islam di Minangkabau. Keberadaannya mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan Islam lahir dari semangat gotong royong, kecintaan terhadap ilmu, dan keteguhan masyarakat menjaga warisan budaya. Karena itu, Masjid Asasi Nagari Gunung bukan sekadar bangunan tua, melainkan tonggak penting lahirnya tradisi pendidikan Islam yang terus hidup di Ranah Minang.

.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.