Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Evaluasi Program Pengelolaan Sampah di Lima Pesantren, P3M dan CCEP Dorong Kemandirian serta Ekonomi Sirkular

248
×

Evaluasi Program Pengelolaan Sampah di Lima Pesantren, P3M dan CCEP Dorong Kemandirian serta Ekonomi Sirkular

Sebarkan artikel ini
monitoring
P3M dan CCEP Indonesia melakukan evaluasi program pengelolaan sampah di lima pesantren memperkuat ekonomi sirkular dan peduli lingkungan.

P3M.OR.ID. Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bersama CCEP Indonesia terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis pesantren. Upaya itu terlihat dalam rapat evaluasi daring program pengelolaan sampah yang melibatkan lima pondok pesantren binaan. Forum tersebut menjadi ruang untuk mengukur capaian, mengidentifikasi tantangan, sekaligus menyusun strategi keberlanjutan program.

Kegiatan berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026. Lima pesantren memaparkan perkembangan pengelolaan sampah yang telah mereka jalankan selama beberapa bulan hingga satu tahun terakhir. Setiap peserta menyampaikan keberhasilan, hambatan, serta rencana pengembangan agar program semakin berdampak bagi lingkungan dan ekonomi pesantren.

Evaluasi Menjadi Dasar Pengembangan Program

Direktur P3M, Sarmidi Husna, MA, menegaskan bahwa evaluasi memiliki peran penting dalam mengukur keberhasilan program. Menurutnya, hasil evaluasi akan menjadi pijakan dalam menyusun kebijakan dan pendampingan pada masa mendatang. Kiai Sarmidi menjelaskan bahwa sebagian besar pesantren masih berada pada tahap awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah secara mandiri. Karena itu, proses belajar dan penyempurnaan harus terus dilakukan. “Hasil evaluasi ini akan dijadikan sebagai tolok ukur (patokan) kinerja untuk program-program di masa mendatang.” Selain itu juga berharap seluruh pihak tetap konsisten mengembangkan program tersebut sehingga mampu memberikan manfaat bagi pesantren sekaligus berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan lingkungan.

Menjaga Lingkungan Merupakan Amanah

Perwakilan CCEP Indonesia, Lucia Karina, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah dibangun bersama P3M dan lima pesantren. Ia menilai perubahan perilaku santri menjadi indikator penting keberhasilan program. Dalam sambutannya, Lucia mengutip Surah Al-A’raf ayat 56. “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah SWT memperbaikinya.”

Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis mengelola sampah. Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk tanggung jawab moral sekaligus bagian dari ibadah. Ia menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi yang peduli terhadap kelestarian alam.
Lucia menambahkan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah fasilitas atau banyaknya kegiatan. Keberhasilan sejati terlihat ketika santri memiliki kesadaran untuk memilah sampah, mengolah limbah organik, serta memanfaatkan sampah anorganik menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi.

Lima Pesantren Menunjukkan Kemajuan Beragam

Dalam sesi pemaparan, masing-masing pesantren menyampaikan perkembangan yang berbeda sesuai kondisi lapangan. Pondok Pesantren Denanyar Jombang melaporkan keberhasilan meresmikan Rumah Sampah pertama yang didukung P3M dan CCEP. Bank Sampah telah mengumpulkan botol plastik dan sampah campuran sebanyak 72 kilogram. Pesantren juga mengembangkan budidaya maggot BSF untuk mengolah sisa makanan menjadi pakan ternak serta mendukung pembelajaran santri melalui laboratorium alam.

Sementara itu, Pondok Pesantren Margasari Cijawura Bandung berhasil mengelola sampah hampir selama empat bulan. Program tersebut menghasilkan pendapatan Rp802.000 dari sampah anorganik. Selain itu, pesantren mampu menekan biaya pembuangan sampah sekitar Rp300.000 setiap bulan. Meski demikian, pengelola masih menghadapi kendala berupa serangan hama tikus, administrasi yang belum optimal, dan kesadaran santri yang belum merata.

Inovasi Maggot hingga Produk Daur Ulang

Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo memadukan pengelolaan sampah dengan budidaya ayam petelur serta maggot. Produk maggot bahkan telah mereka pasarkan kepada pengepul, peternak lokal, hingga konsumen melalui penjualan daring. Di Jember, Pondok Pesantren Nurul Islam berhasil menjalankan rumah sampah selama sekitar satu tahun. Santri telah mampu memilah sampah secara mandiri. Program tersebut menghasilkan tiga kali transaksi penjualan dengan nilai ekonomi mencapai Rp1.906.500. Pesantren juga mengembangkan budidaya maggot dan lele sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah organik.

Adapun Pondok Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta menerapkan aturan tegas terhadap pemilahan sampah. Petugas bank sampah tidak akan mengangkut sampah yang belum terpilah. Pesantren juga mengembangkan inovasi berupa gantungan kunci dari tutup botol plastik serta maggot kering yang memiliki daya simpan lebih panjang untuk pakan ternak.

Tantangan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Meski menunjukkan kemajuan, seluruh pesantren mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebagian besar hambatan berkaitan dengan perubahan pola pikir santri, kedisiplinan memilah sampah, keterbatasan sumber daya manusia, hingga pencatatan administrasi yang belum konsisten. Beberapa pesantren juga menghadapi persoalan teknis seperti gangguan tikus, biawak, serta keterbatasan pengelolaan sampah residu dan limbah B3. Dalam sesi diskusi, CCEP Indonesia menawarkan dukungan melalui jaringan offtaker resmi agar hasil pengumpulan sampah memiliki nilai jual yang lebih baik. P3M juga meminta seluruh pesantren melengkapi dokumentasi kondisi sebelum dan sesudah program sebagai bahan evaluasi sekaligus publikasi praktik baik.

Sesi kedua menghadirkan pembahasan mengenai ekonomi sirkular dan teknologi pengolahan sampah. Bapak Wahyu dari BSSI Melong 26 Cimahi memaparkan teknologi pirolisis yang mampu mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar alternatif. Menurutnya, teknologi tersebut memiliki potensi besar apabila dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, koperasi, maupun sektor swasta.

Sementara itu, CCEP Indonesia menjelaskan komitmennya terhadap target keberlanjutan melalui pengurangan emisi, pemulihan lingkungan, serta peningkatan sirkularitas kemasan. Perusahaan juga membuka peluang kerja sama bagi pesantren untuk mengembangkan produk daur ulang dan memanfaatkan jaringan Collection Center yang telah tersedia di berbagai daerah.

Komitmen Melanjutkan Program

Menutup kegiatan, P3M menyampaikan sejumlah tindak lanjut. Seluruh pesantren diminta melengkapi formulir evaluasi, menyiapkan materi edukasi bagi santri baru, serta mendokumentasikan perkembangan program pengelolaan sampah. CCEP Indonesia juga berencana mengunjungi lima pesantren untuk memproduksi video testimoni sebagai media edukasi dan penyebaran praktik baik kepada masyarakat.

Rapat ditutup dengan doa bersama serta komitmen seluruh peserta untuk terus menjaga kolaborasi dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan karakter sekaligus penggerak pelestarian lingkungan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.