Pesantren Tanbihul Ghofilin Banjarnegara, Menjaga Tradisi Salafiyah di Tengah Perubahan Zaman
P3M.OR.IDI. Di tengah arus modernisasi pendidikan Islam, Pesantren Tanbihul Ghofilin di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, tetap teguh mempertahankan jati dirinya sebagai pesantren diniyah salafiyah. Selama puluhan tahun, pesantren ini konsisten mengajarkan ilmu-ilmu keislaman klasik melalui kajian kitab kuning. Tradisi tersebut menjadi fondasi utama dalam membentuk santri yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Berlokasi di Banjarnegara, pesantren ini tumbuh dari sebuah bangunan sederhana menjadi lembaga pendidikan Islam yang kemudia populer secara luas. Tidak hanya masyarakat sekitar, ribuan santri dari berbagai daerah juga datang untuk menimba ilmu. Kepercayaan masyarakat terus meningkat karena pesantren mampu menjaga keseimbangan antara pendalaman ilmu agama dan pembinaan karakter.
Berawal dari Jejak Dakwah Keluarga Ulama
Sejarah Pesantren Tanbihul Ghofilin tidak dapat terpisahkan dari perjalanan dakwah keluarga besar pendirinya. Kisah itu bermula sekitar awal abad ke-18 ketika dua ulama asal Yogyakarta, Mbah Salim dan Mbah Saliyem, datang ke wilayah Banjarnegara. Keduanya memilih berdakwah dengan jalan tirakat dan laku prihatin. Mbah Salim berharap keturunannya menjadi priyayi yang mampu mengabdi kepada masyarakat. Sementara Mbah Saliyem memohon agar anak cucunya menjadi ulama yang mengabdikan hidup untuk agama.
Dari keluarga tersebut lahirlah Mbah Basor, seorang tuan tanah yang terkenal dermawan. Beliau membuka lahannya bagi siapa saja yang ingin menetap tanpa harus membeli tanah. Namun, beliau memberikan satu syarat yang sederhana tetapi bermakna. “Barang siapa mau menempati tanah saya dan mau shalat berjamaah di langgar saya ini, maka saya persilakan menempati tanah tanpa harus membeli atau meminjam. Dengan satu syarat, harus shalat berjamaah di sini.” Pesan tersebut menjadi cikal bakal tumbuhnya lingkungan religius yang kemudian melahirkan generasi ulama.
Berangkat dari Kesederhanaan
Generasi berikutnya melahirkan enam bersaudara yang seluruhnya menempuh pendidikan pesantren. Salah satunya adalah KH Mohammad Hasan, tokoh yang kemudian merintis Pesantren Tanbihul Ghofilin. Setelah menimba ilmu di Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Tanggir, Tuban, di bawah bimbingan KH Muslih atau KH Soim, KH Mohammad Hasan kembali ke Banjarnegara pada 1954. Dengan modal sederhana, beliau mendirikan bangunan berukuran sekitar tujuh kali dua belas meter. Bangunan itu awalnya adalah tempat tinggal keluarga sekaligus tempat mengaji kitab. Kehadiran majelis kecil tersebut menarik perhatian masyarakat. Anak-anak mulai datang untuk belajar agama. Perlahan, jumlah santri bertambah dan pesantren berkembang menjadi pusat pendidikan Islam. Pada masa itu, pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam masih terbatas. Banjarnegara bahkan masyhur sebagai daerah yang masih kuat dipengaruhi budaya abangan.
Melihat kondisi tersebut, KH Mohammad Hasan memulai dakwah dari pelajaran paling dasar. Beliau mengajarkan tata cara berwudu, shalat, membaca Al-Qur’an, hingga dasar-dasar akidah. Pesantren juga terkenal karena pelayanan sosialnya. Banyak warga yang mengalami gangguan kejiwaan datang untuk berobat kepada KH Mohammad Hasan.
“Di pondok ini juga dilakukan pengobatan gangguan jiwa, karena banyak masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. Kebetulan sejak dari pesantren bapak saya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan penyakit gila, dan melalui pengobatan itu banyak yang sembuh.”Putra beliau, KH Mohammad Chamzah Hasan, mengenang kiprah sang ayah,’ kenang KH Chamzah, putra Kiai Hasan melansir laman jateng.nu.or,id. Kemudian banyak pasien yang kemudian memilih tinggal di pesantren setelah sembuh. Mereka ingin memperbaiki kehidupan spiritualnya melalui pendidikan agama.
Nama Tanbihul Ghofilin lahir dari pengalaman tersebut. Setelah para pasien pulih, mereka mulai mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Setelah sembuh, pasien ingin berbakti kepada Allah SWT. Mereka telah mendapatkan peringatan, karena sebelumnya lupa. Lalu muncullah kalimat ‘Tanbihul Ghofilin’, yang artinya mengingatkan orang-orang yang lupa, ” tambahnya. Nama itu kemudian menjadi identitas pesantren hingga sekarang. Filosofi tersebut tetap menjadi ruh pendidikan yang hingga sekarang tetap berjalan setiap hari.
Kurikulum Kitab Kuning yang Komprehensif
Kajian kitab kuning menjadi jantung pendidikan di Tanbihul Ghofilin. Para santri mempelajari kitab secara bertahap sesuai tingkat kemampuan. Dalam bidang fikih, santri mempelajari Safinatun Najah, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Minhajul Qawim, Tuhfatut Thullab, Al-Bajuri, hingga Al-Mahalli. Kajian ushul fikih menggunakan Al-Waraqat. Sementara kaidah fikih mengacu pada Faroidul Bahiyah.
Pelajaran nahwu menggunakan Al-Ajurumiyah, An-Nahwul Wadlih, Al-Imrithi, Qawaidul I’rab, dan Alfiyah Ibnu Malik. Santri juga mempelajari ilmu sharaf melalui Amtsilatut Tasrifiyah serta kitab-kitab pendukung lainnya. Untuk tafsir digunakan Tafsir Jalalain dan Tafsir Ayat al-Ahkam. Kajian hadis mengacu pada Al-Arba’in An-Nawawiyah serta Musthalahul Hadits.
Kegiatan keilmuan berlangsung hampir setiap hari. Pengajian Ahad dan Rabu menjadi agenda rutin dengan tema yang disepakati para kiai kampung. Setiap malam Rabu diadakan taqriran muhafadzah dan pembacaan Al-Qur’an. Malam Jumat diisi pembacaan Surah Yasin serta Maulid Barzanji. Sementara itu, pengajian selapanan setiap Minggu Kliwon mampu menghadirkan puluhan ribu jamaah. Saat ini, kajian rutin tersebut membahas Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah.
Bagi pengasuh pesantren, keberhasilan santri tidak hanya diukur dari penguasaan kitab. Santri juga harus mampu hidup berdampingan dengan masyarakat. KH Mohammad Chamzah Hasan menggambarkan karakter lulusan pesantren sebagai santri “persegi”. Filosofi tersebut menjadi tujuan utama pendidikan di Tanbihul Ghofilin. Pesantren ingin melahirkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, serta kemampuan mengabdi di berbagai bidang kehidupan.
Hingga kini, Pesantren Tanbihul Ghofilin terus mempertahankan tradisi salafiyah yang diwariskan para pendirinya. Kesederhanaan, keteladanan, dan kedalaman ilmu menjadi kekuatan utama yang membuat pesantren ini tetap dipercaya masyarakat. Di tengah perubahan zaman, Tanbihul Ghofilin membuktikan bahwa pendidikan berbasis kitab kuning dan pembinaan akhlak tetap relevan untuk melahirkan generasi Islam yang kokoh, berintegritas, dan siap memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.













