Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pesantren Al Tsaniyyah Tangerang : Berdaya Saing lewat Penguatan Bahasa dan Tradisi Keilmuan

297
×

Pesantren Al Tsaniyyah Tangerang : Berdaya Saing lewat Penguatan Bahasa dan Tradisi Keilmuan

Sebarkan artikel ini
profil pesantren
Pondok Pesantren Al Tsaniyyah di Tangerang Selatan membekali santri dengan ilmu agama, bahasa Arab, dan bahasa Inggris . Foto dok banten.nu.or.id

P3M.OR.ID. Tangerang Selatan menjadi salah satu daerah yang memiliki pertumbuhan pesantren cukup pesat. Di tengah perkembangan kota yang modern, Pondok Pesantren Al Tsaniyyah hadir sebagai lembaga pendidikan Islam yang tetap menjaga tradisi keilmuan pesantren salafiyah. Pesantren yang berlokasi di Jalan H. Djaman, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, ini berdiri pada 2009. Pendirinya adalah KH M. Masyhuri Na’im, seorang santri senior Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Pesantren ini berloikasi di jalam H Djaman, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan . Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Tsaniyyah, KH Muhammad Alvi Firdausi, sang pendiri memiliki cita-cita besar untuk menghadirkan pusat pendidikan Islam yang mampu memberikan pemahaman agama secara benar kepada masyarakat. Pesantren juga harus mampu melahirkan generasi unggul yang siap menjadi penerus bangsa pada masa mendatang.

Mewarisi Tradisi Keilmuan Pesantren Sidogiri

KH Muhammad Alvi Firdausi menjelaskan bahwa jalur sanad keilmuan KH Masyhuri Na’im sangat jelas dan tersambung kepada para ulama besar. Di Pondok Pesantren Sidogiri, KH Masyhuri berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, termasuk KH Nawawi serta para masyayikh lainnya.  Setelah KH Masyhuri wafat pada 14 Dzulhijjah 1435 Hijriah, estafet kepemimpinan pesantren berlanjut kepada KH Muhammad Alvi Firdausi. Sebagai pengasuh generasi kedua, ia berupaya menjaga cita-cita pendiri sekaligus menyesuaikan pendidikan pesantren dengan kebutuhan zaman. Awalnya didesain berkiblat dengan Pesantren Sidogiri. Jadi ingin membuat miniaturnya Sidogiri di wilayah Banten

Nama Al Tsaniyyah memiliki makna yang sarat nilai spiritual. Nama tersebut diambil dari syair yang dilantunkan penduduk Madinah saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW. Syair yang terkenal itu berbunyi “Thala’al Badru ‘Alaina Min Tsaniyyatil Wada'”. Nama tersebut mengandung harapan besar terhadap para santri yang menimba ilmu di pesantren. Harapan tersebut menjadi visi utama pesantren dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sebagai pesantren salafiyah, Al Tsaniyyah tetap menjadikan kitab kuning sebagai fondasi utama pembelajaran. Selain kutubut turats, membaca dan menghafal Al-Qur’an, santri juga menggunakan bahasa Arab dan Inggris yang menjadi program andalan pesantren ini. Berbagai kitab klasik menjadi materi pembelajaran sehari-hari. Di antaranya Ta’lim Muta’allim, Fathul Qarib, Safinatun Naja, Al Akhlaq lil Banin, Jurumiyah, Tafsir Jalalain, Bidayatul Hidayah, serta Tanqihul Qaul. Selain memperkuat ilmu agama, pesantren juga mendorong santri menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. Program ini menjadi salah satu keunggulan yang terus melakukan pengembangan.

Rutinitas Santri dari Dini Hari hingga Malam

melansir laman banten,or.id kehidupan santri di Al Tsaniyyah berlangsung dengan disiplin yang ketat. Aktivitas santri mulau pukul 03.30 WIB untuk melaksanakan shalat tahajud. Setelah itu, santri melaksanakan murajaah Al-Qur’an hingga waktu Subuh. Kegiatan berlanjut dengan dzikir Ratibul Haddad dan pengajian kitab sesuai jadwal. Pada pukul 08.00 WIB, para santri mengikuti kegiatan belajar di kelas hingga waktu Dhuhur. Pembelajaran kembali berlangsung pada siang hari hingga pukul 15.30 WIB.

Menjelang Maghrib, para santri mengikuti pembacaan Surat Yasin di maqbarah pengasuh pesantren. Setelah shalat Maghrib, kegiatan berlanjut dengan pembacaan tahlil setiap hari. Pesantren juga menerapkan pola istirahat yang teratur. Pada pukul 22.00 WIB seluruh santri harus beristirahat. Al Tsaniyyah juga menjalankan program kaderisasi yang bertujuan mencetak santri siap mengabdi di tengah masyarakat. Para santri dilatih menjadi imam shalat, memahami kitab-kitab klasik, serta mampu menjelaskan ajaran Islam berdasarkan pandangan para ulama. Kemampuan bahasa ini  menjadi menjadi penting bagi santri untuk menghadapi tantangan global dan persaingan yang semakin terbuka.

Perkembangan Tangerang Selatan yang begitu pesat menghadirkan tantangan tersendiri bagi dunia pesantren. Namun, Al Tsaniyyah berkomitmen mempertahankan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam berbasis tradisi pesantren. Dengan memadukan penguatan ilmu agama, penguasaan bahasa asing, serta kaderisasi kepemimpinan, Pondok Pesantren Al Tsaniyyah terus berupaya mencetak generasi santri yang siap berkontribusi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.