Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

Darurat Kekerasan Seksual, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Dorong SOP dan Peran Ulama Perempuan

189
×

Darurat Kekerasan Seksual, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Dorong SOP dan Peran Ulama Perempuan

Sebarkan artikel ini

P3M.OR.ID. Situasi kekerasan seksual di lembaga pendidikan kembali mencuri perhatian publik. Kasus yang muncul di pesantren hingga kampus membuat isu ini masuk kategori darurat. Dalam momentum Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia, Ketua Majelis Musyawarah KUPI, Nyai Badriyah Fayumi, menegaskan kondisi ini membutuhkan langkah cepat dan sistematis.Nyai Badriyah menilai kasus kekerasan seksual terus terungkap dan menandakan persoalan belum tertangani menyeluruh. Ia menegaskan lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik.

“Hari ini, setiap hari, hati kita menjadi pilu dan malu karena kekerasan seksual di lembaga pendidikan terbongkar satu demi satu, baik di pesantren maupun di perguruan tinggi,” ujarnya di Jakarta pada Ahad (24/5/2026) pengasuh Pesantren Mahasina ini menyebut kekerasan yang muncul tidak hanya terbatas pada kekerasan seksual. Bentuk kekerasan lain juga tetap mengancam peserta didik dan membuat lingkungan pendidikan kehilangan fungsi moral. “Kekerasan memang luar biasa mengepung kita di semua lini, termasuk di lembaga yang mestinya menjadi benteng moral,” tambahnya.

Di tengah meningkatnya perhatian publik, Nyai Badriyah memaparkan hasil riset dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) tahun 2025. Riset tersebut menunjukkan pesantren dengan ulama perempuan aktif memiliki ketahanan lebih kuat terhadap ancaman kekerasan seksual. “Penelitian PPIM menemukan fakta bahwa pesantren yang banyak atau ulama perempuannya berperan memiliki resiliensi atau ketahanan yang jauh lebih tinggi terhadap ancaman kekerasan seksual dibandingkan dengan yang bunyai atau ulama perempuannya kurang berperan,” ujarnya.

Kontribusi Ulama Perempuan

Temuan itu memperkuat keyakinannya bahwa kontribusi ulama perempuan sangat menentukan terciptanya lingkungan pendidikan yang aman. Adanya banyak kasus yang mencuat belakangan bukan berasal dari pesantren dengan keterlibatan aktif jaringan ulama perempuan KUPI. “Biasanya yang muncul itu tidak ada ulama perempuan KUPI-nya, nama-nama yang muncul itu. Tapi ini menjadi tantangan kita semua. Mudah-mudahan gerakan kita menjadi semakin masif dan bisa menjangkau semakin banyak lagi lembaga pendidikan,” tegasnya.

Selain memperkuat peran ulama perempuan, ia mendorong penerapan SOP pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pesantren. Nyai Badriyah berharap pesantren yang sudah menerapkan SOP dapat berbagi agar dapat menjadi acuan lembaga lain. “Saya mohon beberapa pesantren yang sudah punya SOP dan diterapkan, mungkin nanti bisa sharing sehingga bisa langsung di-copy paste di pesantren masing-masing,” katanya. Ia menegaskan pentingnya gerakan pencegahan yang konkret dan masif. “Gerakan pencegahan ini konkret dan masif, dikawal orang-orang yang memang lahir batin menginginkan Indonesia tanpa kekerasan,” ujarnya.

Sementara Majelis Musyawarah (MM) Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) resmi meluncurkan Atlas Ulama Perempuan KUPI dalam Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BuKUPI) 2026 . Acara yang berlangsung di Masjid Cut Nyak Dien, Minggu (24/5)  ini menghadirkan sekitar 1.000 peserta dari berbagai daerah dan jaringan internasional. Rangkaian kegiatan berlangsung sepanjang Mei dengan total 24 agenda melibatkan ulama perempuan, pesantren, kampus, komunitas, dan mitra media.

Atlas KUPI

Salah satu agenda utama ialah pembacaan 31 manaqib tokoh ulama perempuan Indonesia selama 20 hari. Selain itu, gerakan khataman Al-Qur’an menjelang acara puncak menghasilkan 1.047 khataman dari ratusan lembaga dan komunitas. Ketua Panitia BKUPI, Nyai Pera Sopariyanti, menegaskan gerakan ulama perempuan merupakan gerakan kolektif lintas elemen. “Gerakan Ulama Perempuan ini adalah gerakan kultural, gerakan spiritual, gerakan sosial, dan gerakan intelektual,” ujarnya.

Pada acara tersebut, Majelis Musyawarah KUPI meluncurkan Atlas Ulama Perempuan Indonesia yang mendokumentasikan jejak ulama perempuan dari berbagai daerah. Peluncuran dilakukan oleh Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah. “Atlas KUPI bukan sekadar daftar nama. Atlas KUPI adalah peta jejak perjuangan ulama perempuan,” tuturnya.  Selain atlas, KUPI juga memperkenalkan Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia berisi 31 profil ulama perempuan. Buku tersebut diperkenalkan oleh Faqihuddin Abdul Kodir yang menyatakan, “Ini ikhtiar kami untuk memulai mencatat, menghormati, meriwayatkan, mentransmisikan jasa-jasa ulama perempuan.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.