Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorTokoh

Kiai Ahmad Syaikhu, Kiai Visioner, Ulama Pejuang dari Ampel Hingga Pentas Internasional

425
×

Kiai Ahmad Syaikhu, Kiai Visioner, Ulama Pejuang dari Ampel Hingga Pentas Internasional

Sebarkan artikel ini
Profil
Nama KH Ahmad Syaikhu menempati ruang penting dalam sejarah pendidikan dan dakwah Indonesia dan pendiri Pondok Pesantren Al-Hamidiyah

P3M.OR.ID. Nama KH Ahmad Syaikhu menempati ruang penting dalam sejarah pendidikan dan dakwah Indonesia. Ia mendirikan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Depok, sebuah lembaga yang kelak melahirkan banyak kader ulama dan pendidik. Walaupun begitu, masyarakat sering luput dari rekam jejaknya, bahkan di kalangan Nahdlatul Ulama sendiri. Perbedaan penulisan namanya menambah kerancuan, meski dalam tulisan ini digunakan bentuk yang paling banyak dipakai, yaitu Ahmad Syaikhu.

Ahmad Syaikhu lahir di kawasan Ampel Surabaya pada Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia tumbuh sebagai putra bungsu dari pasangan H. Abdul Chamid dan Ny. Hj. Fatimah. Ayahnya meninggal saat ia berusia dua tahun, sehingga ibunya mengasuhnya bersama sang kakak, Achmad Rifa’i. Sejam muda mendapat pendidikan agama di bawah bimbingan Kiai Said, guru mengaji di sekitar Masjid Ampel. Pada usia tujuh tahun, ia sudah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Semangat belajarnya terus berkembang ketika ia masuk Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah. Ayah tirinya, H. Abdul Manan, lalu memindahkannya ke Madrasah Tashwirul Afkar—lembaga yang didirikan sejumlah tokoh besar seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, dan KH Dahlan Ahyad. Madrasah inilah yang kelak menjadi cikal-bakal organisasi besar umat Islam: Nahdlatul Ulama.

Muda, Mandiri, dan Terbentuk oleh Kerja Keras

Ketika H. Abdul Manan meninggal, ibunya kembali menanggung kebutuhan keluarga. Syaikhu pun ikut bekerja sejak usia kanak-kanak di perusahaan sepatu milik Mohammad Zein bin H. Syukur. Ia menghentikan sekolah untuk beberapa waktu agar bisa membantu ekonomi keluarga. Setelah dua tahun bekerja, ia menimba ilmu lagi di Madrasah Nahdlatul Wathan, lembaga pendidikan yang juga lahir dari gagasan KH Abdul Wahab Hasbullah. Di sana, ia belajar kepada tokoh yang sangat memengaruhi perkembangan intelektualnya, yaitu KH Abdullah Ubaid. Ia juga memperdalam fikih kepada KH Ghufron. Di sela aktivitas belajar, ia bekerja di tempat penjahit kenamaan, Mohamad Yasin. Pada 1937, ibunya menikah dengan KH Abdul Wahab Hasbullah. Di bawah figur besar inilah kepemimpinan Syaikhu tumbuh. Ia bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut dan aktif berdakwah kepada rekan-rekan kerjanya.

Pada 1938, KH Abdul Wahab Hasbullah mengirimnya belajar ke Pesantren Al-Hidayah Lasem asuhan KH Ma’shum. Ia menjadi santri kesayangan sang kiai selama tiga tahun sebelum harus kembali ke Surabaya karena terserang tipes. Pada 5 Januari 1945, ia menikahi Solichah, putri Mohamad Yasin. Mereka membangun usaha rumahan berupa industri sepatu yang melibatkan lima belas karyawan.

Terjun ke NU dan Karier Politik

Ketika tentara Sekutu menyerbu Surabaya, keluarga ini mengungsi ke Bangil. Mereka kembali ke Surabaya pada 1948 dan Syaikhu mulai mengajar di Madrasah NU sekaligus memimpin Ranting NU Karang Menjangan. Dari sinilah perjalanan panjangnya di organisasi dimulai. Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya 1948–1950, ia menjabat sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum bersama KH Thohir Bakri, KH Thohir Syamsuddin, dan KH A. Fattah Yasin. Kariernya semakin naik ketika ia menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Surabaya pada 1952. Awal 1950-an, ia bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian pindah ke Kantor Agama Kotapraja. Pada 1953, ia terpilih sebagai ketua LAPUNU Jawa Timur. Pemilu 1955 menempatkannya sebagai anggota DPR Fraksi NU, lalu pada 25 November 1958 ia memimpin fraksi tersebut. Puncak karier politiknya terjadi pada 1966 ketika ia menjabat Ketua DPRGR. Di NU, ia menjabat sebagai salah satu ketua PBNU hingga 1979.

Dunia internasional pun mengakui kapasitasnya. Dalam Konferensi Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) di Bandung pada 6–14 Maret 1965, ia terpilih sebagai presiden dewan pusat. Ia mengagumi Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan mengembangkan misi dakwah Islamiyah sekaligus memperjuangkan kepentingan Indonesia di kancah politik global. Walaupun lama berkecimpung di dunia politik, semangat dakwahnya tidak pernah padam. Ia selalu menempatkan dakwah sebagai alasan utama dalam setiap langkah perjuangannya.

Mendirikan Pesantren

Sesudah menyelesaikan masa baktinya di DPR dan menutup perjalanan panjangnya sebagai pengurus di lingkungan NU, KH Ahmad Syaikhu memilih jalur dakwah sebagai fokus utama kehidupannya. Ia kembali turun langsung ke tengah umat, mengisi hari-harinya dengan ceramah, pengajaran agama, serta kegiatan pembinaan masyarakat. Kecintaannya terhadap dakwah mendorongnya untuk terus bergerak tanpa mengenal lelah.

Pada tahun 1978, ia berkumpul bersama sejumlah ulama yang sejalan dalam visi dakwah. Dari pertemuan-pertemuan intens itu, lahirlah sebuah gagasan untuk membentuk wadah para mubalig. Gerakan ini kemudian berkembang menjadi organisasi bernama Ittihadul Muballighin. KH Ahmad Syaikhu memimpin langsung organisasi tersebut dan mengarahkan langkahnya agar para pendakwah memiliki ruang kolaborasi yang lebih kuat serta terorganisir. Beberapa tahun kemudian, tepatnya mulai 1980, muncul keinginan mendalam dalam dirinya untuk membangun sebuah pesantren. Ia memandang dunia pendidikan sebagai medium dakwah yang lebih berkelanjutan, jangka panjang, dan mampu melahirkan generasi penerus ulama. Keinginan itu tumbuh makin kuat dari tahun ke tahun hingga akhirnya ia memutuskan untuk merealisasikannya.

Perjalanan panjang itu berbuah pada 1987. Ia memulai pembangunan sebuah pesantren di kawasan Depok, Jawa Barat. Setiap tahap pembangunan ia awasi langsung. Ia ingin memastikan pesantren berdiri tidak hanya sebagai bangunan, melainkan sebagai pusat pendidikan yang kuat, rapi, dan memiliki arah yang jelas. Momentum penting terjadi pada 17 Juli 1988, ketika pesantren yang ia impikan akhirnya diresmikan oleh Menteri Agama saat itu, Munawir Sjadzali. Pesantren tersebut diberi nama Al-Hamidiyah, sebuah nama yang ia pilih untuk menghormati dan mengenang ayahandanya, H. Abdul Hamid. Dengan nama itu, ia ingin mewariskan jejak keluaraga sekaligus menanam nilai-nilai perjuangan sang ayah dalam perjalanan pendidikan pesantren. Setahun kemudian, pada 1989, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk pindah dan menetap sepenuhnya di lingkungan pesantren. Ia ingin hidup menyatu bersama para santri, mengawasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.