Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Hasil Monitoring P3M Sebut Pengelolaan Sampah Pesantren Sirojuth Tholibin Semakin Maju

266
×

Hasil Monitoring P3M Sebut Pengelolaan Sampah Pesantren Sirojuth Tholibin Semakin Maju

Sebarkan artikel ini
monitoring
Kegiatan monitoring di pesantren Sirojut Tholibin Purwaodadi

P3M.OR.ID. Pengelolaan sampah di lingkungan Pesantren Sirojuth Tholibin terus mengalami perkembangan positif. Proses monitoring terbaru menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada sistem pemilahan dan pemanfaatan sampah. Data terbaru menyebutkan bahwa pesantren ini menampung 2.857 santri, terdiri dari 1.364 santri putra dan 1.493 santri putri, sehingga kebutuhan pengelolaan sampah semakin besar setiap bulan. Total timbulan sampah mencapai 5 ton per bulan, dan kondisi tersebut mendorong pengurus pesantren berupaya mengatur manajemen sampah dengan lebih terstruktur.

Dalam proses pendampingan, ketua LO Hanif Fatkhu Nizam menyampaikan komitmennya dalam membantu penguatan program. “Pengelolaan harian berada di bawah koordinasi pengurus Bank Sampah dengan ketua dari putra dan putri. Mereka mengatur pemilahan sampah, mengelola operasional harian, serta memonitor efektivitas sarana prasarana yang tersedia.,” ungkap Hanif.  Penggunaan sarana prasarana pengelolaan sampah di pesantren kini lebih baik. Tempat sampah terpilah ,lanjut Hanif, berfungsi secara maksimal karena jumlahnya bertambah sesuai kebutuhan. Beberapa sarana lain memang belum optimal, seperti penggunaan notepad yang masih belum baik karena belum jelas penanggung jawabnya. Kendati demikian, fasilitas biopond berjalan optimal bahkan bertambah hingga 20 unit berbahan semen. Fasilitas lain seperti timbangan sampah dan alat pelindung diri belum tersedia, tetapi sudah ada perencanaan untuk  memenuhinya.

Hasil Menggembirakan

Program pengelolaan sampah anorganik menunjukkan hasil menggembirakan. Santri berhasil mengumpulkan 900 kg sampah anorganik (putra) dan 405 kg (putri) setiap minggu. Jenis sampah yang terkumpul antara lain gelas plastik, botol plastik, kaleng, kardus, dan buku. Penjualan sampah anorganik menghasilkan nilai ekonomi yang cukup stabil.  Sampah organik juga terkelola secara terstruktur. Sampah seperti nasi, kulit buah, sayuran, dan sisa dapur kemudian mengolahnya sebagai pakan maggot. Total sampah organik yang terkumpul total mencapai 500 kg. Maggot hasil budidaya ini kemudian menjualnya kepada peternak unggas dengan harga Rp 5.000 per kilogram. Namun penjualan mengalami kendala karena unggas peternak banyak yang mati sehingga pengurus kini mencari pembeli baru. Sistem pengolahan ini tetap berjalan untuk menjaga kontinuitas proses penguraian sampah.

Sementara itu, sampah residu masih tersisa sekitar 300 kg atau sekitar 15–20 persen dari total sampah. Sampah residu tersebut akhirnya dibakar karena belum ada kerja sama resmi dengan dinas terkait. Pesantren disarankan menggunakan tungku pembakar minim asap agar proses lebih aman dan ramah lingkungan.

Program pengembangan lainnya juga berjalan. Pesantren Sirojuth Tholibin telah menerapkan pemilahan sampah daur ulang, pemilahan B3, dan pemeliharaan budaya bersih melalui piket harian. Budidaya maggot dan ayam juga menjadi bagian dari pengembangan. Meskipun budidaya ayam elba belum berhasil karena kendala adaptasi dan pakan, pengurus tetap mencari formula terbaik untuk keberlanjutan program.

Berbagai kendala masih dihadapi, seperti keterbatasan lahan, kesadaran santri yang belum merata, kondisi sarana prasarana, serta akses menuju tempat pengolahan sampah. Pengurus berupaya mengatasinya melalui edukasi rutin, penambahan fasilitas, perbaikan akses, dan peningkatan kedisiplinan piket.

Upaya pesantren menunjukkan langkah nyata menuju pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan. Program ini diharapkan semakin matang sehingga mampu menjadi contoh bagi pesantren lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.