Pendidikan Quote Gus Dur
ArtikelKhazanah IslamPilihan EditorTokoh

Kiai Munawwir :Ulama Besar Pembuka Tradisi Tahfiz di Nusantara

558
×

Kiai Munawwir :Ulama Besar Pembuka Tradisi Tahfiz di Nusantara

Sebarkan artikel ini
profil kiai
Pesantren al Munawwir Krapyak

P3M.OR.ID. Kiai Munawwir, Krapyak adalaj salah satu ulama besar Nusantara. Namanya melekat sebagai pelopor tradisi tahfiz Al-Qur’an di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Beliau lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1870. Menurut Kiai Mustofa Bisri atau Gus Mus, Kiai Munawir itu adalah wali. “Saya itu santrinya Kiai Ali Maksum, kurang percaya dengan wali-walian. Hanya saja khusus Kiai Munawwir, saya yakin ia wali,” tegas Gus Mus. Gus Mus beralasan, kewalian KH Munawir juga bisa dilihat dari begitu banyaknya santrinya menjadi tokoh Al-Qur’an di Indonesia. Ini membuat banyak hamilul Qur’an bersambung sanadnya ke KH Munawwir.

Kiai Munawir merupakan putra dari Kiai Abdullah Rosyad dan Nyai Khodijah. Sejak kecil nbeliau tumbuh di lingkungan religius yang kuat. Perjalanan ilmu Kiai Munawwir bermula ketiga belajar Al-Qur’an di Bangkalan asuhan KH Maksum. Selain itu melanjutkan perjalanan keilmuannya berbagai pesantren dan kiai Nusantara. Tercatat beberapa ulama menjadi gurunya seperti Kia  Abdullah dari Kanggotan Bantul, KH Kholil dari Bangkalan Madura. Kemudian Kiai Sholih dari Darat Semarang, dan Kiai Abdur Rahman dari Watucongol Muntilan.  MAka tidak salah kalau kemudian Kiai Munawwir tumbuh menjadi seorang yang berdisiplin tinggi dan cinta ilmu.

Pada tahun 1888 melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Mekkah. Beliau tinggal kota suci itu selama 16 tahun. Setelah itu memperdalam ilmunya di Madinah. Total Kiai Munawwir menghabiskan 21 tahun untuk belajar di dua kota suci tersebut.  ketika di tanah suci itu, beliau mengaji Al-Qur’an, tafsir, dan qiraat sab‘ah dari banyak guru besar.  Beberapa  ulama besar menjadi gurunya seperti Syekh Abdullah Sanqara, Syekh Syarbini, Syekh Muqri. Kemudian mengaji juga kepada  Syekh Ibrahim Huzaimi, Syekh Manshur, Syekh Abd Syakur, dan Syekh Musthafa.

Kembali ke Yogyakarta

Kemampuan hafalan Al-Qur’annya semakin kuat di Mekkah dan Madinah. Setelag menguasai hafalan lengkap dengan qiraat sab‘ah membuatnya membuat beliau masyhur sebagai ulama Jawa pertama yang berhasil menguasai qiraat sab‘ah. Kiai Munawwir mempelajari qiraat tersebut dari Syekh Yusuf Hajar. Sanad tahfiznya bersambung hingga Rasulullah SAW. Rangkaian sanad itu memuat nama-nama ulama besar, seperti Syekh ‘Abdul Karim ‘Umar al-Badri, Syekh Isma‘il Basyatin, Syekh Ahmad ar-Rasyidi, dan Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Syuja‘. Sanad itu terus bersambung hingga Zaid bin Sabit, Ubay bin Ka‘b, Abdullah bin Mas‘ud, Ali bin Abi Talib, dan Usman bin Affan.

Setelah kembali ke Yogyakarta pada tahun 1911, KH M. Munawwir mendirikan majelis pengajian di rumahnya. Langkah itu menjadi awal berdirinya Pondok Pesantren Krapyak.  Beliau mengasuh pesantren tersebut selama kurang lebih 33 tahun. Dedikasinya melahirkan banyak ahli Al-Qur’an dari berbagai daerah. Murid-muridnya kemudian mendirikan pesantren yang fokus pada tahfiz Al-Qur’an. Di antara muridnya terdapat nama-nama besar. Mereka adalah KH Arwani Amin Kudus, KH Badawi dari Kaliwungu, KH Zuhdi dari Nganjuk, KH Umar Mangkuyudan Solo. Kemudian ada  KH Umar Kempek Cirebon, KH Nor Munawwir dari Tegalarum, KH Muntaha Kalibeber Wonosobo, serta KH Murtadlo dari Buntet Cirebon.  Selain itu juga ada KH M. Ma‘shum Gedongan, KH Abu Amar Kroya, KH Suhaimi dari Benda, KH Syatibi dari Kiangkong, KH Anshor Pepedang, KH Hasbullah Wonokromo, dan KH Muhyiddin Jejeran Yogyakarta.

KH M. Munawwir dikenal sebagai ulama yang sangat disiplin dalam ibadah. Beliauselalu menjaga salat fardu dan salat sunnah. Ia mengkhatamkan wirid Al-Qur’an setiap pekan, biasanya pada hari Kamis. Sikap muru’ah terlihat dari kerapian penampilannya. Ia mengenakan kopiah atau serban, serta pakaian sederhana. Saat menghadiri acara resmi, ia memakai pakaian dinas Kraton Yogyakarta. Selain itu juga sangat peduli pada keluarga dan para santri. Ia menerapkan wejangan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak membedakan tamu yang datang. Semua ia sambut dengan baik. Ia bahkan sering menyempatkan diri berkunjung ke rumah santri dan tetangga. Sete;ah sakit selama 16 hari beliau wafat pada 11 Jumadil Akhir 1360 H atau 6 Juli 1942. Warisannya dalam dunia tahfiz menjadi tonggak penting bagi generasi selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.