Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorTokoh

Jejak Intelektual Syekh Abdul Majid al-Jambi Sang Guru Para Guru dari Tanah Pilih

789
×

Jejak Intelektual Syekh Abdul Majid al-Jambi Sang Guru Para Guru dari Tanah Pilih

Sebarkan artikel ini
ulama
Syekh abdul Majid Jambi

P3M.OR.ID. Sejarah Islam di Nusantara tidak pernah lepas dari peran besar para ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan kemerdekaan. Salah satu sosok yang menjadi pilar penting dalam sejarah Islam di Jambi. Beliau adalah Syekh Abdul Majid al-Jambi. Pria lahir pada tahun 1850 Masehi di Kampung Tengah, kawasan Pecinan, Jambi adalaj ulama besar. Syekh Abdul Majid  yang tidak hanya menguasai ilmu agama secara mendalam. Yang tidak kalah hebat beliau memiliki jiwa nasionalisme yang kuat dalam melawan cengkeraman penjajahan Belanda melalui jalur intelektual.

Lahir dari keluarga berada, ayahnya yang bernama Muhammad Yusuf merupakan seorang haji sekaligus saudagar kaya di wilayah Pecinan. Dukungan finansial dari ayahnya memfasilitasi pembangunan sebuah langgar yang kemudian menjadi pusat penyebaran ilmu agama bagi masyarakat Jambi. Sejak kecil, Syekh Abdul Majid menyerap ilmu langsung dari sang ayah serta berguru kepada tokoh agama setempat seperti Ketib Mas’ud dan Abdul al-Ghani. Lingkungan religius ini membentuk karakter beliau menjadi pemuda yang sangat berpengaruh, sehingga pada usia 20 tahun, beliau sudah mulai mengajar di Langgar Putih.

 

Perjalanan Intelektual di Tanah Haramain

Minatnya Syekh Abdul Majid akan ilmu pengetahuan membawanya menyeberangi samudera menuju Mekkah dan Madinah atau yang dikenal dengan sebutan Haramain. Di tanah suci, beliau menjalin hubungan akrab dengan ulama-ulama besar asal Nusantara, termasuk Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi. Keduanya menimba ilmu dari guru-guru ternama dunia Islam, seperti Syekh Bakri Dimyati Syatha yang menulis kitab I’anat Ath-Thalibin, serta Syekh Umar bin Muhammad Syatha al-Makki.

Daftar guru beliau mencakup nama-nama besar seperti Syekh Utsman bin Muhammad, Syekh Ahmad bin Zayni Dahlan, hingga Syekh Muhammad Salih Kurdi. Beliau juga memperdalam ilmu kepada Syekh Ali bin Abdullah al-Banjari, yang merupakan cicit dari ulama legendaris Syekh Arsyad al-Banjari. Kedalaman ilmunya membuat beliau memperoleh izin resmi untuk mengajar di salah satu serambi Masjidil Haram. Reputasinya yang cemerlang melahirkan julukan hormat Syekh al-Masyaikh al-Jambi, yang berarti guru dari para guru di Jambi.

Setelah menetap di Mekkah, Syekh Abdul Majid kembali ke tanah kelahirannya pada akhir tahun 1880-an. Beliau melanjutkan estafet kepemimpinan di Langgar Putih setelah wafatnya Ketib Mas’ud pada tahun 1889. Murid-muridnya bukan orang sembarangan, mereka adalah tokoh-tokoh yang kemudian memegang peranan penting dalam masyarakat Jambi, seperti Hoofd Penghulu Abdul Ash-Shomad dan Guru Usman bin Ali. Namun, aktivitas dakwah beliau mengundang kecurigaan besar dari pemerintah kolonial Belanda. Belanda menganggap pengajian Syekh Abdul Majid sebagai ancaman bagi kestabilan kekuasaan mereka. Menghadapi pengawasan yang ketat, beliau memindahkan pusat pengajiannya ke kawasan pinggir Danau Teluk yang saat itu masih sepi penduduk. Di sana, beliau mendirikan Ma’had Ali, sebuah lembaga pendidikan yang menjadi benteng pertahanan mental masyarakat Jambi.

Selain mengajar, Syekh Abdul Majid memiliki kedekatan dengan pahlawan nasional Jambi, Sultan Thaha Syaifuddin. Sebagai penasehat sekaligus guru Sultan, beliau memegang peran diplomasi yang krusial. Pada masa perang Jambi, Sultan Thaha mengutus beliau ke Turki sekitar tahun 1903 untuk menemui Sultan Usmani guna meminta bantuan militer dan dukungan politik. Meski misi tersebut belum membuahkan hasil, upaya ini menunjukkan bahwa Syekh Abdul Majid adalah ulama yang memiliki visi politik global.

Warisan Karya dan Pemikiran Pembaharuan

Syekh Abdul Majid al-Jambi percaya sepenuhnya bahwa pendidikan adalah senjata utama untuk meraih kemerdekaan. Menurut pandangan beliau, masyarakat yang terdidik akan mampu membedakan kebaikan dan keburukan secara mandiri, sehingga tidak mudah dimanipulasi oleh penjajah. Keyakinan ini mendorong beliau untuk menjadi penulis yang sangat produktif sejak usia 21 tahun.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Risalah Bahjatul Hidayah fi Masailil Khilafiyyah, sebuah kitab yang menggunakan aksara Arab Melayu (Jawi). Dalam kitab ini, beliau menjelaskan berbagai persoalan keagamaan seperti tawasul dan talqin dengan sikap yang moderat. Beliau lebih memilih memberikan dasar hukum yang kuat daripada menjatuhkan vonis salah secara sepihak terhadap perbedaan pendapat di tengah masyarakat. Selain itu, beliau menulis kitab Manhajul Ghulam li Qawa’idil Iman wal Islam yang menyasar pendidikan anak-anak. Beliau menyusun kitab tersebut dalam bentuk tanya jawab yang dialogis agar prinsip-prinsip iman dan Islam lebih mudah meresap ke dalam pikiran generasi muda. Beberapa karya lainnya mencakup bidang tauhid, fiqih, akhlak, hingga tasawuf, seperti Syarah Bulughul Raja dan Al-Jawahir as-Saniyyah.

Syekh Abdul Majid menutup usianya pada tahun 1915 Masehi setelah sempat kembali ke Mekkah karena pengawasan Belanda yang semakin ketat. Beliau meninggalkan warisan berupa semangat kedermawanan, keberanian melawan penindasan melalui literasi, dan fondasi pendidikan Islam yang masih kokoh di Jambi hingga hari ini. Menelusuri kembali karya-karyanya adalah bentuk penghargaan tertinggi bagi sang pembaharu Islam dari Jambi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.