Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Menelusuri Jejak Cahaya di Timur Semarang: Transformasi Spiritual Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen

1164
×

Menelusuri Jejak Cahaya di Timur Semarang: Transformasi Spiritual Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen

Sebarkan artikel ini
profil pesantren
Pondok Pesantren al Itqon Semarang

P3M.OR.ID. Kota Semarang tidak hanya menawarkan keriuhan industri dan hiruk pikuk pelabuhan. Namun  ibu kota Jawa Tengan ini juga menyimpan oase spiritual yang kokoh menjaga tradisi Islam klasik. Di kawasan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, berdiri tegak Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen. Lembaga pendidiikan Islam ini bukan sekadar tempat mengaji,  melainkan simbol keteguhan ilmu salafiyah yang terus beradaptasi dengan denyut zaman .

KH. Haris Shodaqoh dan KH. Ubaidillah Shodaqoh adalah  pengasuh pesantren sekaligus salah satu ulama kharismatik  Jawa Tengah . Dari sejarahnya, Pesantren  Al-Itqon mencerminkan dinamika pemikiran pesantren di Indonesia yang sangat kaya. Para sejarawan lokal mencatat bahwa pesantren ini melewati tiga fase kepemimpinan. Pada masing-masing membawa warna unik dalam kurikulum dan pendekatannya kepada santri. Pesantren ini bermula pada tahun 1953  ketika KH. Shodaqoh Hasan mendirikan fondasi pertama pesantren. Salah satu latar belakang berdirinya adalah keprihatinan mendalam melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar yang saat itu masih jauh dari tuntutan syariat. Sebagai keturunan ulama besar KH. Hasan Asnawi dari Poncol, KH. Shodaqoh Hasan berjuang untuk membangun sistem pendidikan murni salafiyah yang berfokus pada pembentukan karakter dasar Islami.

Memasuki periode kedua, Al-Itqon mengalami gelombang modernisasi. Pada masa ini, manajemen pesantren melakukan ekspansi besar-besaran dengan membangun berbagai fasilitas fisik pendukung. Pengurus mendirikan gedung sekolah untuk jenjang MI, MTs, hingga MA. Tidak hanya itu, mereka juga menghadirkan ruang klinik kesehatan, gedung koperasi, aula, dan berbagai sarana penunjang lainnya. Langkah ini sekaligus mengubah status kepemimpinan dari pengelolaan perorangan menjadi sebuah organisasi profesional di bawah naungan Yayasan Al-Watoniyah.

Menjaga Sanad Ilmu Kitab Kuning

Namun, arus balik yang menarik terjadi pada periode ketiga di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Kharis Shodaqoh. Beliau mengambil langkah berani dengan mengembalikan pesantren ke khitah atau jalur tradisional. Beliau memutuskan untuk menutup unit-unit usaha yang bersifat modern seperti klinik dan koperasi demi mengembalikan suasana pesantren yang tenang, religius, dan fokus pada pendalaman kitab suci. Meskipun kembali ke sistem tradisional, Al-Itqon tetap membuka diri terhadap perkembangan zaman, sehingga kini masyarakat mengenalnya sebagai model pendidikan “Salafiyah-Modern” yang seimbang.

Daya tarik utama yang mengundang santri dari berbagai penjuru tanah air untuk menetap di Al-Itqon adalah metode pengajarannya yang autentik. Para pendidik di sini sangat disiplin menjaga tradisi Sorogan, di mana santri membaca kitab secara individual langsung di hadapan guru, serta metode Bandongan yang melibatkan sang Kyai membacakan serta menjabarkan isi kitab di depan jamaah santri. Kurikulum pesantren ini mencakup spektrum ilmu Islam yang sangat luas dan mendalam. Dalam bidang Fikih dan Ushul Fikih, para santri mengkaji kitab-kitab otoritatif seperti Qulyubi, Fathul Muin, Kifayatul Akhyar, hingga Jam’ul Jawami. Untuk menguasai alat komunikasi agama, pihak pesantren memberikan pendalaman materi Nahwu, Sharaf, hingga Balaghah dengan merujuk pada kitab Ibnu Aqil dan sejenisnya.

Sisi spiritualitas santri juga mendapatkan perhatian besar melalui kajian Tafsir dan Hadis, seperti penggunaan Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, dan kitab hadis Ibnu Majah. Pembentukan karakter atau akhlak santri pun diperkuat melalui kajian tasawuf yang mendalam. Selain pendidikan internal, satu tradisi yang paling melekat di hati warga Semarang adalah Pengajian Ahad Pagi. Agenda rutin yang telah berjalan konsisten selama hampir tiga dekade ini menjadi jembatan ilmu yang menghubungkan para kyai dengan masyarakat umum secara langsung.

Fasilitas Lengkap untuk Kenyamanan Belajar

Meskipun mengedepankan nilai tradisional namun memprioritaskan kenyamanan para pencari ilmu. Lokasi pesantren yang berada di pinggiran kota memberikan keuntungan tersendiri karena suasananya jauh dari kebisingan, namun tetap memiliki aksesibilitas yang mudah. Sumber pendanaan yang berasal dari swadaya masyarakat, iuran santri, serta bantuan pemerintah memungkinkan pesantren untuk terus bersolek meningkatkan fasilitasnya.

Saat ini, kompleks Al-Itqon menyediakan asrama santri putra dan putri yang terpisah secara eksklusif untuk menjaga privasi. Masjid pusat berdiri megah sebagai jantung kegiatan spiritual dan tempat pelaksanaan ibadah harian. Namun pada masa kini ada pendidikan formalnya. Pihak yayasan menyelenggarakan pendidikan mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs). Bahkan, bagi santri yang ingin mendalami ilmu agama ke tingkat yang lebih tinggi, tersedia jenjang Ma’had Aly yang setara dengan pendidikan tinggi. Kehadiran perpustakaan dan ruang pertemuan yang representatif semakin memantapkan posisi Al-Itqon sebagai pusat literasi Islam di Semarang.

Pondok Pesantren Al-Itqon berdiri teguh di atas pilar ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah mencatat KH. Shodaqoh Hasan sebagai tokoh yang sangat aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU), bahkan beliau pernah mengemban amanah sebagai Syuriah di tingkat provinsi Jawa Tengah serta aktif dalam kancah politik nasional. Semangat pengabdian inilah yang mengalir ke dalam nadi pendidikan di Al-Itqon.

Bagi yang mendambakan lingkungan pendidikan yang religius, tenang, namun memiliki manajemen organisasi yang tertata rapi, Al-Itqon Bugen merupakan pilihan yang sangat tepat. Di tempat ini, para santri tidak hanya mempelajari cara membaca deretan kalimat di kitab kuning, tetapi juga belajar cara mengabdi dan berkontribusi nyata bagi masyarakat dengan bekal akhlak yang mulia. Jika Anda tertarik untuk mengunjungi atau mendaftarkan putra-putri Anda, lembaga ini beralamat lengkap di Jl. KH. Aburrosyid, Bugen, Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.