Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorTokoh

Kiai Hasan Genggong dan Warisan Intelektual yang Menghidupkan Tradisi Keislaman Probolinggo

440
×

Kiai Hasan Genggong dan Warisan Intelektual yang Menghidupkan Tradisi Keislaman Probolinggo

Sebarkan artikel ini
Kiai
Kiai Hasan Genggong

P3M.OR.ID. Dalam mozaik perjalanan intelektual Islam di Jawa Timur, figur Kiai Hasan Genggong—atau KH. Mohammad Hasan—menjadi salah satu tokoh sentral yang pengaruhnya terus hidup dari masa ke masa. Meski namanya sering lekat dengan Pondok Pesantren Zainul Hasan (PZH) namun  warisan terbesar sang ulama sejatinya bukan hanya berupa institusi. Warisan terbesarnya adalah tradisi keilmuan dan spiritualitas yang membentuk karakter masyarakat Probolinggo hingga hari ini.

Kontribusinya terlihat jelas melalui kiprah Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, yang menjadi pusat pengajaran agama tradisional di tapal kuda. Namun yang jarang disoroti adalah bagaimana metode pengajaran, perjalanan intelektual, serta etos keilmuan Kiai Hasan sebenarnya telah menjadi model bertahan lama bagi perkembangan Islam di wilayah tersebut. Inilah sisi lain perjalanan hidupnya yang patut ditelusuri.

Kiai Hasan lahir pada 23 Agustus 1843 di Desa Sentong, wilayah yang kini menjadi bagian dari Probolinggo. Beliau merupakan putra darfi  Kiai Syamsuddin dan Nyai Khadijah, Tidak mengherakan semenjak kecil  mendapatkan pendidikan agama yang kuat dan penuh disipilin. Konon kehadiran Kiai Hasan sudah ada isyarat lewat sebuah mimpi. Ketika ibunya mengandung, sang ayah bermimpi istrinya menelan bulan purnama. Simbol cahaya itu banyak yang meyakini sebagai pertanda lahirnya sosok yang kelak memberi penerangan luas bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam perkembangannya, cerita tersebut selaras dengan karakter sang anak. Hasan kecil tumbuh dengan  yang tumbuh kecerdasan tinggi, hafalan kuat, dan perangai lembut sejak kecil. Wafatnya sang ayah ketika Hasan masih berusia belia membuat peran pendidikan berpindah hampir sepenuhnya ke tangan ibunya. Dari Nyai Khadijah, Hasan belajar nilai kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan. Ketiga unsur inilah yang kelak membentuk pondasi moral dalam perjalanan keilmuannya.

Dari Pesantren Lokal hingga Tanah Suci

Kiai Hasan memulai pendidikan dasar agama di lingkungan keluarga, sebelum akhirnya merantau ke berbagai lembaga pesantren. Pada usia remaja, Hasan muda belajar di pesantren Pasuruan.  Salah satunya pesantren asuhan Kiai Mohammad Tamim yaitu Pesantren Sukunsari. Pesantren ini sebuah lembaga yang populer dengan penguasaan dasar fikih dan ilmu alat. Setelah melanjutkan pembelajaran ke Pesantren Bangkalan. Selama tiga tahun mengabdi dan menimba ilmu, Kiai Hasan menunjukkan ketekunan luar biasa.

Puncak perjalanan intelektualnya terjadi saat menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Selmaa tiga tahun bermikim di Tanah Suci beliau memperdalam tauhid, hadis, dan tasawuf. Di kota pusat keilmuan dunia Islam itulah ia berinteraksi dengan para ulama internasional yang memperluas wawasan dan metodologi kajiannya. Tak heran jika banyak peneliti kemudian menyebutnya sebagai intelektual tradisional Nusantara dengan jaringan global.

Sekembalinya dari pengembaraan panjang, Kiai Hasan memilih menetap dan berdakwah di wilayah asalnya, yaitu Probolinggo. Pilihan itu bukan tanpa pertimbangan. Beliau ingin mengamalkan ilmunya langsung kepada masyarakat akar rumput. Caranya berdakwah sangat membumi. Kiai Hasan getol mendatangi rumah-rumah warga, mengajar dengan bahasa sederhana.  Selain membangun komunikasi akrab dengan berbagai lapisan masyarakat, sosoknya yang rendah hati dan senang berbagi menjadikan  masyarakat mencintai dan menghormatinya. Salh satu cerita menyebut Kiai Hasan tidak pernah membiarkan uang bersisa dalam kantongnya. Hampir semua kembali kepada masyarakat. Pendekatan inilah yang menciptakan pola hubungan ulama–masyarakat yang hingga kini masih melekat dalam kultur keagamaan Probolinggo.

Produktivitas Keilmuan

Selain berdakwah, Kiai Hasan juga menulis berbagai karya ilmiah yang dipakai di pesantren hingga hari ini. Sebagian kitab karyanya antara lain adalah Aqidah al-Tauhid fi Ilmi al-Tauhid, Nadham Safinatun Najah, Khutbatain Li ‘Id al-Fitri wa Adha hingga Al-Ahadits al-Nabawiyyah ‘Ala Tartib al-Akhruf al-Hijaiyyah Karya-karya tersebut mencakup fikih, tauhid, hingga kajian hadis, menunjukkan keluasan ilmu yang dimiliki seorang ulama yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan pengetahuan baru.

Kiai Hasan wafat pada 11 Juni 1955 dan dimakamkan di kompleks keluarga Pesantren Zainul Hasan di Pajarakan. Namun warisannya tetap hidup: ribuan santri, sistem pendidikan pesantren, tradisi ngaji kitab, dan pola dakwah yang merakyat masih menjadi bagian dari denyut kehidupan Probolinggo. Lebih jauh lagi, warisan intelektualnya menjadi fondasi yang membuat kawasan tapal kuda tumbuh sebagai pusat pendidikan Islam tradisional yang kuat hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.