Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

Sekjen Kemenag Sebut Ada Empat Hal Penting Dalam Peta Jalan Pesantren

239
×

Sekjen Kemenag Sebut Ada Empat Hal Penting Dalam Peta Jalan Pesantren

Sebarkan artikel ini
peta
Ilustrasi (Foto dok mosaic-indonesia.com)

P3M.OR.ID. Kementerian Agama saat ini tengah menunggu terbitnya regulasi tentang pembentukan Ditjen Pesantren. Namun Kemenag saat ini juga tengah menyusun Peta Jalan Pesantren untuk memperkuat posisinya sebagai sistem pendidikan Islam unggulan dunia. Menurut Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin ada empat hal yang perlu digarisbawahi terkait peta jalan pesantren ini.

“Modal ini dinilai strategis untuk membawa pesantren melangkah lebih jauh. Ke depan pesantren bukan sekadar bertahan, tetapi memberi pengaruh pada tingkat global,” ungkap Kamaruddin Amin di Jakarta (12/ 2026). Adapun keempat hal penting tersebut menurut Amin adalah sebagai berikut: Pertama adalah revitalisasi karakter santri yang adaptif terhadap modernitas, namun tidak tercerabut dari akar tradisi keislaman. Amin menilai pesantren memiliki keunggulan yang tidak ada pada banyak lembaga pendidikan lain yaitu sistem pendidikan 24 jam. Sistem ini  sangat efektif dalam pembentukan karakter, penguatan intelektual, sekaligus pembinaan spiritual.

Kedua, distingsi dan keberpihakan ekonomi. Amin menambahkan bahwa pengaruh lembaga pendidikan Islam dunia seperti Al-Azhar di Mesir, Jam’iyah Islamiyah Madinah, maupun Al-Mustafa, tidak bertumpu pada peringkat global. Namun lanjutnya, lembaga tersebut memiliki kekhasan atau distinctive dan keberpihakan ekonomi. Salah satunya adalah biaya pendidikan yang murah bahkan gratis. Hal inilah yang menjadikan lembaga-lembaga tersebut memiliki daya jangkau luas dan jejaring internasional yang kuat. “Pesantren memiliki potensi untuk mencapai level tersebut. Kuncinya adalah membangun keunikan dan relevansi global,” ujarnya.

Mimpi Besar Para Santri

Kemudian ketiga, membangun mimpi besar para santri. Amin menegaskan, modernisasi pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi, akan tetapi memperluas cakrawala nilai. Menurutnya menghormati kiai dan guru tetap menjadi fondasi, namun pada sisi lain santri juga harus memiliki kesadaran atas dinamika demokrasi, tata negara, ekonomi, hingga tantangan global yang kian kompleks. Santri, lanjut Amin perlu pembekalan literasi keuangan, pemahaman investasi, serta wawasan dunia industri. Hal ini penting agar santri mampu berperan aktif dalam ekosistem ekonomi modern.

Selain itu Amin juga menggarisbawahi nilai penting membangun imajinasi sukses di lingkungan pesantren. Menurutnya ada santri untuk membayangkan diri sebagai pengusaha besar, politisi, menteri, bahkan presiden, tanpa kehilangan integritas moral dan spiritualitasnya. “Pesantren tidak boleh membatasi mimpi santri. Justru harus menjadi ruang yang melahirkan kepemimpinan berkarakter di berbagai sektor,” tegasnya.

Terakhir, keempat adalah internasionalisasi. Upaya internasionalisasi juga menjadi agenda penting bagi pesantren ke depan. untuk itu Kementerian Agama mendorong pesantren membuka diri terhadap mahasiswa asing melalui skema beasiswa atau sponsor. Harapannya dari pertukaran ini  akan terjadi pertukaran gagasan dan penguatan reputasi global.

Pesantren Harus Menjadi Penggerak

Sementara itu Penasihat Ahli Menteri Agama Prof. Nur Syam mengingatkan pentingnya perencanaan strategis yang terukur. Untuk itu dirinya mengusulkan periode 2026–2030 sebagai target jangka pendek yang realistis, dengan 2027 ditetapkan sebagai tahun penuntasan data. Menurutnya, validasi data infrastruktur, sumber daya manusia, dan peta keilmuan menjadi fondasi utama. Tanpa data yang akurat, pembangunan berisiko tidak tepat sasaran. “Quick win kita adalah data. Tanpa itu, kita hanya bergerak dalam asumsi,” ujarnya.

Dalam kerangka besar 2030 hingga 2045, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini mendorong paradigma baru yang mana pesantren dan sumber daya manusianya harus unggul mulai tingkat nasional sekaligus kompetitif secara internasional. Penguatan ilmu keislaman yang berdampak—baik yang bersifat murni maupun integratif—serta pemberdayaan masyarakat berbasis keilmuan menjadi agenda strategis.

Sedangkan Penasihat Ahli Menag Alissa Wahid menekankan bahwa santri masa depan harus menjadi penggerak (muharrik). Santri lanjut Alisa bukan sekadar penonton dalam perubahan sosial san tidak boleh terjebak dalam sikap defensif terhadap perkembangan zaman. Perubahan sosial, politik, dan ekonomi harus direspons dengan kesiapan beradaptasi dan keberanian berinovasi. “Imajinasi kolektif kita harus mengarah pada satu tujuan, yakni menjadikan pesantren sebagai sistem pendidikan Islam unggulan dunia,” ungkapnya. .

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.