P3M.OR.ID. Langit pagi di halaman utama Pesantren Al-Hamidiyah, Sabtu (24/01/26), terasa berbeda. Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kompleks pesantren, larut dalam suasana khidmat Haul ke-31 Almagfurlah KH Achmad Sjaichu dan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Acara ini kian istimewa dengan kehadiran Wakil Presiden RI ke-13, Dalam tausiahnya, KH Ma’ruf Amin mengenang almarhum sebagai ulama besar dengan peran strategis, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Almagfurlah Kiai Sjaichu adalah tokoh besar. Pernah menjadi Ketua DPR-GR dan Ketua Konferensi Islam Asia Afrika. Namun yang terpenting, beliau adalah seorang santri. Santri itu bisa menjadi apa saja,” tuturnya. Pesan itu bukan sekadar nostalgia, melainkan penegasan bahwa akar pesantren mampu melahirkan pemimpin di berbagai medan. KH Ma’ruf Amin juga menekankan pentingnya kaderisasi dakwah. Menurutnya, KH Achmad Sjaichu telah menyiapkan penerus melalui pendidikan pesantren. “Beliau menyiapkan orang-orang yang paham agama untuk meneruskan perjuangan dakwahnya. Kalian para santri inilah penerusnya. Ulama wafat, ilmunya bisa ikut hilang jika tidak diwariskan dan dicari,” tegasnya.
Jejak Kiai Achmad Syaichu
Nama KH Achmad Sjaichu mungkin tak selalu disebut sejajar dengan tokoh-tokoh besar NU lainnya dalam ingatan populer. Namun justru di situlah keistimewaannya. Ia adalah kiai pekerja—organisator ulung dan pejuang dakwah—yang tumbuh dari kesederhanaan. Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Depok yang kini terkenal merupakan puncak dari perjalanan panjang seorang anak yatim yang tak pernah berhenti belajar dan berkhidmat. Lahir di lingkungan religius Ampel, Surabaya, pada 29 Juni 1921, Ahmad Syaichu harus menghadapi ujian hidup sejak dini. Ayahnya wafat saat ia masih balita, meninggalkan sang ibu untuk berjuang membesarkan keluarga. Dari rahim kesederhanaan itulah watak mandiri dan etos kerja kerasnya terbentuk.
Sejak kecil, kecerdasan dan ketekunannya telah menonjol. Di usia sangat muda, ia menuntaskan bacaan Al-Qur’an 30 juz. Menariknya, selain mendalami ilmu agama, ia juga sempat mengenyam pendidikan umum di sekolah yang dikelola Muhammadiyah. Perjumpaan dengan beragam corak pendidikan Islam ini membentuk cara berpikirnya yang terbuka dan moderat—sebuah bekal penting dalam perjalanan dakwahnya kelak. Hidup tak selalu memberinya kemewahan waktu untuk belajar. Demi membantu ekonomi keluarga, ia harus bekerja dan beberapa kali terpaksa menghentikan pendidikan formal. Namun baginya, bekerja bukan penghalang belajar. Pola “belajar sambil bekerja” justru menjadi jalan pendewasaan yang terus ia jalani hingga dewasa.
Jejak hidup KH Achmad Sjaichu berawal dari kesederhanaan. Lahir di Ampel, Surabaya, pada 29 Juni 1921, Sejal belia sejak sang ayah telah meninggal dunia. Dalam asuhan ibunya, ia tumbuh dengan semangat mandiri dan ketekunan tinggi. Sejak kecil, kecerdasannya menonjol. Ia menamatkan bacaan Al-Qur’an 30 juz di usia muda, sembari menimba ilmu agama dan pendidikan umum, termasuk di lembaga yang dikelola Muhammadiyah. Perjumpaan dengan beragam tradisi keilmuan Islam membentuk cara pandangnya yang terbuka dan moderat.
Bekerja Sembari Menuntut Ilmu
Keterbatasan ekonomi tak membuatnya berhenti belajar. Ahmad Sjaichu menjalani masa muda dengan bekerja sembari menuntut ilmu. Bagi dirinya, belajar tidak selalu harus berada dalam ruang kelas. Pengalaman hidup justru menjadi madrasah yang membentuk karakter dan kepekaan sosialnya. Titik penting dalam perjalanannya terjadi ketika ia berguru kepada para ulama besar NU, di antaranya KH Abdul Wahab Hasbullah. Dari lingkungan inilah, kapasitas kepemimpinan dan militansi organisasinya menjadi tertempa. Pengalaman mondok di Lasem di bawah asuhan KH Ma’shum semakin menguatkan fondasi keilmuan dan spiritualitasnya.
Setelah Indonesia merdeka, peran Ahmad Sjaichu kian menonjol. Ia aktif di NU, terlibat dalam dunia pendidikan, organisasi, hingga politik nasional. Namun, politik baginya bukan tujuan akhir, melainkan sarana memperjuangkan kemaslahatan umat hingga memimpin DPR-GR dan duduk dalam struktur tertinggi PBNU. Di tingkat global, ia mendapat kepercayaan sebagai Presiden Organisasi Islam Asia Afrika, membawa pesan Islam Indonesia yang ramah dan berkeadilan ke panggung dunia.
Meski demikian, denyut dakwah tak pernah lepas dari hidupnya. Di masa-masa akhir pengabdian, KH Achmad Sjaichu kembali meneguhkan perannya sebagai pendidik dan pendakwah. Melalui Ittihadul Muballighin dan Pesantren Al-Hamidiyah, ia menanamkan nilai-nilai keislaman yang berpijak pada hikmah dan keteladanan. Haul ke-31 ini menjadi pengingat bahwa warisan terbesarnya bukan jabatan atau gelar, melainkan ilmu, akhlak, dan kader-kader yang terus melanjutkan perjuangan. Dari pesantren sederhana di Depok, pesan dakwah itu terus bergema—menjangkau umat, dan menyapa negeri.













