Pendidikan Quote Gus Dur
FigurKhazanah IslamPilihan Editor

Kiai Nasrullah Afandi dan Ikhtiar Merawat Akhlak

161
×

Kiai Nasrullah Afandi dan Ikhtiar Merawat Akhlak

Sebarkan artikel ini
Kiai Nasrfullah
Gus Nasrul, Kitab Akhlak Modern, Pesantren Balekambang, K.H. Said Aqil Siroj, K.H. Afifuddin Muhajir, K.H. Kafabihi Mahrus Ali, Nahdlatul Ulama, Maqashid Syariah, Pendidikan Pesantren, Akhlakul Karimah

P3M.OR.ID. Di tengah derasnya arus globalisasi, Raudhah al-Mubtadi’in fi ‘Ilm al-Akhlaq al-Mu’ashirah hadir membawa kajian akhlak kontemporer. Kitab karya Dr. K.H. Nasrulloh Afandi, Lc., M.A. atau Gus Nasrul itu lahir dari lingkungan Pesantren Raudhatul Mubtadiin Balekambang, Jepara, Jawa Tengah. Karya tersebut mendapat perhatian dari sejumlah ulama senior Nahdlatul Ulama (NU). Mereka menilai kitab itu menawarkan pendekatan penting untuk membaca persoalan moral masyarakat modern. Gus Nasrul memadukan khazanah keislaman dengan persoalan sosial yang terus berubah.

Melalui  Raudhah al-Mubtadi’in fi ‘Ilm al-Akhlaq al-Mu’ashirah, Gus Nasrul mencoba menjawab kebutuhan tersebut. Ia mengembangkan pembahasan akhlak dengan melihat perubahan sosial yang berlangsung di masyarakat.Ada beberapa ulama yang mengapresiasi kitan ini. Salah satu diantaranya Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj yang memberikan pengantar untuk kitab tersebut. Kiai Said menilai perubahan nilai dan deviasi sosial membutuhkan penguatan spiritual yang berakar pada akhlakul karimah. Menurut Kiai Said, masyarakat membutuhkan pegangan moral ketika menghadapi keterbukaan informasi.

Apresiasi Para Kiai

Karena itu, Kiai Said mendorong santri, pelajar, dan akademisi pesantren membaca serta mengkaji karya Gus Nasrul. “Kitab ini diharapkan menjadi benteng pertahanan agama, prinsip-prinsip Islam, dan akhlak mulia bagi umat Nabi Muhammad saw. di masa kini,” ungkap Kiai Said dalam catatan dan videonya. Apresiasi itu menunjukkan bahwa pembahasan akhlak tidak hanya menyentuh persoalan individu. Akhlak juga berkaitan dengan ketahanan sosial, pendidikan, serta cara masyarakat merespons perubahan zaman.

selain itru apresiasi juga datang dari K.H. Kafabihi Mahrus Ali. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, menyampaikan kebanggaannya terhadap karya tersebut. Ia melihat keberhasilan Gus Nasrul sebagai bagian dari proses kaderisasi ulama pesantren. Selain itu Kiai Kafabihi juga menyoroti sikap Gus Nasrul yang tetap menghormati para guru. Menurutnya, pencapaian akademik tidak membuatnya meninggalkan tradisi takzim kepada ulama. Kemudian Kiai Kafabihi juga memberikan perhatian terhadap bahasa Arab dalam kitab tersebut. Ia menilai Gus Nasrul menggunakan struktur bahasa yang fasih, kokoh, dan sistematis. Penilaian tersebut penting karena kitab berbahasa Arab membutuhkan ketepatan dalam struktur dan penyampaian gagasan. Bahasa yang baik membantu pembaca memahami konsep secara lebih terarah. Karena itu, Kiai Kafabihi menilai karya tersebut berpotensi menjadi rujukan pendidikan Islam. Pesantren dan lembaga pendidikan dapat mengembangkan kajian akhlak melalui karya semacam itu. Ulama sepuh sekaligus Wakil Rais Aam PBNU K.H. Afifuddin Muhajir turut memberikan apresiasi. Ia melihat karya Gus Nasrul hadir pada momentum yang tepat.

Rekam Jejak

Rekam jejak Gus Nasrul juga memperkuat posisi tersebut. Ia aktif dalam forum Bahtsul Masail NU dan menjalankan aktivitas dakwah di berbagai daerah. Pengalaman berdakwah hingga wilayah pedalaman Papua memperluas perspektifnya tentang kehidupan masyarakat. Ia tidak hanya mengembangkan gagasan di ruang akademik, tetapi juga bersentuhan langsung dengan realitas umat. Gus Nasrul memiliki latar pendidikan pesantren yang kuat. Ia merupakan alumnus Pesantren Lirboyo, Kediri, salah satu pusat pendidikan Islam yang memiliki pengaruh luas di Indonesia. Ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga tingkat doktoral. Gus Nasrul menyelesaikan studi S3 bidang Maqashid Syariah di Universitas Al-Qarawiyyin, Maroko. Latar tersebut mempertemukan tradisi pesantren dengan pendekatan akademik. Pengalaman itu turut membentuk cara Gus Nasrul membaca persoalan keagamaan dan sosial.

Gus Nasrul tidak ingin berhenti pada satu jilid. Ia berencana melanjutkan penulisan kitab tersebut secara berkala sesuai perkembangan persoalan masyarakat. “Karena ini kajian akhlak modern yang terus berkembang sesuai permasalahan di tengah masyarakat modern, maka kitab tersebut akan ditulis secara berkala, bersambung, satu tahun bisa satu juz, insyaallah, sebagai upaya menjawab kebutuhan umat,” kata Gus Nasrul, melansir idn.times

Rencana itu menunjukkan bahwa Gus Nasrul memandang akhlak sebagai kajian yang dinamis. Persoalan moral terus berubah seiring perkembangan teknologi, ekonomi, budaya, dan pola komunikasi. Juz pertama memiliki ketebalan sekitar 230 halaman. Kitab tersebut terbit pada Agustus 2026 dan mendapat respons pasar yang cukup kuat. Hampir seribu eksemplar telah dipesan sejak awal penerbitannya. Pembaca juga dapat memperoleh kitab tersebut melalui toko Pesantren Balekambang, Jepara.

Pesantren Balekambang Menjadi Ruang Lahirnya Karya

Pesantren Raudhatul Mubtadiin Balekambang memiliki sejarah panjang dalam pendidikan Islam. Pusat pendidikan tersebut berdiri pada 1884 dan kini berusia lebih dari satu abad. Lembaga itu tidak hanya menjalankan pendidikan keagamaan tradisional. Balekambang juga mengembangkan berbagai jenjang pendidikan untuk menjawab kebutuhan generasi muda. Lembaga tersebut mengelola MI, MTs, MA, dan SMK. Pesantren juga menyelenggarakan Pendidikan Diniyah Formal tingkat Wustha dan Ulya.

Selain itu, Balekambang memiliki Ma’had Aly dan Politeknik Balekambang. Perkembangan tersebut menunjukkan upaya pesantren memadukan pendidikan agama dengan kompetensi akademik dan profesional. Dalam konteks itu, lahirnya **Raudhah al-Mubtadi’in fi ‘Ilm al-Akhlaq al-Mu’ashirah** memiliki makna tersendiri. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi pesantren dapat melahirkan gagasan untuk menjawab tantangan masyarakat modern.

Lebih jauh, apresiasi para ulama NU memberi ruang lebih luas bagi kajian tersebut. Namun, nilai utama kitab tetap terletak pada kemampuannya mengajak pembaca memahami akhlak secara kontekstual. Akhlak pada akhirnya bukan sekadar pembahasan di ruang kelas. Akhlak menentukan cara seseorang berbicara, bekerja, menggunakan teknologi, dan memperlakukan orang lain. Karena itu, ikhtiar Gus Nasrul melalui karya ini relevan dengan kebutuhan generasi digital. Ia berusaha menghadirkan warisan keilmuan pesantren dalam bahasa yang mampu menjawab perubahan zaman.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.