Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

PPSN 2026 di Malang Usung Ekoteologi, Dorong Santri Jadi Penjaga Lingkungan

340
×

PPSN 2026 di Malang Usung Ekoteologi, Dorong Santri Jadi Penjaga Lingkungan

Sebarkan artikel ini
santri
PPSN 2026 di Malang mengusung ekoteologi untuk memperkuat karakter santri sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

P3M.OR.ID. Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) 2026 di Malang** akan membawa pesan penting tentang kepedulian lingkungan. Direktorat Pesantren Kementerian Agama menyiapkan kegiatan tersebut dengan mengusung tema ekoteologi. PPSN 2026 dijadwalkan berlangsung pada 30 September hingga 6 Oktober 2026. Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo Malang menjadi lokasi kegiatan dalam materi persiapan yang dibahas panitia. Persiapan kegiatan terus berjalan melalui koordinasi lintas lembaga. Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan kalangan pesantren terlibat dalam pembahasannya.

Direktorat Pesantren tidak ingin PPSN 2026 hanya menjadi agenda rutin. Kegiatan ini harus memberikan pengalaman yang membentuk karakter dan kepemimpinan santri. Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menekankan arah tersebut. Ia melihat kepramukaan sebagai ruang untuk mengembangkan nilai agama dalam kehidupan nyata. “Gerakan Pramuka di lingkungan pesantren memiliki kekuatan moral dan spiritual yang luar biasa. Melalui PPSN 2026, kita mengarusutamakan gagasan ekoteologi dengan menjadikan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari nilai keimanan dan kehidupan pesantren. Santri tidak hanya terampil mendirikan tenda atau dalam tali-temali, tetapi juga harus berada di barisan terdepan dalam merawat bumi,” ujar Basnang. Pernyataan itu menunjukkan perubahan orientasi kegiatan. Pramuka santri tidak hanya mengejar keterampilan teknis. Mereka juga perlu memahami tanggung jawab sosial dan ekologis.

PPSN 2026 Menguatkan Gagasan Ekoteologi

Ekoteologi menjadi salah satu gagasan utama dalam PPSN 2026. Pendekatan tersebut menghubungkan kepedulian terhadap alam dengan nilai keagamaan. Dalam konteks pesantren, gagasan tersebut memiliki ruang pengembangan yang luas. Santri dapat mempraktikkan kepedulian lingkungan melalui kegiatan sederhana selama perkemahan. Pengelolaan sampah menjadi salah satu contohnya. Peserta juga dapat mengikuti penanaman pohon dan edukasi konservasi alam. Dengan cara tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis. Mereka dapat langsung melihat dampak perilaku manusia terhadap lingkungan. Konsep serupa juga pernah muncul dalam kegiatan kepramukaan santri sebelumnya. PPSN secara umum memang menggabungkan pendidikan karakter, keterampilan, dan nilai keislaman.

sementara itu oengasuh Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo Malang, Khoiruddin, menyambut gagasan tersebut. Ia menilai pesantren memiliki modal nilai untuk mengembangkan kepedulian ekologis. “Pesantren sejak awal mengajarkan kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai cerminan iman. Integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam kegiatan kepramukaan santri akan memperkuat karakter santri yang adaptif dan berwawasan global, tetapi tetap berakar pada nilai rahmatan lil ‘alamin,” tutur Khoiruddin.

Pandangan itu menempatkan lingkungan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Santri tidak hanya belajar menjaga kebersihan untuk kepentingan perkemahan. Mereka juga belajar memahami lingkungan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Karena itu, kebiasaan yang terbentuk selama kegiatan dapat mereka bawa ke pesantren masing-masing.

Panitia menggelar rapat koordinasi pada 7–9 Agustus 2026 di Malang. Pertemuan tersebut membahas berbagai kebutuhan penyelenggaraan kegiatan. Kementerian Agama berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kalangan pesantren juga ikut memberikan masukan dalam persiapan tersebut. Kolaborasi itu penting karena PPSN melibatkan peserta dari berbagai wilayah. Panitia harus memastikan kebutuhan peserta dapat terpenuhi selama kegiatan. Persiapan mencakup konsep acara dan kesiapan lokasi. Panitia juga membahas sarana, prasarana, serta skenario berbagai kegiatan.

Jawa Timur Siap Mendukung Pelaksanaan

Koordinasi nasional untuk PPSN 2026 sebelumnya juga melibatkan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Pada Maret 2026, Kementerian Agama dan Kwarnas membahas persiapan PPSN VI 2026.  Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Agung Subagyo, menjelaskan arah teknis kegiatan. Menurut dia, panitia akan memasukkan ekoteologi ke dalam berbagai aktivitas. “Pendekatan ekoteologi akan tercermin dalam skenario kegiatan, mulai dari pengelolaan sampah selama perkemahan, penanaman pohon, hingga edukasi konservasi alam yang dikemas secara interaktif bagi para santri peserta,” jelas Agung.

Konsep tersebut membuat area perkemahan menjadi ruang belajar terbuka. Santri dapat mempraktikkan pengelolaan lingkungan secara langsung. Pengelolaan sampah, misalnya, membutuhkan kedisiplinan seluruh peserta. Panitia juga perlu menyiapkan sistem pemilahan dan pengurangan sampah selama acara. Penanaman pohon juga dapat memberikan dampak setelah kegiatan berakhir. Karena itu, panitia perlu memastikan kegiatan tersebut memiliki perawatan lanjutan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Budiar menyatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Pemerintah provinsi siap berkolaborasi dengan Kementerian Agama. “Jawa Timur bangga menjadi bagian dari persiapan agenda strategis ini. Kami siap memfasilitasi dan berkolaborasi dengan Kementerian Agama agar PPSN 2026 berjalan aman dan lancar, sekaligus meninggalkan dampak nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.

Dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam persiapan. Pelaksanaan kegiatan besar membutuhkan koordinasi transportasi, keamanan, kesehatan, dan fasilitas umum. Namun, tantangan PPSN 2026 tidak hanya berada pada aspek teknis. Panitia juga perlu memastikan pesan ekoteologi benar-benar hadir dalam kegiatan.

Pramuka memberikan ruang yang tepat untuk pembelajaran berbasis pengalaman. Santri dapat belajar melalui praktik, kerja kelompok, dan kegiatan lapangan. Pendekatan itu sejalan dengan karakter pendidikan kepramukaan. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan dari pembina. Mereka juga menghadapi situasi nyata selama kegiatan. Kondisi tersebut dapat melatih kemandirian, kepemimpinan, disiplin, dan kerja sama. Dalam konteks ekoteologi, pengalaman tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan ekologis. Santri belajar bahwa menjaga lingkungan membutuhkan tindakan sehari-hari. Mereka dapat memulai dari hal sederhana. Misalnya, mengurangi sampah, menggunakan air secara bijak, dan menjaga kebersihan lingkungan.

PPSN 2026 Perkuat Karakter dan Kepemimpinan Santri

PPSN memiliki sejarah sebagai ruang pertemuan pramuka santri dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut mempertemukan santri dengan latar belakang pesantren yang beragam. Pada PPSN 2025, kegiatan nasional di Wajo, Sulawesi Selatan, melibatkan 1.165 peserta dari 70 pangkalan pramuka pesantren. Agenda tersebut menekankan karakter, kemandirian, kepemimpinan, dan ukhuwah antarsantri.  Pengalaman itu menunjukkan posisi penting kegiatan pramuka dalam pendidikan pesantren. PPSN dapat menjadi ruang untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring antarpeserta. PPSN 2026 kemudian membawa tantangan tambahan melalui tema ekoteologi. Santri perlu memahami hubungan antara agama, manusia, dan alam.\

Tema lingkungan akan memiliki arti lebih besar jika berlanjut setelah PPSN selesai. Peserta dapat membawa pengalaman tersebut kembali ke lingkungan pesantren. Setiap pesantren memiliki kondisi ekologis yang berbeda. Ada pesantren yang menghadapi persoalan sampah, keterbatasan air, atau minimnya ruang hijau. Santri dapat mengambil peran dalam mencari solusi. Mereka dapat mengembangkan kegiatan kebersihan, penghijauan, dan edukasi lingkungan. Dengan demikian, PPSN tidak berhenti sebagai perkemahan selama beberapa hari. Kegiatan ini dapat melahirkan gerakan lingkungan yang tumbuh dari pesantren.

Pemerintah berharap kepramukaan santri dapat berkembang menjadi sarana aktualisasi nilai agama. Pendekatan itu menempatkan santri sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat. Ekoteologi memberikan arah yang lebih konkret. Nilai keagamaan dapat diterjemahkan menjadi tindakan untuk menjaga alam. Karena itu, PPSN 2026 memiliki peluang untuk menghasilkan dampak yang lebih panjang. Santri dapat menjadi penggerak kebiasaan ekologis di pesantren dan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan PPSN 2026 tidak hanya terlihat dari kelancaran acara. Ukuran lainnya terletak pada perubahan sikap peserta setelah kembali ke daerah masing-masing. Jika pesan lingkungan terus mereka praktikkan, perkemahan tersebut meninggalkan warisan yang lebih berarti. Pramuka santri pun dapat tampil sebagai generasi yang religius, terampil, dan peduli terhadap masa depan bumi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.