Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Jejak Sejarah Pesantren Al-Huda Garut, Warisan Ulama yang Terus Menyalakan Cahaya Pendidikan Islam

370
×

Jejak Sejarah Pesantren Al-Huda Garut, Warisan Ulama yang Terus Menyalakan Cahaya Pendidikan Islam

Sebarkan artikel ini
pesantren
Kenali sejarah Pesantren Al-Huda Garut, pesantren bersejarah yang mencetak ulama, memadukan pendidikan salafiyah dan modern sejak 1939.

P3M.OR.ID. Garut terkenal sebagai salah satu kabupaten dengan tradisi pesantren yang kuat di Jawa Barat. Di tengah pesatnya perkembangan lembaga pendidikan Islam, Pesantren Al-Huda Garut tetap berdiri sebagai salah satu pesantren bersejarah yang berhasil menjaga tradisi keilmuan sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Sejak berdiri pada 1939, pesantren ini konsisten mencetak ulama, pendidik, dan tokoh masyarakat yang berkontribusi bagi perkembangan Islam di berbagai daerah.

Data Kementerian Agama Kabupaten Garut melalui Education Management Information System (EMIS) menunjukkan bahwa lebih dari seribu pondok pesantren telah memiliki izin operasional di wilayah tersebut. Kondisi itu memperlihatkan kuatnya kultur pendidikan Islam di Garut. Di antara ratusan pesantren tersebut, Al-Huda menjadi salah satu lembaga yang memiliki rekam jejak panjang dan pengaruh besar dalam dunia pendidikan pesantren.

Sejarah Berdirinya

Pesantren Al-Huda berdiri pada tahun 1939 di Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 24, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Kehadirannya bertepatan dengan lahirnya sejumlah pesantren besar lain di Garut yang kemudian menjadi pusat penyebaran ilmu keislaman di wilayah Priangan. Pendiri pesantren ini adalah KH. Sirojuddin Ama Biru, seorang ulama muda yang masyhur memiliki penguasaan mendalam terhadap ilmu-ilmu agama. Sebelum mendirikan Al-Huda, beliau terlebih dahulu membangun pesantren di Babakan Palah Cibolerang dan Kampung Nagrak Paledang. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam mengembangkan sistem pendidikan di Pesantren Al-Huda.

Menurut penuturan KH. Wildan Hilmi, cucu KH. Sirojuddin, sang pendiri mulai membangun pesantren ketika masih berusia sekitar 15 tahun. Beliau mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Syekh Adroi, serta gurunya, Kyai Abdul Malik. Ketekunan belajar sejak usia muda membentuk karakter kepemimpinan yang kemudian menjadi fondasi perkembangan Pesantren Al-Huda.

KH. Sirojuddin dikenal sebagai ulama yang mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari tauhid, tasawuf, hadis hingga ilmu alat. Penguasaan tersebut mendorongnya menyusun karya Syarah Jurumiyah Assirojiah, sebuah penjelasan terhadap kitab Jurumiyah yang menjadi rujukan dalam pembelajaran ilmu nahwu. Karya tersebut memperkuat identitas Pesantren Al-Huda sebagai pesantren yang memberikan perhatian besar terhadap penguasaan ilmu alat atau balaghah. Tradisi membaca kitab kuning secara mendalam menjadi ciri khas yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Perkembangan Pesantren

Pada masa awal berdiri, Pesantren Al-Huda memusatkan perhatian pada pendidikan salafiyah melalui kajian kitab kuning. Selain itu, pesantren juga mengembangkan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIH) sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat. Memasuki tahun ajaran 2008–2009, pengelola pesantren melakukan pembaruan sistem pendidikan. Pesantren mulai mengintegrasikan pendidikan salafiyah dengan pendidikan formal. Lembaga pendidikan seperti TK atau PAUD, SMP, hingga SMK hadir di lingkungan pesantren sehingga santri memperoleh pendidikan agama sekaligus pendidikan umum. Langkah tersebut memperlihatkan kemampuan pesantren dalam menjawab kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan identitas keislamannya.

Perjalanan panjang Pesantren Al-Huda melahirkan ribuan alumni yang mengabdi di berbagai bidang. Banyak di antara mereka menjadi pengasuh pesantren, guru, dai, akademisi hingga tokoh masyarakat. Salah satu alumni yang populer adsalah KH. M. Nuh Addawami. Namanya menjadi bukti bahwa sistem pendidikan Al-Huda mampu melahirkan kader ulama yang berkiprah di tingkat daerah maupun nasional. Dalam catatan NU Jawa Barat, KH. M. Nuh Addawami tercatat menempuh pendidikan paling lama di bawah bimbingan langsung KH. Sirojuddin atau Mama Siroj.

Kepemimpinan yang Berkesinambungan

Setelah KH. Sirojuddin wafat, kepemimpinan pesantren berlanjut kepada , KH. Ulumuddin Banani, yang memimpin sejak 1945 hingga 2009. Pada masa kepemimpinannya, Al-Huda berkembang pesat. Jumlah santri meningkat dan jaringan alumni semakin luas hingga menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.
Seusai KH. Ulumuddin Banani wafat pada 2009, estafet kepemimpinan diteruskan keluarga besar pesantren. KH. Wildan Hilmi memimpin pondok pesantren, sedangkan anggota keluarga lainnya mengelola berbagai bidang pendidikan serta KBIH Al-Huda. Pola regenerasi ini menunjukkan kuatnya kesinambungan visi pendidikan yang diwariskan para pendiri.

Hampir sembilan dekade sejak berdiri, Pesantren Al-Huda tetap mempertahankan karakter sebagai lembaga pendidikan Islam yang berpijak pada tradisi keilmuan klasik. Di saat yang sama, pesantren terus membuka ruang bagi pendidikan formal agar para santri mampu menghadapi tantangan zaman. Kehadiran pesantren ini membuktikan bahwa pendidikan Islam dapat berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya. Kajian kitab kuning, pembinaan akhlak, serta pendidikan formal berjalan berdampingan untuk membentuk generasi muslim yang berilmu, berkarakter, dan siap mengabdi kepada masyarakat. Warisan KH. Sirojuddin Ama Biru dan para penerusnya terus hidup melalui ribuan alumni yang tersebar di berbagai daerah. Mereka menjadi bukti bahwa Pesantren Al-Huda Garut bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga pusat lahirnya kader ulama dan pemimpin umat yang terus memberi manfaat bagi bangsa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.