Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamTokoh

KH Mahfudz Ridwan Mencari Jalan Menyejahterakan Umat

244
×

KH Mahfudz Ridwan Mencari Jalan Menyejahterakan Umat

Sebarkan artikel ini
kiai mahfud ridwan
KH Mahfudz Ridwan membangun Pesantren Edi Mancoro dengan konsep pendidikan yang memadukan ilmu agama, pemberdayaan ekonomi, dan pengabdian masyarakat.

P3M.OR.ID. Pendidikan sejatinya tidak berhenti pada penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang mampu menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat. Gagasan itulah yang sejak lama menjadi pijakan KH Mahfudz Ridwan Lc dalam mengembangkan Pondok Pesantren Edi Mancoro di Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Di tengah model pendidikan yang lebih banyak berorientasi pada capaian akademik, KH Mahfudz memilih jalan berbeda. Ia membangun pesantren yang memadukan pendidikan agama, pemberdayaan ekonomi, pengabdian sosial, serta pembentukan karakter kepemimpinan. Baginya, santri tidak cukup memahami kitab-kitab klasik, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat. Pemikiran tersebut lahir dari pengalaman panjangnya mendampingi masyarakat serta mengamati kehidupan para alumni pesantren. Ia melihat tidak sedikit lulusan pendidikan agama yang masih kesulitan menemukan peran setelah kembali ke lingkungan masing-masing.

Berawal dari Kegelisahan terhadap Lulusan Pendidikan

KH Mahfudz Ridwan mengamati banyak alumni pendidikan agama yang memiliki bekal keilmuan memadai, tetapi belum siap menghadapi persoalan sosial. Sebagian bahkan bergantung kepada masyarakat ketika menyelesaikan pendidikan. Pengalaman itu mendorongnya membangun model pendidikan alternatif. Beliau ingin santri memiliki keterampilan yang membuat mereka langsung mampu berkarya tanpa harus menunggu peluang pekerjaan datang.

Menurut KH Mahfudz, pendidikan harus melahirkan pribadi yang mandiri sekaligus bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. “Paling tidak, mereka bisa jadi manusia yang selepas pendidikan tidak menawarkan diri ke sana-kemari untuk memperoleh pekerjaan, tetapi langsung tahu apa yang harus dikerjakan,” ujarnya. Gagasan tersebut kemudian menjadi fondasi pendidikan di Pondok Pesantren Edi Mancoro yang berdiri sejak 1989.

Pesantren Edi Mancoro tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Santri juga mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat. Mereka belajar mengelola pertanian, perikanan, peternakan, hingga budidaya tanaman kayu sengon. Santri juga terlibat dalam pengelolaan koperasi dan lembaga keuangan berbasis syariah yang menggunakan sistem bagi hasil.

Melalui aktivitas tersebut, santri memahami cara membangun ekonomi masyarakat dari tingkat akar rumput. Mereka tidak sekadar mempelajari teori, tetapi langsung mempraktikkannya di lapangan. Model pembelajaran itu membuat santri terbiasa menghadapi persoalan nyata. Mereka belajar mengambil keputusan, bekerja sama, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.

Mahasiswa Menjadi Bagian Penting Sistem Pendidikan

Awalnya, KH Mahfudz mendirikan lokasi tersebut sebagai pusat pelatihan Yayasan Bina Masyarakat (YBM) yang fokus pada pengembangan masyarakat desa. Namun, ia melihat fasilitas yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal. Ketika kegiatan pelatihan tidak berlangsung, banyak waktu yang terbuang. Kiai mahfud kemudian membuka kesempatan bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam di Salatiga untuk tinggal dan belajar di pesantren. Lokasi kampus yang hanya berjarak sekitar lima kilometer membuat sistem tersebut berjalan efektif.

Mahasiswa tetap mengikuti kuliah seperti biasa. Seusai kuliah, mereka kembali ke pesantren untuk mengikuti pendidikan agama, pelatihan sosial, dan pendampingan masyarakat. Saat itu, Pondok Pesantren Edi Mancoro menampung 120 santri. Sebanyak 63 santri merupakan laki-laki dan 57 lainnya perempuan. Dari jumlah tersebut, hanya empat orang yang berstatus santri penuh tanpa kuliah.

Kegiatan santri berlangsung sejak selesai salat Subuh hingga pukul 06.15. Aktivitas berlanjut selepas Asar hingga pukul 17.30 dan kembali dimulai setelah Magrib hingga pukul 21.30. Sebanyak 14 pengajar membimbing para santri dalam berbagai bidang. Mereka membagi santri ke dalam beberapa kelompok berdasarkan kemampuan awal yang diperoleh melalui tes masuk. Menurut KH Mahfudz, pembelajaran tidak cukup berlangsung di ruang kelas. Santri harus turun langsung ke masyarakat agar memahami persoalan sosial secara utuh. Karena itu, pesantren menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk Bank Indonesia, dalam pelatihan manajemen dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dialog Lintas Agama Membentuk Wawasan Kebangsaan

Pesantren Edi Mancoro juga mengembangkan tradisi dialog lintas agama. Setiap bulan, pesantren mengundang pembicara dari berbagai institusi, termasuk lembaga pendidikan non-Islam. Melalui dialog tersebut, santri belajar memahami keberagaman masyarakat Indonesia. Mereka memperoleh pengalaman berdiskusi dengan kelompok berbeda tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

KH Mahfudz meyakini wawasan kebangsaan akan tumbuh ketika seseorang mengenal pihak lain secara terbuka. Karena itu, pendidikan toleransi menjadi bagian penting dalam sistem pembelajaran pesantren. Setiap tiga bulan sekali, pesantren juga mengirim santri mengikuti pelatihan di Jakarta, Malang, maupun Yogyakarta sesuai kebutuhan pembelajaran. “Dengan demikian, walau jumlah santri sedikit namun menghasilkan manusia yang bermakna bagi masyarakat,” kata KH Mahfudz.

Pembelajaran lapangan menjadi ciri khas Pesantren Edi Mancoro. Santri mendampingi sekitar 62 kelompok masyarakat binaan yayasan di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Kelompok tersebut bergerak di berbagai bidang, mulai simpan pinjam, pertanian, peternakan, hingga perikanan. Melalui pendampingan tersebut, santri mempelajari cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mereka juga belajar membangun motivasi, memperkuat kelembagaan, dan mendorong lahirnya kemandirian ekonomi. Pendekatan itu membuat pendidikan agama berjalan berdampingan dengan pengabdian sosial.Pemikiran KH Mahfudz tidak lahir secara instan. Ia menempuh perjalanan panjang mencari ilmu sejak usia muda.

Lahir di Pulutan, Salatiga, pada 10 Oktober 1941, ia berkeliling ke hampir 100 pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia bahkan pernah hanya bertahan satu minggu di sebuah pesantren sebelum berpindah mencari pengalaman baru. Pada usia 15 tahun, ia berangkat ke Makkah untuk melanjutkan pendidikan. Setelah menyelesaikan Aliyah Darul Ulum, ia memilih melanjutkan studi ke Baghdad University, Irak, bersama Achmad Hambali dan Abdul Hayi Nu’im. Kemudian kembali ke Indonesia pada 1970 setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Tetap Bertahan di Tengah Tekanan Politik

Perjalanan membangun lembaga swadaya masyarakat dan pesantren tidak selalu berjalan mulus. Pada masa Orde Baru, aktivitas pemberdayaan masyarakat sering menghadapi kecurigaan. KH Mahfudz mengaku beberapa kali mengalami tekanan dan intimidasi. Situasi semakin rumit ketika Pondok Pesantren Edi Mancoro sempat dikaitkan dengan peristiwa 27 Juli 1996 karena Budiman Sudjatmiko pernah tinggal di sana selama beberapa bulan. Namun, KH Mahfudz tetap memilih jalur damai. Ia terus mengembangkan pendidikan masyarakat dan memperkuat dialog lintas agama. Pada awal era Reformasi, ia juga memimpin aksi damai di Salatiga dan Ungaran sebagai bentuk partisipasi dalam perubahan sosial.

Bagi KH Mahfudz Ridwan, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama. Pesantren merupakan pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu melahirkan pemimpin, pendamping sosial, sekaligus penggerak ekonomi. Melalui Pesantren Edi Mancoro, ia menunjukkan bahwa santri dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Pendidikan agama, menurutnya, harus melahirkan kebermanfaatan yang nyata bagi masyarakat. Gagasan tersebut tetap relevan hingga kini ketika Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, semangat kebangsaan, dan kemampuan memberdayakan lingkungan sekitarnya.

Sumber : Kompas, 7 Juli 2000

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.