Pendidikan Quote Gus Dur
FigurKhazanah IslamPilihan Editor

Ahmad Tohari: Mentalitas Mendewakan Harta Jadi Akar Korupsi di Indonesia

278
×

Ahmad Tohari: Mentalitas Mendewakan Harta Jadi Akar Korupsi di Indonesia

Sebarkan artikel ini
korupsi
Ahmad Tohari menilai korupsi berakar dari mentalitas mendewakan harta. Kesederhanaan dinilai menjadi kunci hidup tenang dan bermakna. ( foto dok surau.co)

P3M.OR.ID. Pertanyaan besar tentang akar persoalan yang sebenarnya. Berbagai kasus yang melibatkan pejabat publik menunjukkan bahwa masalah korupsi tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum. Di balik itu, terdapat persoalan moral dan cara pandang hidup yang berkembang di tengah masyarakat. Sastrawan sekaligus budayawan Indonesia, Ahmad Tohari, menilai korupsi lahir dari mentalitas yang menempatkan kekayaan sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Menurutnya, sebagian orang memandang harta benda sebagai simbol eksistensi dan kehormatan sosial.

Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu menjelaskan bahwa banyak orang merasa lebih bernilai ketika memiliki kekayaan yang dapat ia pamerkan. “Orang merasa lebih eksis dengan kepemilikan benda, uang, atau mobil. Padahal sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa secara mutlak,” ujarnya melansir laman nu.or.id.  Menurut Ahmad Tohari, pola pikir seperti itu menjadi salah satu pemicu munculnya perilaku koruptif. Ketika kekayaan menjadi tujuan hidup, seseorang dapat tergoda menggunakan jabatan dan kekuasaan untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin.

Kekayaan Bukan Kepemilikan yang Abadi

Ahmad Tohari mengingatkan bahwa manusia sejatinya tidak memiliki apa pun secara permanen. Semua yang ia miliki hanya bersifat sementara dan akan hilang pada waktunya. Pandangan tersebut menjadi dasar pemikirannya dalam melihat berbagai persoalan sosial, termasuk korupsi. Ia menilai banyak orang terjebak dalam keinginan mempertahankan dan menambah kekayaan tanpa batas. Padahal, menurutnya, tidak ada kepemilikan yang benar-benar langgeng. Harta, aset, bahkan kehidupan manusia memiliki batas waktu yang tidak dapat terhindarkan.

“Untuk apa bersikukuh dengan aset yang kita miliki? Kepemilikan itu tidak langgeng,” katanya. Ia menegaskan bahwa kesadaran tentang sifat sementara harta benda dapat membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih bijaksana. Kesadaran itu juga dapat mengurangi dorongan untuk melakukan tindakan yang merugikan masyarakat demi memperoleh keuntungan pribadi. Selain mengkritik budaya yang terlalu mengagungkan kekayaan, Ahmad Tohari juga menawarkan jalan hidup yang menurutnya lebih menenangkan.  Kiai Tohari juga meyakini bahwa kebahagiaan lebih mudah menemukannya melalui kesederhanaan.

Menurutnya, semakin besar kekayaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula beban pikiran yang harus ditanggung. Banyak orang harus memikirkan cara menjaga, mengembangkan, dan mempertahankan aset yang mereka miliki. Kondisi itu sering kali menimbulkan kecemasan dan mengurangi ketenangan hidup. Karena itu, ia memilih menjalani kehidupan yang sederhana sebagai prinsip utama dalam kesehariannya. “Saya mengikuti kehidupan sederhana. Tema besar kehidupan saya adalah kesederhanaan. Semuanya saya sederhanakan, pakaian, makanan, rumah, bahkan angan-angan,” tuturnya.

Hidup Sederhana Bukan Berarti Hidup Kekurangan

Bagi Ahmad Tohari, kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup. Kesederhanaan merupakan cara untuk menjaga keseimbangan batin dan menghindari ketergantungan pada hal-hal material. Meski mengutamakan kesederhanaan, Ahmad Tohari menegaskan bahwa setiap orang tetap harus bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan layak. Ia tidak mengartikan hidup sederhana sebagai hidup dalam kemiskinan.

Menurutnya, seseorang harus memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan tersebut meliputi makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. “Jangan sampai kelaparan. Jangan sampai tidak punya uang untuk berobat ketika keluarga sakit,” katanya. Kiai Tohari menjelaskan bahwa konsep hidup sederhana berarti hidup secukupnya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, nilai tersebut telah lama ada sebagai sikap hidup yang tidak berlebihan.

“Bukan menjadi orang kere. Berkecukupan, tetapi tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup,” ujarnya. Pandangan itu menempatkan harta sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, bukan sebagai tujuan akhir yang harus mengejarnya tanpa batas. Di tengah kritiknya terhadap praktik korupsi, Ahmad Tohari tetap menekankan pentingnya tanggung jawab warga negara. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah membayar pajak.

ai Tohari  mengaku tetap memenuhi kewajiban pajaknya yang berasal dari royalti karya-karyanya serta investasi laoinnya. Menurutnya, kontribusi pajak yang beliau bayarkan mencapai sekitar Rp20 juta setiap tahun. Jumlah tersebut tergolong besar bagi seseorang yang tinggal di desa dan bukan pelaku usaha berskala besar. Namun, ia mengaku menjalankan kewajiban itu dengan ikhlas. “Negara ini memang membutuhkan biaya. Saya membayar pajak dan saya ikhlas,” katanya. Bagi Ahmad Tohari, keberadaan kasus korupsi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kewajiban sebagai warga negara. Masyarakat tetap harus berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui cara-cara yang benar dan bertanggung jawab.

Membangun Budaya Antikorupsi dari Kesadaran Moral

Ahmad Tohari menilai upaya memberantas korupsi tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Pencegahan juga harus dilakukan dengan membangun kesadaran moral dalam masyarakat. Selain itu lanjutnya percaya bahwa korupsi akan lebih mudah ditekan ketika masyarakat tidak lagi menjadikan kekayaan sebagai ukuran utama kesuksesan. Sebaliknya, masyarakat perlu menempatkan integritas, kesederhanaan, dan tanggung jawab sebagai nilai utama dalam kehidupan.

Menurutnya, ketika seseorang mampu hidup secukupnya dan tidak diperbudak oleh harta, ketenangan hidup akan lebih mudah diraih. “Kalau hidup secukupnya dan tidak diperbudak harta, orang akan lebih mudah merasa tenang dan berbahagia,” tegasnya. Pandangan Ahmad Tohari tersebut menjadi pengingat bahwa perang melawan korupsi tidak hanya berlangsung di ruang sidang atau lembaga penegak hukum. Perjuangan itu juga dimulai dari cara masyarakat memandang harta, kekuasaan, dan makna kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.