Pendidikan Quote Gus Dur
Dunia IslamKhazanah IslamPilihan Editor

Jejak Peradaban Islam di Perpustakaan Masjid Nabawi

282
×

Jejak Peradaban Islam di Perpustakaan Masjid Nabawi

Sebarkan artikel ini
perpustkaan
Perpustakaan Masjid Nabawi di Madinah menyimpan ribuan manuskrip langka dan menjadi destinasi edukasi favorit jemaah haji pasca ibadah.

P3M.OR.ID. Ribuan jemaah haji yang telah menyelesaikan rangkaian ibadah memiliki kesempatan untuk memperdalam wawasan keislaman. Salah satunya adalah melalui kunjungan ke Perpustakaan Masjid Nabawi di Madinah. Perpustakaan bersejarah ini kembali membuka layanan bagi para peziarah dari berbagai negara dan menawarkan akses ke koleksi ilmiah yang sangat kaya dalam suasana yang tenang serta kondusif untuk belajar.

Keberadaan perpustakaan tersebut tidak hanya menjadi pelengkap kompleks Masjid Nabawi. Lebih dari itu, perpustakaan ini menjadi salah satu pusat pelestarian warisan intelektual Islam yang paling penting di dunia. Kehadiran Perpustakaan Masjid Nabawi memberikan pengalaman berbeda karena pengunjung dapat mengakses berbagai sumber ilmu pengetahuan Islam yang tersimpan selama berabad-abad. Perpustakaan utama berada di sisi barat Masjid Nabawi dekat Tangga 10. Sementara itu, fasilitas khusus bagi peneliti perempuan tersedia di sisi utara dekat Gerbang 24 dan sisi barat laut dekat Gerbang 12. Lokasi yang strategis membuat perpustakaan mudah terjangkau oleh para pengunjung yang datang untuk beribadah maupun melakukan penelitian.

Menyimpan Harta Karun Intelektual Islam

Perpustakaan Masjid Nabawi dikenal sebagai salah satu perpustakaan tertua di dunia Islam. Koleksinya mencerminkan perjalanan panjang perkembangan ilmu pengetahuan Islam dari berbagai zaman. Di dalamnya tersimpan sekitar 4.000 manuskrip asli yang bernilai tinggi. Selain itu, perpustakaan juga memiliki hampir 60.000 manuskrip yang telah didigitalisasi dan difoto untuk menjaga kelestariannya.

Koleksi lainnya mencakup sekitar 4.600 materi multimedia dan lebih dari 250 salinan Al-Quran tulisan tangan yang langka. Jumlah tersebut menjadikan perpustakaan ini sebagai salah satu pusat dokumentasi manuskrip Islam terbesar di kawasan Timur Tengah. Tidak hanya itu, Departemen Manuskrip juga menyimpan lebih dari 600 manuskrip Al-Quran yang termasuk paling langka dan berharga di dunia. Koleksi tersebut menjadi daya tarik utama bagi peneliti sejarah Islam dan filologi dari berbagai negara.

Perjalanan Perpustakaan Masjid Nabawi tidak selalu berjalan mulus. Sejarah mencatat bahwa kebakaran besar yang melanda Masjid Nabawi pada 14 November 1481 turut menghanguskan lemari penyimpanan Al-Quran dan kitab-kitab penting. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan sehingga warisan keilmuan tersebut dapat diselamatkan dan dikembangkan kembali.

Perpustakaan ini mendapatkan perhatian besar setelah didirikan kembali pada masa pemerintahan Raja Abdulaziz Bin Abdulrahman Al Saud pada 1933. Pada masa itu, Ahmed Yasseen Al-Khayari ditunjuk sebagai pustakawan resmi pertama. Pengembangan fasilitas kemudian berlanjut hingga masa Raja Fahd Bin Abdulaziz Al Saud. Pada 1990, beliau meletakkan batu pertama proyek pengembangan Kamar Nabi dan Perpustakaan Masjid Nabawi.

Koleksi Mencapai Ratusan Ribu Buku

Saat ini, perpustakaan menempati area seluas 744 meter persegi di bagian atap barat Masjid Nabawi. Koleksinya mencapai lebih dari 172.548 buku yang tersusun dalam 541 lemari dengan 71 kategori keilmuan. Perpustakaan ini mampu menampung lebih dari 300 pengunjung setiap jam. Dalam setahun, jumlah pengunjungnya mencapai lebih dari 700 ribu orang.
Banyak koleksi berasal dari wakaf para ulama, penguasa, dan tokoh masyarakat sejak berabad-abad lalu. Di antaranya adalah perpustakaan milik Mohammed Al-Aziz Al-Wazir yang dihibahkan pada 1902.Selain buku cetak, perpustakaan juga menyimpan dokumen sejarah, surat-surat kuno, dan berbagai manuskrip asli yang memiliki nilai akademik tinggi.

Untuk memudahkan akses informasi, Perpustakaan Masjid Nabawi menghadirkan sistem katalog digital modern. Teknologi tersebut membantu peneliti menemukan referensi secara cepat dan akurat. Fasilitas yang tersedia juga sangat beragam. Pengunjung dapat memanfaatkan aula manuskrip, ruang buku langka, perpustakaan audio, area baca pria, area baca wanita, hingga perpustakaan anak. Perpustakaan digital menjadi salah satu layanan unggulan. Sebanyak 71 perangkat komputer terhubung ke jaringan internal yang memuat berbagai buku, materi audio, dan pelajaran yang berasal dari Masjid Nabawi. Koleksi digitalnya mencapai sekitar 146 ribu buku elektronik yang dapat diakses untuk mendukung kegiatan penelitian dan pembelajaran.

Perpustakaan Masjid Nabawi juga melayani pengunjung non-Arab melalui koleksi multibahasa. Tersedia buku dalam bahasa Urdu, Inggris, Prancis, Turki, Persia, dan Jerman.
Jumlah koleksi non-Arab mencapai lebih dari 2.400 buku cetak dan sekitar 7.000 buku elektronik dalam lebih dari 22 bahasa. Perpustakaan turut menyediakan enam eksemplar Al-Quran Braille dan puluhan buku bagi penyandang tunanetra. Langkah ini menunjukkan komitmen dalam memperluas akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Warisan Keilmuan

Peran besar Perpustakaan Masjid Nabawi dalam menjaga warisan ilmu pengetahuan Islam terus mendapatkan perhatian. Pada 2022, Yayasan Penelitian dan Arsip Raja Abdulaziz menerbitkan buku berjudul Perpustakaan Masjid Nabi: Sejarah dan Fakta.

Buku tersebut mengulas sejarah panjang perpustakaan, koleksi manuskrip langka, serta kontribusinya dalam menyebarkan ilmu pengetahuan selama berabad-abad.
Hingga kini, Perpustakaan Masjid Nabawi tetap menjadi simbol kejayaan tradisi keilmuan Islam. Keberadaannya tidak hanya melestarikan masa lalu, tetapi juga menjadi jembatan bagi generasi masa kini untuk memahami kekayaan intelektual peradaban Islam yang terus hidup di Kota Madinah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.