Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari Malang, Bermula dari Pengajian Sederhana hingga Lembaga Pendidikan Terpadu

494
×

Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari Malang, Bermula dari Pengajian Sederhana hingga Lembaga Pendidikan Terpadu

Sebarkan artikel ini
pesantren
Pesantren Al Islahiyah

P3M.OR.ID. Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah di Singosari, merupakan salah lembaga pendidikan Islam yang memiliki akar sejarah kuat. Selain itu pesantren yang berada di Malang ini juga berkaitan erat dengan jaringan ulama besar Nahdlatul Ulama. Pesantren ini lahir dari semangat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat sejak pertengahan abad ke-20. Para pendirinya membangun lembaga ini dengan tekad kuat untuk mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan mandiri.

Pada tahun 1955, Kiai Mahfudz Kholil bersama istrinya, Hasbiyah Hamid mendirikan pesantren ini. Nyai Hasbiyah merupakan putri dari KH. Abdul Hamid Hasbullah dan keponakan dari KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Latar belakang keluarga ulama ini memberikan warna tersendiri dalam perkembangan pesantren ini selanjutnya. Sedangkan Kiai Mahfudz sendiri memiliki hubungan dekat dengan KH. Masykur, Menteri Agama RI pada masa Presiden Soekarno.

Berawal dari Pengajian Rumah Tangga hingga Menjadi Pesantren Putri

Sejarah menyebut cikal bakal Pondok Pesantren Putri Al-Ishlahiyah bermula dari kegiatan pengajian yang berlangsung di rumah KH. Kholil Asy’ari bersama istrinya, Nyai Halimah, di wilayah Bungkuk, Singosari. Nyai Halimah secara aktif mengajar para remaja putri di lingkungan sekitar, menjadikan rumah tersebut sebagai pusat pembelajaran agama yang sederhana namun penuh makna. Tradisi pengajian ini terus berjalan hingga Nyai Halimah wafat pada tahun 1953.

Setelah seratus hari wafatnya Nyai Halimah, keluarga melanjutkan estafet dakwah dengan menikahkan salah satu putra KH. Kholil Asy’ari, yaitu H. Mahfudz, dengan Hasbiyah yang saat itu masih berusia muda. Nyai Hasbiyah kemudian mengambil peran penting sebagai pengajar, meneruskan kegiatan pengajian bagi remaja putri dan masyarakat sekitar. Peran aktifnya menjadi fondasi awal berkembangnya pesantren putri di kawasan tersebut.  Kemudian KH. Mahfudz bersama istrinya pindah ke rumah baru di Jalan Kramat, Singosari. Para santri yang sebelumnya belajar di rumah orang tua KH. Mahfudz ikut berpindah dan menetap bersama keluarga tersebut. Perpindahan ini menjadi titik awal terbentuknya komunitas santri yang lebih terorganisir.

Perkembangan Pesantren Seiring Geliat Pendidikan NU

Perkembangan Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah semakin pesat ketika KH. Masykur mendirikan PGANU (Pendidikan Guru Agama Nahdlatul Ulama) di lingkungan perguruan NU Singosari, yang kini dikenal sebagai Yayasan Pendidikan Almaarif. Kehadiran lembaga pendidikan tersebut menarik banyak pelajar dari luar daerah untuk menimba ilmu agama sekaligus mondok di kediaman KH. Mahfudz dan Hj. Hasbiyah. Melihat perkembangan tersebut, KH. Mahfudz mengambil langkah strategis dengan mengorganisasi para santri. Ia membentuk komisariat IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) yang diberi nama Al-Ishlah, yang berarti kemajuan dan perdamaian. Sejak saat itu, masyarakat mulai mengenal kediaman tersebut sebagai Pesantren Putri Al-Ishlah.

Jumlah santri yang menetap terus bertambah hingga mencapai sekitar 50 orang. Seiring waktu, nama Al-Ishlah berkembang menjadi Al-Ishlahiyah sebagai identitas resmi pesantren. KH. Mahfudz terus berinovasi dalam sistem pembelajaran agar pesantren mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional.

Transformasi Sistem Pendidikan dan Legalitas Lembaga

Pada tahun 1983, KH. Mahfudz merintis sistem pengajian klasikal melalui pendirian Madrasah Diniyah. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam modernisasi sistem pendidikan di pesantren. Pada tahun yang sama, ia juga memperkuat legalitas lembaga dengan mendaftarkan Yayasan Pesantren Al-Ishlahiyah. Upaya tersebut menunjukkan komitmen kuat dalam membangun pesantren yang tidak hanya berbasis tradisi, tetapi juga memiliki struktur kelembagaan yang jelas dan profesional. Namun, dua tahun setelahnya, KH. Mahfudz Kholil wafat saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1985. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus amanah besar bagi keluarga dan para santri untuk melanjutkan perjuangan.

Sepeninggal KH. Mahfudz, Hj. Hasbiyah Hamid bersama putra-putrinya melanjutkan kepemimpinan dan pengembangan pesantren. Mereka menjaga semangat pendiri sekaligus memperluas jangkauan pendidikan melalui berbagai unit kegiatan. Pesantren  yang beralamat di Jl. Kramat No. 81, Pa

gentan, Kec. Singosari, Kabupaten Malang. ini tidak hanya fokus pada pendidikan agama. Namun kemudian  membuka akses pendidikan formal dan keterampilan bagi masyarakat.
Yayasan Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah kini mengelola berbagai unit pendidikan dan sosial, mulai dari pondok pesantren putri dan putra, madrasah diniyah, hingga sekolah formal seperti SMK Terpadu. Selain itu, lembaga ini juga mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), play group, hingga sekolah kesetaraan. Bahkan, pesantren ini turut menghadirkan layanan sosial melalui PUAN Amal Hayati sebagai pusat pendampingan perempuan. Perkembangan terbaru juga mencakup pendirian SMP Takhassus Al-Ishlahiyah pada tahun 2022, yang semakin memperkuat posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan terpadu.
.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.