Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

Kiai Soleh Darat dan Warisannya yang Fenomenal

537
×

Kiai Soleh Darat dan Warisannya yang Fenomenal

Sebarkan artikel ini
Kiai
Gerbang makam Kiai Soleh Darat

P3M.OR.ID. Belum lama ini masyarakat Kota Semarang menggelar kirab budaya untuk memperingati haul Kiai Soleh Darat. Kegiatan yang digelar meriah dengan melibatkan masyarakat hingga kelompok rebana itu pun direncanakan menjadi agenda tahunan.

Mengenal Kiai Soleh adalah mengenal ulama yang berjasa besar perjalanan sejarah Islam di Indonesia.  Kiai Sholeh Darat lahir pada tahun 1235 Hijriah atau 1820 Masehi di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Sejak kecil belia hidup dalam tradisi keilmuan. Ayahnya merupakan ulama sekaligus pejuang yang pernah menjadi tangan kanan Pangeran Diponegoro. Masa kanak-kanak hingga remajanya bergelut mempelajari Al-Qur’an dan berbagai disiplin ilmu agama langsung dari ayahnya. Setelah itu memilih merantau ke berbagai daerah dan negara demi memperluas keilmuan.

Dalam catatan sejarah, KH Sholeh Darat melanjutkan pendalaman fiqih di Pesantren Waturoyo, Margoyoso, Kajen, Pati, kepada KH M. Syahid . Di pesantren ini beliau menggali pemahaman terhadap kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Minhajul Qawwim, Syarah al-Khatib hingga Fathul Wahab. Kemudian memperdalam Tafsir Jalalain kepada Kiai Raden Haji Muhammad Sholeh bin Asnawi di Kudus. Sedangkan di Semarang, ia belajar nahwu dan shorof kepada Kiai Ishak Damaran, serta belajar ilmu falak kepada Kiai Abdullah Muhammad bin Hadi Baquni, salah satu mufti terkemuka di wilayah tersebut. Pencarian ilmunya berlanjut kepada Sayid Ahmad Bafaqih Ba’alawi dan beberpa ulama lainnya.

Warisan Fenomenal

Semua proses tersebut mengasah ketajaman intelektualnya hingga ia memilih berlayar menuju Makkah. Di Tanah Suci, KH Sholeh Darat belajar kepada sejumlah ulama, termasuk Syekh Muhammad al-Muqri al-Mishri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah. Kemudian juga mengaji kepada  Mufti Mazhab Syafi’iyah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan. Setelah mendalami ilmu agama selama bertahun-tahun, beliau mendapat pengakuan sebagai pengajar di Masjidil Haram dan memiliki banyak murid dari berbagai negara. Namun setelah beberapa tahun mengajar memutuskan kembali ke Semarang.

Sekembali ke tanah air, KH Sholeh Darat mendirikan langgar kecil yang kemudian berkembang menjadi pusat kajian Islam. Kealimannya membuat banyak tokoh besar berguru kepadanya, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, bahkan tokoh emansipasi wanita Raden Ajeng Kartini. Dari RA Kartini pula lahir sebuah permintaan penting yang kemudian mendorong KH Sholeh Darat menulis karya monumentalnya, Tafsir Faidhur Rahman.

Kitab Faidhur Rahman menjadi salah satu karya paling berpengaruh karena KH Sholeh Darat menuliskannya menggunakan aksara Arab pegon agar masyarakat Jawa mudah memahami Al-Qur’an. Dalam catatan yang ia tulis sendiri, ia menegaskan bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah, umat tidak wajib menggunakan bahasa Arab, sebab Rasulullah menggunakan bahasa Arab karena berbicara kepada kaumnya.

Aksara Pegon

Penggunaan aksara pegon menjadi strategi kultural yang efektif pada masa kolonial ketika akses umat terhadap ilmu agama sangat terbatas. Melalui karya-karyanya, KH Sholeh Darat melakukan perlawanan ideologis terhadap kolonialisme dengan cara memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat.  Peran KH Sholeh Darat juga terlihat dalam jejaring keilmuan ulama Nusantara. Ia menjadi simpul penting penghubung antara ulama Jawa dan jaringan ulama internasional, terutama melalui masa belajarnya di Makkah selama lebih dari tiga dekade. Ia bahkan memperoleh ijazah mengajar di Masjidil Haram, sebuah legitimasi yang menunjukkan kedalaman ilmunya.

Dari berbagai karya dan muridnya, KH Sholeh Darat mewariskan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Ia menghadirkan karya tulis dalam bahasa lokal agar umat memahami agama dengan lebih mudah. Ia menjaga transmisi keilmuan melalui jalur guru-murid lintas generasi. Ia juga menunjukkan uswah hasanah sebagai ulama yang produktif, moderat, dan dekat dengan masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.