Pendidikan Quote Gus Dur
Dunia IslamKhazanah IslamPilihan Editor

Ketika RA Kartini Menemukan Cahaya Al-Qur’an Lewat Bahasa Jawa

463
×

Ketika RA Kartini Menemukan Cahaya Al-Qur’an Lewat Bahasa Jawa

Sebarkan artikel ini
Khazanah
RA Kartini salah satu yang mendorong Kiai Soleh Darat menyusun tafsir berbahasa Jawa berjudul Fayḍ al-Raḥman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malik al-Dayyan, ditulis dengan huruf Arab pegon.

P3M. OR.ID. Di tengah arus perubahan abad ke-19, lahir sebuah pertemuan yang berdampak besar antara tradisi keilmuan Islam. Pergulatan batin seorang perempuan Jawa bernama Raden Ajeng Kartini yang membuka jalan baru dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara. Pertemuannya dengan sang Guru, Kiai Soleh Darat memunculkan karya monumental yaitu tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa. Fayd al-Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malik al-Dayyan, ditulis dengan huruf Arab pegon adalah tafsir pertama

Kiai Sholeh Darat tidak sekadar menulis kitab tafsir namun jalan baru dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara dengan menghadirkan Al-Qur’an dalam bahasa yang dekat dengan masyarakat. Pada masa itu, tafsir umumnya ditulis dalam bahasa Arab saja. Hal ini menjadikan masyarakat kesulitan  mengaksesnya. Kalaupun ada terbatas pada kalangan santri dan ulama. Kiai Sholeh Darat melihat kenyataan ini sebagai tantangan besar.

Langkah ini bukan sekadar inovasi bahasa, melainkan bentuk keberpihakan. Beliau ingin Al-Qur’an tidak hanya menjadi milik elite pesantren, tetapi juga hadir di tengah petani, pedagang, hingga perempuan desa yang selama ini terpinggirkan oleh keterbatasan akses bahasa. Dalam konteks sosial saat itu, pilihan ini terbilang berani sekaligus revolusioner. Pada masa lampau di Semarang bagaimana tafsir ini diajarkan. Para santri duduk bersila, memegang kitab pegon, sementara sang kiai menjelaskan ayat demi ayat dengan bahasa Jawa yang sederhana, hangat, dan membumi. Tafsir ini tidak hanya menerjemahkan teks, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.

Titik balik

Di sinilah kisah Kartini menemukan titik baliknya. Dalam pergulatan batin yang ia tuangkan dalam kumpulan suratnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini mengungkapkan pengalaman spiritual yang mengubah cara pandangnya terhadap Al-Qur’an. Ia menulis, “Selama ini aku membaca Al-Qur’an, tetapi aku tidak mengerti isinya.” Pengakuan itu menunjukkan jarak yang ia rasakan terhadap kitab suci, meskipun ia hidup dalam lingkungan religius.

Melanisr laman nu.or.id, semuanya berubah ketika ia mendengar penjelasan Al-Qur’an melalui tafsir Kiai Sholeh Darat. Dalam suratnya, Kartini menulis dengan penuh haru, “Baru sekarang aku mengerti arti surat Al-Fatihah.” Kalimat ini bukan sekadar pengakuan intelektual, tetapi juga ledakan emosional seorang pencari makna. Tafsir Fayd al-Rahman menjadi jembatan yang menghubungkan Kartini dengan Al-Qur’an secara personal dan mendalam. Pengalaman tersebut bahkan membuat Kartini menitikkan air mata. Ia merasa untuk pertama kalinya benar-benar “mendengar” pesan Al-Qur’an, bukan sekadar melafalkannya. Tafsir berbahasa Jawa itu membuka ruang refleksi baru dalam dirinya, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa pemahaman agama tidak boleh terhalang oleh bahasa.

Kisah ini menunjukkan bahwa pendekatan Kiai Sholeh Darat tidak hanya berdampak pada kalangan santri, tetapi juga menjangkau perempuan terdidik seperti Kartini yang selama ini lebih akrab dengan literatur Barat. Tafsir ini berhasil menembus batas sosial, budaya, dan gender, sesuatu yang jarang terjadi pada masa itu. Lebih jauh, Fayd al-Rahman membuktikan bahwa bahasa daerah memiliki kekuatan besar sebagai medium dakwah. Bahasa Jawa dalam tafsir ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga ruang budaya yang hidup. Melalui bahasa tersebut, nilai-nilai Al-Qur’an hadir secara lebih dekat, lebih akrab, dan lebih menyentuh. Pertemuan antara Kartini dan tafsir Fayd al-Rahman bukan sekadar kisah sejarah, melainkan inspirasi lintas zaman. Ia menunjukkan bahwa ketika bahasa mendekatkan, maka wahyu akan terasa lebih hidup. Dan ketika wahyu benar-benar dipahami, maka ia tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan hingga menyentuh hati terdalam manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.